.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

”Maafkanlah!”, Bukan “Mintalah Maaf!”

Hari raya umat islam, Idul Fitri atau yang dikenal dengan Lebaran, di Indonesia memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan negara lain. Di negara berpenduduk muslim terbesar sedunia ini, momen Lebaran memberikan efek yang sangat besar bagi seluruh lapisan masyarakat. Tak peduli kaya maupun miskin, pejabat ataupun rakyat, hingga yang non muslim pun ikut merasakan semarak Lebaran ini. Saya akan mencoba menganalisa keunikan hari raya Idul Fitri bagi masyarakat Indonesia .

Ketika pra Lebaran, toko pakaian, toko makanan dan pasar menjadi lebih ramai dua kali lipat bahkan lebih dibanding hari biasanya. Masyarakat rela berdesak-desakan di tempat itu demi mempersiapkan hari istimewa tersebut. Meja tamu mendadak menjadi penuh toples berisi berbagai jenis makanan mulai dari nastel, astor, roti kacang, kacang bawang, kacang telur, roti keju, dan cemilan lainnya. Padahal biasanya hanya ada sebuah toples berisi makanan agak keras supaya tidak cepat habis yang nampang di atas meja tamu. Memakai pakaian baru menjadi sunnah muakad (sangat dianjurkan, mendekati wajib) untuk dipakai di hari raya. Rumah dicat lagi supaya kelihatan lebih baru, semua perabot rumah yang terlihat oleh mata dibersihkan sampai kinclong. Itulah kesibukan masyarakat kita ketika Pra Lebaran.

Malam Lebaran atau Malam takbiran menjadi malam terindah yang dinanti. Suara takbir berkumandang sahut-sahutan terdengar dari corong masjid dan suaru. Di tempat itu juga ramai orang berdatangan untuk menunaikan rukun islam ke3, zakat. Di kampung, anak-anak membawa obor menyusuri jalan sambil bertakbir mengagungkan nama Tuhan. Di pusat kota, anak-anak muda takbir keliling menggunakan mobil bak terbuka. Suara takbir mereka semakin menggetarkan hati dengan iringan suara Bedug. Suara Petasan dan kembang api pun ikut mengisi keindahan malam kemenangan ini.

Kartu lebaran via Pos kini tidak selaku zaman dulu. Sekarang sudah lebih modern. Para Remaja, Orang tua, hingga anak kecil disibukkan dengan ucapan lebaran di HP mereka. Kata-kata puitis yang didapat dari temannya difoward ke teman yang lain. Tidak perlu repot memang. Tapi malam itu menjadi malam yg melelahkan bagi jempol tangan yang berurusan dengan keypad HP. Facebook tidak kalah ramai. Status mereka juga mendadak puitis. “Gema takbir…”, “Banyaknya dosa…”, padahal status biasanya tidak bermutu ; “lagi maem nih”. Bagi yang memiliki hobi disain grafis berlomba-lomba adu kreatifitas membuat kartu lebaran. Diupload di FB dan teman-temannya ditag. “ini lho disain buatanku, bagus kan?”

Ada kalimat yang terkenal dan mungkin paling banyak ditulis di sms maupun di FB selama Lebaran ini. Pertama, Taqobbalallohu minna wa minkum, artinya semoga Alloh menerima amal kita semua, Amin. Kedua, Minal ‘aidzin wal faizin, Mohon maaf lahir dan batin. Karena 2 frase ini selalu bebarengan, banyak yang menyangka kalau Minal ‘aidzin wal faizin itu artinya Mohon maaf lahir dan batin. “Minal ‘aidzin ya..”. Padahal artinya berbeda jauh. Ketiga, di ujung sms tertulis “Fulan dan keluarga” padahal pengirimnya belum berkeluarga (punya istri/suami). Namun maksudnya mungkin keluarga itu lebih luas, jadi tak apa lah. Namanya anak muda, kreatif. Ada yang mengubahnya menjadi “Umam belum berkeluarga”, “Bayu pasti berkeluarga”, “Faqih dan istri”, “Yanuar dan Cut Mala”. Saya tidak mau kalah, “Ridwan dan calon istri”.

Apa inti dari ucapan lebaran di sms maupun di FB ? Setelah berpuitis sebagai muqoddimah, sebagian besar intinya adalah minta maaf. Sekali lagi, MINTA maaf. Setiap orang memiliki kesalahan, sengaja maupun tidak, lahir maupun batin, parah maupun ringan. Sudah sepantasnyalah Minta maaf. Itu namanya tahu diri. Namun, ada yang lebih mulia dari Minta maaf. Mau tahu? Yaitu MEMBERI Maaf, Atau memaafkan. Selama saya mempelajari Al-Quran belum saya temui perintah : Mintalah Maaf !. Yang ada, bahkan banyak adalah perintah : Maafkanlah.

  • Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya (Al-Baqoroh 109)
  • Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu (Ali Imron: 159)
  • Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al Maidah: 13)
  • maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. (Al Hijr: 85)

Mengapa demikian? Saya sempat mendiskusikannya di FB bersama-beberapa teman. Ada yang berpendapat karena memberi maaf lebih sulit daripada meminta maaf. Orang yang memaafkan memiliki hak untuk memberi maaf, tapi orang yang meminta maaf tidak memiliki hak untuk diberi maaf. Ada pula yang berpendapat : Karena islam mengajarkan untuk memberi, bukan meminta hingga dalam hal maaf. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di atas. Memberi lebih berkontribusi daripada meminta. Alloh maha memaafkan, bukan meminta maaf.

Maka dari itu, selain meminta maaf. Mari kita maafkan semua kesalahan orang-orang yang pernah berbuat salah pada kita. Tak peduli ia memintanya maupun tidak. Saya memodifikasi sms lebaran saya maupun kartu lebaran di FB. “Saya maafkan semua kesalahanmu, maka maafkanlah semua kesalahan saya. Kita saling memaafkan. Met idul Fitri 1431 H. Taqobbalallohu minna wa minkum”Saya rasa saya tepat menggunakan frase yang memang sudah tepat dan sering digunakan kebanyakan orang : “SALING MEMAAFKAN”, yang artinya saling memberi maaf. Bukan : “SALING MEMINTA MAAF”

Di atas karpet ruang tengah

Kutoarjo : 14 Sept 2010, 22:46

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 September 2010 by in opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: