.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

BerGelut dengan Waktu

Kisah ini merupakan kisah nyata….

Alhamdulillahirobbil’alamin, setelah berusaha hidup-hidupan (ga mati-matian), tokoh utama kita kali ini berhasil diterima di Universitas yang konon katanya terbaik di Indonesia. Dia diterima di fakultas yang juga konon katanya terbesar di dunia. Tepatnya di Jurusan Teknik Mesin & Industri (JTMI) yang ga pake konon, Jurusan terbesar di Fakultas itu. Hehe. Taukah siapa nama tokoh utama itu? Ridwan Kharis? Ya,tepat sekali. Tapi kali ini, kita panggil saja Ridwan. Biar ringkas.

Beruntung sekali Ridwan. Dia mendapatkan dosen yang “enak” (emang makanan?) di mata kuliah TI. Semester 1 Teknik Mesin memang ada mata kuliah Teknologi Informatika. Berbeda dengan teman lainnya, yang ga dapet dosen se”enak” Ridwan. Pak Jayan namanya. Di mana enaknnya?

Beliau menyadari, kemampuan mahasiswanya tentang TI berbeda-beda. Ada yang level tinggi, ada pula yang baru mengenal word & exel, itupun hanya sekedar bisa. Beliau memberi kebijakan, setiap mahasiswa menyiapkan materi tentang TI, terserah tentang apa, dan mempresentasikan ketika jam mata kuliah TI. Yang lain, tinggal mendengarkan dan bertanya jika kurang jelas. Enak bukan?? Tiap berangkat kuliah, mereka mendapatkan ilmu baru tentang TI, ada yang memperkenalkan software, sejarah TI, perkembangan terkini dll. Sama-sama enak, dosen maupun mahasiswa.

Tidak sampai disitu enaknya pak Jayan. Ketika ujian tengah semester,mereka tidak diberikan soal yang terlalu rumit. Menjawab beberapa pertanyaan, membuat artikel dan berpendapat. Mudah kan? Belum lagi, take home. Ya, UTS semester 1, mata kuliah TI dikerjakan di rumah.

Yah, itu baru mukoddimah cerita ini…

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan seterusnnya. Begitulah waktu berjalan. Terasa sangat cepat, bagi orang yang menikmatinya tentunya, termasuk si Ridwan dan teman-temannya. Mereka menikmati perkuliahan yang dijalani, terutama makul TI.

Tibalah Ujian Semester 1. Ujian semester pertama kalinya bagi mahasiswa. Ridwan berharap bisa menjalaninnya dengan lancar. Semoga Ujian TI sama seperti ketika UTS, harapnya dan teman-tamannya. Pucuk dicinta ulam tiba. Soal Ujian TI dikerjakan di rumah, membuat artikel & menjawab beberapa soal yang tidak begitu sulit. Mereka diberi waktu 2 hari untuk mengerjakan.

Dasar orang Indonesia (semoga tidak benar), Ridwan menunda pekerjaannya dan memilih mengerjakannya di akhir waktu. Mungkin karena sudah terbiasa sahur yang bagusnya di akhir waktu, ah itu hanya alasan saja. Deadline pengumpulannya hari rabu (070109) pukul 10.00. Selasa sore baru mengerjakan.

Bersama kedua kawannya, Robi & Arvan lumayan kalang kabut, Ridwan akhirnya menyelesaikan soal ujian TI ba’da isya.  Tinggal ngeprint. Yah, pak Jayan minta hardcopy bukan softcopy yang dikirim lewat email. Setelah diprint bisa tenang, esok pagi tinggal mengumpulkan dengan tenang.

Oalah, kebiasaannya emang susah diubah. Dia menunda pekerjaan terakhirnya, ngeprint jawaban soal ujian TI. Karena cukup lelah mengerjakan soal seharian, dia malah refresing. MAEN PS. Apa?? Sulit dipercaya memang, seorang maen PS sementara pekerjaannya belum beres. Itulah Ridwan yang dulu. (Sekarang??)

Rabu, jam 9 pagi dia berangkat ke Imagy (tempat ngeprint). Dia masih menyisakan 1 jam. Jadi tidak akan terlalu tergesa-gesa. Terlalu menyepelekan waktu, mungkin itu agak cocok diberikan padanya, dia tidak tahu kejadian apa yang akan terjadi padanya. Ia akan sangat menyesal di kemudian hari.

Setelah antri beberapa orang, tibalah gilirannya ngePrint. Jarum panjang sudah melewati angka 2. dia menancapkan flasdisknya kedalam computer. Pluk, tanda computer mendetek masuknya flasdis. Ketika membuka flasdisnya, dia kaget bukan kepalang. Jantungnya berdebar begitu cepat, darah mengalir begitu cepat, kepala terasa berdenyut. Flasdisnya kosong, eror.

“TIDAAAAKKKKK!”, ia berteriak dalam batinnya meski wajahnya masih tampak sedikit tenang. Sambil menggenjot sepedanya menuju kos, dia menyesali apa yang dilakukannya. Pelajaran hari itu, “JANGAN MENUNDA-NUNDA PEKERJAAN”. Dia sadar, bukan saatnya meratapi, tapi mencari solusi. Plan B.

“Van cepet, ke kosku, penting!! Garapanku ilang, Cepet!”. Arvan meletakkan makan paginya begitu mendengar panggilan darurat melalui HPnya. “Tunggu bentar Wan!”. Tanpa mandi dulu dia tergesa-gesa ke kos temen sePurworejo-nya itu. Sementara itu Ridwan menelpon Robi, pinjam flasdisnya. Parahnya, Robi sudah di kampus. Dengan meminjam motor temen kosnya, dia ngebut ke kampus, & ngrampok (hanya majas lho) flasdisk Robi.

Sesampai di kos, Arvan sudah menunggu sambil menyalakan laptopnya. Ridwan menancapkan fasdis Robi & mengEdit pekerjaan Robi. Dia sudah lupa (melupakan tepatnya) pesan Robi agar jangan sama plek. Ya, Ridwan hanya mengubah Nama dan font pekerjaan Robi (parah banget kan?). Tidak salah lagi, karena jarum jam di tangannya tidak mau berhenti sejenak saja. Waktu terus berputar.

Jarum panjang telah melewati angka 9, masih ada 15 menit untuk ngePrint. Dengan menaiki motor Arvan, mereka ngebut menuju imagy (tempat ngePrint,ga begitu jauh dari kos ridwan). Malang bagi mereka, banyak mahasiswa yang sedang ngantri di imagy. Tidak mungkin jika harus ngeprint di situ. Waktu tidak akan cukup. Otaknya berpikir sangat panas, bagaimana mengatasi masalah ini, bagaimana memenangkan pertarungan dengan waktu.

Akhirnya mereka menuju ke warnet Random. Di warnet biasanya ada jasa ngeprint. “Waduh mas, kertasnya tinggal sedikit. 16 lembar”. Kata penjaga warnet semakin membuat pikirannya makin kacau. Ia membuka data yang harus diprint. Tepat 16 lembar. Alhamdulillah, ucapnya. Namun, jantungnya masih saja senam, karena jika ada satu saja kesalahan pengeprinan, akan berantakan semua. Allah ternyata tidak menyia-nyiakan usaha hambanya.Pengeprinan berhasil. HPnya bergetar, sms dari Robi. “Cepet wan, udah pada mau bubar ni”. Ia tersadar kalau waktunya tinggal beberapa detik lagi.

Arvan mengebut motornya seperti orang kesurupan, sementara Ridwan berpegangan kencang sambil berdoa semoga dia memenangkan pertarungan dengan waktu ini. Sesampai di kampus JTMI Arvan memarkir motornya tidak di tempatnya. Pikirannya yang kalut membutakannya pada tulisan “Dilarang keras parkir di sini”. Mereka berdua berlari menuju ruang M1. Di dalamnya tinggal 2 orang petugas ujian dan beberapa glintir mahasiswa saja. Alhamdulillah, hanya karena pertolonganMu ya Allah, batinnya. Ingin rasanya ia sujud sukur saat itu juga. Akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh tokoh utama kita. Hahaha…

___

Banyak pelajaran yang bisa diambil, karena jika cerita tanpa hikmah, feelnya kurang dapet. Tentunya teman2 bisa mengambil hikmah dari cerita saya ini. Jangan menunda-nunda pekerjaan. Jangan berputus asa, usaha sekuat tenaga selama kemungkinan masih ada. Hadapi masalah, jangan lari dari masalah. Jangan lupa memohon pada yang Maha pemberi Pertolongan. Dan masih banyak lainnya, yang bisa teman2 cari sendiri..

Tugas pemandu riset

23 Juli 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 September 2010 by in Cerita Fiksi, hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: