.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Setelah Iqro!, maka Uktub !

Anda tahu Imam An Nawawi yang terkenal dengan Kitab Riyadhus Sholihinnya? Atau Karl Marx dengan Das Kapitalnya? Meski penulisnya sudah meninggal puluhan bahkan ratusan yang lalu, ilmu maupun pemikirannya masih hidup melalui karyanya, yaitu tulisannya. Ya, dengan menulis kita bisa mewariskan ilmu kita melintasi batas waktu.

Melalui tulisan pula, kita bisa mewujudkan cita-cita. Meski kita tidak mengalami terwujudnya cita-cita kita tapi akan ada orang lain yang membaca tulisan kita yang terpengaruh kemudian memperjuangkan cita-ita kita. Negara Israel Raya di tanah Palestina mungkin tidak akan terwujud jika 100 tahun sebelumnya seorang pemuka yahudi menuliskan buku visioner tentang terbentuknya Negara Israel Raya bagi orang-orang Yahudi.

Akhir-akhir ini saya tersadar bahwa menulis merupakan suatu hal yang penting. Dengan menulis kita bisa berbagi ide, berbagi pengalaman, berbagi ilmu, berbagi pemikiran kepad a orang lain. Dengan tulisan kita, orang bisa membacanya dimanasaja, kapan saja. Bahkan seseorang bisa diakui tingkat intelektualnya jika ia menghasilkan tulisan yang baik. Sebagai contoh, seorang yang ingin lulus S1 harus membuat skripsi terlebih dahulu.

Melalui tulisan pula kita bisa membentuk karakter suatu bangsa. Ada yang bilang : bagaimana kamu 20 tahun yang akan datang, tergantung dengan teman-temanmu dan apa yang kau baca sekarang. Saya sadari bahwa buku-buku yang pernah saya baca membentuk karakter saya saat ini. Saking begitu pentingnya membaca sampai-sampai ayat pertama yang turun adalah Bacalah! Jadi setelah kita membaca sesuatu , maka tulislah agar orang lain bisa membacanya.

Saya mungkin agak terlambat memulai suka dengan aktivitas membaca. Masih sangat ingat di kepala saya novel yang pertama kali saya baca hingga memantik kegemaran membaca saya adalah buku karya Habiburrahman El Shirazy : Ayat-Ayat Cinta. Sejak saat itu, SMA kelas2,  saya mulai gemar membaca. Saya jadi tahu asyiknya membaca. Tidak salah jika di tembok SD saya dulu ada tulisan : Membaca adalah Jendela Dunia.

Ternyata tidak semua buku atau tulisan itu bermutu. Tidak semua tulisan memberi dampak yang positif. Tidak sedikit tulisan yang membuat pembacanya teracuni pikirannya. Terjadilah perang tulisan, antara tulisan yang membangun kepribadian Manusia dan tulisan yang merusak Manusia, antara tulisan yang mendakwahkan pada kebaikan dan tulisan yang mendakwahkan pada kemaksiatan. Banyak novel-novel penggugah Jiwa yang inspiratif. Namun tidak sedikit pula novel yang mesum dan mengandung kekerasan.

Saya seorang muslim dan setiap muslim memiliki kewajiban untuk berdakwah atau mengajak orang lain pada kebaikan dan kebenaran. Amar ma’ruf nahi munkar bisa dilakukan  dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui tulisa, secara langsung maupun tidak. Banyak orang tergugah jiwanya setelah membaca Ayat-ayat Cinta, banyak orang terinspirasi setelah membaca Laskar Pelangi. Melalui tulisan, kita bisa menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran kepada semua orang.

Dengan menulis, Seseorang akan terus hidup di hati manusia meski ia telah meninggalkan dunia ini. Karyanya akan memberikan perubahan besar untuk dunia ini. Maka, Menulislah !! Ga peduli bermutu atau tidak, semua harus diawali dengan belajar jika kita ingin terbiasa menulis bermutu. Mulailah menulis ! Setelah Iqro’ (Bacalah) ! maka Uktub (Tulislah)!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 November 2010 by in hikmah, opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: