.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Ghosob & Bung Karno

Bagi Anda yang tinggal di kos-kosan, atau asrama pasti sering kehilangan barang, trus tiba-tiba balik sendiri. Ternyata barang itu diambil temen, tanpa ngomong dulu. Terkadang kita sampai klabakan mencari barang itu. Trus, tiba-tiba kawan kita dengan tanpa merasa berdosa mengembalikan barang itu sambil bilang : “Aku pinjem barangmu nih, makasih ya!”. Ghosob atau menggunakan barang yang bukan haknya merupakan perbuatan yang dilarang oleh agama. So, mari kita hilangkan kebiasaan buruk ini, mulai dari diri kita sendiri. Apalagi kini sudah ada HaPe yang mempermudah kita komunikasi. Meminjam status FB temen sekamar, Pramudya Arief Dwijanarko :

“jika dari sekarang anda sudah terbiasa meminjam barang tanpa izin pemiliknya,saat jadi pemimpin nanti apabila anda mengambil hak bawahan anda,anda pasti tidak merasa bersalah..”

Ada kisah menarik nih :

Kiai Wahab Hasbullah (Kiai pendiri NU) pernah melakukan kontekstualisasi kitab kuning yang judulnya Fathul Qorib yang kemudian oleh Bung Karno dijadikan sebagai dasar penyelesaian konflik Irian Barat antara Indonesia dan Belanda. Pemerintah kerajaan Belanda secara resmi pernah berjanji kepada pemerintahan RI, bahwa Irian Barat akan diserahkan kepada Indonesia pada tahun 1948. ternyata sampai tahun 1951 Belanda masih belum menyerahkan kedaulatan atas Irian Barat.

Setelah beberapa kali diadakan perundingan untuk menyelesaikan Irian Barat dan selalu gagal. Bung Karno kemudian menghubungi Kiai Wahab Hasbullah di Jombang.

Bung Karno menanyakan bagaimana hukumnya orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat?

Kiai Wahab menjawab, “hukumnya sama dengan orang yang ghosob”.

Apa artinya ghosob itu pak kiai? Tanya Bung Karno.

Ghosob itu istihqoqu malil ghoir bighoiri idznihi (menguasai hak milik orang lain tanpa izin), jawab Kiai Wahab.

Lalu bagaimana solusinya untuk menghadapi orang yang ghosob?

“Adakan perdamaian” jawab Kiai Wahab.

Lalu Bung Karno bertanya lagi, menurut insting pak Kiai apakah jika diadakan perundingan damai akan berhasil?

“tidak” jawab Kiai Wahab.

Lalu kenapa kita tidak potong kompas aja pak Kiai? Kata Bung Karno.

“tidak boleh potong kompas dari syari’ah, jawab kiai Wahab.

Selanjutnya, sesuai anjuran Kiai Wahab untuk berunding dengan Belanda. Bung Karno mengutus Subandrio untuk mengadakan perundingan konflik Irian Barat dengan Belanda. Perundingan inipun akhirnya gagal. Kegagalan inipun disampaikan oleh Bung Karno kepada Kiai Wahab.

Lalu Bung Karno Bertanya Lagi, pak Kiai apa solusi selanjutnya untuk menyelesaikan konflik Irian Barat.

Kiai Wahab menjawab, “akhodzahu qohrun” (ambil/kuasai dengan paksa).

Bung Karno bertanya lagi, apa rujukan pak Kiai dalam memutuskan masalah ini?

Kemudian Kiai Wahab menjawab, “saya mengambil literatur kitab Fathul Qorib dan syarahnya (al-Baijuri).

Setelah Bung Karno mantap dengan pendapat Kiai Wahab yang mengkontekstualisasi literatur kitab fathul qorib agar Irian Barat dikuasai (direbut) dengan paksa, kemudian Bung Karno membentuk Trikora (tiga komando rakyat).

3 comments on “Ghosob & Bung Karno

  1. Choksi Sona
    11 November 2010

    Aslmkm.wr.wb.
    Mas, aku suka bgt tulisan ini.
    Permasalahan klasik di kontrakan dulu dan di kosan kini,
    Lantas ketika kita adl ‘victim’ dari tindakan ghosob ini, apa yg musti kita lakukan?
    Haruskah kita amakan barang kita?
    TAk mgkn marah sma mereka, kan?
    Cz wlw bgmn-pun kita ttp ga bisa hidup tanpa mereka.
    ^_^

    • kangridwan
      11 November 2010

      Waalaikumsalam..
      kalo kita jd korban,
      1. Bedo’a, mumpung kita sedang terdzolimi, doanya makbul.
      2. Intstrospeksi, mungkin aja sandal kita mirip ama punya dia, coba dikasih nama.
      3. Menasehati dia kalo ghosob itu ga boleh, kewajiban kita utk menasehati sodara kita.
      4. Jika marah diperlukan, tak apa. Karena terkadang ada orang “ga mempan” kalo dikasih tau secara halus. Mungkin dengan marah yg elegan, akan lebih mengena buat si dia.
      5. Kalo udah nasehatin / marah2/ bikin note (kaya aku), jangan sekali-kali ghosob. Masah ngelarang2 malah nglakuin sendiri. Ntar “Kaburomaktan”

      • rema
        28 Februari 2013

        thank you………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 November 2010 by in hikmah, opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: