.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

SHIPPAIGAKU JEPANG : INSPIRASI PENANGANAN BENCANA NASIONAL

oleh : Ridwan Kharis

essay ini diikutkan dalam “ANNUAL ESSAY COMPETITION 2011″

 

Kita tidak banyak belajar dari kesuksesan. Kita belajar dari kegagalan”

Pendahuluan

Gempa dan Tsunami Jepang 2011

Jepang merupakan salah satu negara di Asia yang termasuk dalam deretan negara maju di dunia ini. Kemajuannya yang merata dalam berbagai bidang keberadaannya diperhitungkan oleh semua negara. Kesuksesannya membuat bangsa lain terkagum, tidak terkecuali bangsa Indonesia.

Salah satu cara Jepang meraih kesuksesannya yaitu dengan cara belajar dari kegagalan. Jangan heran jika di Jepang dikembangkan ilmu tentang kegagalan atau yang sering disebut dengan Shippaigaku. Dengan prinsip ini, Jepang mampu menghadapi segala permasalahan dengan optimis. Setiap kegagalan yang diperoleh disikapi dengan positif dijadikannya pelajaran yang berharga untuk meraih kesuksesan.

Secara geografis, Jepang terletak di daerah yang rawan terjadi gempa. Skala gempa yang terjadi di Jepang tegolong tinggi. Namun dengan Shippaigaku Jepang mampu memformulasikan kebijakan yang terkait dengan gempa dengan sangat baik sehingga apabila sewaktu-waktu terjadi gempa masyarakat Jepang sudah siap menghadapinya.

Sebagai negara yang berada di ring of fire (cincin api), kota-kota di Indonesia sangat rentan terhadap bencana gempa bumi, gelombang tsunami, ataupun letusan gunung berapi. Tidak ada salahnya jika kita belajar dari semangat Shippaigaku Jepang khususnya dalam hal penanganan bencana nasional.

 

Shippaigaku

Yotaro Hatamura, profesor Teknik Mesin

Istilah Shippaigaku pertama kali diperkenalkan oleh Takashi Tachibana, seorang kolumnis Jepang mengomentari studi yang dilakukan oleh Yotaro Hatamura, seorang profesor teknik mesin di The University of Tokyo. Shippai berarti gagal dan gaku berarti ilmu. Dengan kata lain shippaigaku berarti ilmu yang mempelajari tentang kegagalan.

Banyak sekali penyebab kegagalan seperti ketidaktahuan, ketidakpedulian, kelalaian, kesalahan prosedur, kekurangan dalta dan sebagainya. Sebagai contoh adalah kasus kebocoran reaktor nuklir Chernobil tahun 1986 yang memakan banyak korban. Kebocoran reaktor nuklir Chernobil yang menggemparkan dunia itu terjadi karena banyak sebab diantaranya adalah disain reaktor yang kurang baik dan sistem pengamanan yang lemah. Kasus kecelakaan atau kegagalan beserta sebab-sebabnya dirangkum secara sistematis ditulis oleh Prof Hatamura dalam sebuah buku. Buku itu mendapat  sambutan yang positif dari kalangan internasional.

Sejak saat itu berkembanglah ilmu baru bernama Shippaigaku atau ilmu tentag kegagalan. Konsepnya diterima banyak kalangan sehingga didirakanlah Asosiasi Ilmu tentang Kegagalan (ASF, Association for the Study of Failur). Meski awalnya dikhususkan untuk teknik mesin, shippaigaku diperluas wilayahnya ke bidang teknik lainnya bahkan juga masuk ke bidang manajemen karena beberapa kecelakaan/kegagalan disebebkan kesalahan di pihak manajemen.

Jepang dan Gempa-Tsunami

Wilayah Geografis Jepang berada pada empat lempeng teknonik sekaligus. Lempeng Okhots (Amerika Utara), Lempeng Urasia, Lempeng Psifik dan Lempeng Laut Philipna sehingga Jepang memiliki potensi gempa yang sangat tinggi. Setiap kali terjadi pergeseran tektonik pada lempeng manapun gempa akan terjadi di Jepang. Tidak hanya gempa, tsunami juga mengancam negeri sakura itu.

Namun demikian  Jepang tetap optimis menghadapinya. Bahkan sistem peringatan bahaya gempa yang dimiliki Jepang merupakan yang terbaik di dunia. Sebagai negara yang sangat sering dilanda gempa dan tsunami, Jepang memberikan perhatian besar dalam penelitian berbagai fenomena kegempaan sejak tahun 1965.

Kemampuan Jepang dalam penanggulangan bencana tidak hanya didukung oleh sarana prasarana yang memadai tetapi juga didukung oleh pemerintah dan seluruh warganya. Kesadaran antisipasi gempa maupun tsunami dibangun di masyarakat. Bangunan-bangunan dirancang tahan gempa. Dengan kata lain, semua komponen terintegrasi dalam hal penanganan bencana sebelum maupun pasca bencana membentuk sistem yang sangat baik.

Buku Learning from design Failures, Karya Y.Hatamura

Kesadaran bahwa Jepang selalu diguncang gempa membuat pemerintah selalu memberikan pelatihan rutin bagi warga. Wargapun menyambutnya dengan rajin mengikuti pelatihan tersebut. Manajemen bencana diajarkan sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Prosedur tetap manajemen bencana disosialisasikan ke seluruh lapisan masyarakat.

Warga jepang telah mempersiapkan tas atau rangsel berisi peralatan dan perlengkapan jika  sewaktu-waktu terjadi gempa atau tsunami. Peralatan penyelamatan gempa dengan mudah bisa dibeli di toko swalayan. Dengan kesiapan yang matang tersebut ketika bencana tiba, masyarakat tahu betul apa yang harus dilakukan, kapan menyelamatkan diri, harus pergi kemana, di mana tempat evakuasi, dan bagaimana bertahan hidup.

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 11 Maret 2011, gempa dan tsunami mengguncang Negeri Sakura itu. Gempa berkekuatan 9 skala Richter ini memicu tsunami setinggi 4-10 meter. Meski gempa kali ini tercatat sebagai gempa paling dahsyat dalam 140 tahun terakhir di Jepang, korban jiwa justru paling banyak disebabkan oleh sapuan gelombang tsunami, bukan karena gempa yang terjadi.

Hingga 10 hari setelah bencana, korban meninggal atau dilaporkan hilang tercatat 21.459 orang. Jumlah itu tergolong sedikit jika dibandingkan dengan kekuatan gempa dan tsunami yang menimpa Jepang.

Di Indonesia, pada bulan Okober 2010 terjadi tiga bencana alam yang beruntun yaitu banjir Waisor Papua, gempa dan tsunami di Mentawai, serta meletusnya Gunung Merapi. Korban meninggal pada banjir Wasior berjumlah 100 orang, gempa dan tsunami di Mentawai menewaskan 431 orang, dan letusan Merapi menelan 114 orang korban jiwa.

Sebelumnya, pada 27 Mei 2006 gempa 5,9 skala Richter juga mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya yang menewaskan 3.098 orang. Bencana paling parah tentu saja gempa bumi dan tsunami di Aceh, 26 Desember 2004, yang menelan korban jiwa hingga 230.000 orang. Melihat angka-angka tersebut sepertinya susah membayangkan apa jadinya jika gempa 9 skala Richter beserta tsunaminya yang menimpa Jepang menghajar Indonesia.

Jika gempa tsunami Aceh dan  Jepang sama-sama berkekuatan 9 skala Richter lalu mengapa jumlah korbannya berbeda jauh? Jawabannya adalah karena Jepang belajar dari tsunami yang terjadi di Aceh. Shippaigaku tidak hanya mempelajari kegagalan/bencana yang terjadi di Jepang saja tetapi juga yang terjadi di seluruh dunia.

Inspirasi bagi Indonesia

            Indonesia termasuk negara yang rawan gempa. Sejak tahun 2000 saja tercatat 17 kali gempa mulai dari 6 hingga 9 skala richter. Bahkan 3 di antaranya termasuk dalam daftar gempa bumi terdahsyat di dunia sejak 1900. Dalam hal banjir jangan ditanya. Di Jakarta saja sudah langganan banjir tahunan dan tiap 5 tahun sekali terjadi banjir besar. Belum lagi di daerah lain. Banyaknya gunung berapi aktif di Indonesia juga menjadi ancaman tersendiri.

Krisis multidimensi yang melanda Indonesia mengharuskan Indonesia lebih fokus lagi dalam hal penanganan bencana. Pemerintah membentuk BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) pada tahun 2008. Langkah ini cukup baik melihat potensi bencana yang mengancam Indonesia.

Namun bila dilihat dari namanya, badan ini seakan-akan bersifat reaktif yaitu menanggulangi bencana. Padahal ada yang lebih penting yaitu mencegah bencana atau bersifat preventif. Sedia payung sebelum hujan. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Banyak hal yang harus diperhatikan dalam mengatasi bencana mulai dari tindakan preventif, penyuluhan gempa, pembangunan infrastruktur tahan gempa, sistem deteksi dini yang mengandalkan riset dan teknologi, sistem informasi darurat, manajemen dan rehabilitasi pasca gempa. Bencana memang di luar kehendak kita, tugas kita adalah melakukan antisipasi yang maksimal sehingga dampak yang ditimbulkan bisa diminimalisir.

Belajar dari Jepang adalah bagaimana Indonesia bisa mulai melakukan “studi kegagalan” dalam manajemen bencana agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali dan terulang kembali. Terutama dalam hal melakukan penyuluhan yang benar mengenai bencana dengan berbasis kearifan lokal, inovasi dalam membangun sistem peringatan dini, serta pemberian keterampilan dalam hal evakuasi dan penanganan korban pascagempa. Penanganan ini meliputi dalam hal fisik maupun psikis, distribusi pangan, dapur umum, dan penempatan pengungsi.

Kegagalan penanganan pasca gempa sering kali kita lihat. Lambatnya komunikasi untuk melakukan evakuasi korban, distribusi bantuan, obat-obatan, serta pelayanan medis terus saja terjadi setiap ada bencana. Jika terencana dengan baik, tentunya hal ini tidak akan terjadi. Termasuk juga dalam pembangunan perumahan dan infrastruktur tahan gempa yang terjangkau masyarakat bisa dipersiapkan sebelumnya.

Bencana alam sering kali disebabkan adanya kerusakan lingkugan oleh ulah manusia. Banjir yang terjadi di berbagai daerah kebanyakan dikarenakan penebangan hutan. Kegagalan ini harus kita akui. Dari situ kita mulai membangun kesadaran ramah lingkungan dan melakukan gerakan reboisasi, pencegahan polusi air sungai maupun laut, serta moratorium hutan dalam jangka panjang. Koordinasi antar lembaga yang bersangkutan diperkuat kembali sehingga terbentuklah budaya masyarakat tentang kesadaran bencana alam.

Untuk melakukan semua perubahan itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak usaha yang harus dilakukan. Setiap usaha tidaklah selalu berhasil, tidak jarang kegagalan yang didapatkan. Harus menjalani try and error Lalu bagaimana menyikapi kegagalan? Kegagalan adalah keniscayaan dari proses pembalajaran. Dari sekian banyak kegagalan, semua haruslah dipelajari agar kegagalan yang sama tidak terulang lagi.

Seperti kata orang bijak, “Kita tidak banyak belajar dari kesuksesan. Kita belajar dari kegagalan.” Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik? Seperti apa kita menyikapi kegagalan akan menentukan apakah akan mengantarkan kita pada kesuksesan ataukah menjadi akhir perjalanan karena berputus asa. Kata Rasulullah SAW, “Orang yang beruntung adalah yang hari esok lebih baik dari sekarang”.

Semangat untuk belajar dari kegagalan seperti inilah yang harus digalakkan. Orang Indonesia, khususnya orang Jawa sebenarnya sudah mempelajari fenomena alam yang terjadi di masa lalu untuk dijadikan rujukan ketika terjadi bencana alam terjadi. Ilmu ini kemudian dikenal dengan ilmu titen. Namun, ilmu titen terkadang berbau mistis dan belum ilmiah. Untuk itu, tidak ada salahnya jika kita belajar dari Jepang dengan shippaigaku-nya.

Kegagalan dalam mengatasi bencana alam bukanlah untuk ditakuti kemudian ditutupi apalagi dimanipulasi, melainkan untuk diakui dan disadari. Keberanian untuk mengakui kegagalan harus dijadikan dorongan positif untuk membuat bangsa Indonesia menjadi lebih baik dan bermartabat. Jepang dengan shippaigaku-nya menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam berbagai bidang khususnya dalam menyikapi bencana yang sering melanda tanah air tercinta ini.

Daftar Pustaka

Idea Suciati,  2009,  Jepang di Mata Generasi Indonesia, The Japan Fondation, Jakarta

Anonim. Daftar gempa bumi di Indonesia, 2011,  http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gempa_bumi_di_Indonesia (diperoleh 24 Maret 2011)

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/03/22/171368-korban-tewas-dan-hilang-di-jepang-mencapai-21-ribu-orang (diperoleh 22 Maret 2011)

Fuziansyah Bachtar, 2009,  Ilmu tentang Kegagalan – Sebuah Pengantar, Infometrik,

http://www.infometrik.com/2009/09/ilmu-tentang-kegagalan-sebuah-pengantar/  (diperoleh 22 Maret 2011)


About these ads

5 comments on “SHIPPAIGAKU JEPANG : INSPIRASI PENANGANAN BENCANA NASIONAL

  1. M. Nizar
    18 Mei 2011

    mas, pinjam artikelnya ya, buat saya muat di majalah walhi Aceh, Tanah Rencong.
    sy akan cantumkan nama mas dan berbagai sumber lainnya.
    terima kasih seblumnya

    wass

    M. Nizar

  2. kangridwan
    18 Mei 2011

    waalaikum salam M.Nizar..

    Silakan dimuat, dengan senang hati. Bisa berbagi dengan saudara di tanah Rencong.
    Kalau tidak keberatan, setelah dimuat saya bisa dikirim majalahnya?

  3. Fuziansyah Bachtar
    18 Juni 2011

    Kang Ridwan, selamat ya atas tulisannya. Semoga ilmu shippaigaku bisa terus menyebar dan bermanfaat untuk semua…
    FYI, Prof. Hatamura sekarang ditunjuk menjadi ketua tim analisa shippaigaku di krisis radiasi nuklir di Jepang kemarin. Kita tunggu hasil laporannya.

  4. aan
    13 Januari 2013

    cen bakat nulis mas, njenengan ki…apik…

  5. Ping-balik: Seismic Isolation Base: Perlindungan Kerusakan Bangunan Akibat Gempa | sakuramerahjambu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12 Mei 2011 by in opini.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.087 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: