.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Juru Kunci, Cleaning Service, & Tukang Dawet

Beberapa hari terakhir ini, aku berinteraksi dengan tiga orang yang memiliki pekerjaan berbeda-beda. Pertama bertemu dengan Tukang Dawet, hari berikutnya dengan Cleaning Service, dan hari ini dengan Juru Kunci (bukan temannya Mbah Maridjan, tapi bener-bener juru kunci). Interaksi kami tidak hanya ketemu saja. Tetapi aku mewawancarai mereka. Bertanya tentang pekerjaannya dan sedikit tentang dirinya. Dan yang jelas, belajar serta mengambil hikmah dari mereka. Belajar dimanasaja, berguru pada siapa saja. Karena tidak membawa kamera, jadi aku tidak sempat mengambil foto mereka.

–          Tukang Dawet

(19-11) Sepulang kuliah, kerongkongan terasa kering, sangat dahaga. Butuh kesegaran. Di tengah perjalanan aku melihat pedagang “Dawet Ireng” di Bunderan Teknik (dekat MM). Dawet ireng merupakan produk terkenal asal Purworejo. Ketika bertemu penjualnya, ternyata memang benar, bosnya yang berasal dari Purworejo, meski ia sendiri asli Medan.

Aku lupa tidak bertanya beliau. Beliau yang sebelumnya tukang bikin roti/snack di Jalan Magelang ini baru jualan 3 hari sebagai tukang Dawet karena Pasarnya ditutup. Kebetulan ada teman asal Purworejo yang menawari jualan Dawet, sehingga ia masih bisa mengepulkan dapur untuk menghidupi istri dan kedua anaknya.

Di tahun ke-11 merantau di kota Pelajar ini, akhirnya beliau mencicipi pekerjaan baru sebagai tukang jualan Dawet, keliling naik motor. Per paketnya (es, dawet, dan perangkat di motornya) dalam satu hari setor 50 ribu. Laku tidak laku harus bayar segitu. Satu porsi es dawet seharga 2 ribu dan hari bisa laku hingga 40 Porsi.

“Berarti sehari bisa nyampe 30 ribu dong pak?”

“Ya nggak juga Mas, bensin kan belum diitung”, jawab bapaknya

Rasanya, khas Purworejo. Jadi Pengin Pulang. Akhirnya hari itu sorenya pulang juga ke Purworejo

–          Cleaning Service

(20-11) Kembali Ke Yogyakarta naik Prameks karena ada acara di kampus. Di dalam Prameks aku terpaksa duduk Lesehan di dekat pintu yang macet (Pintu Prameks udah ada yg rusak, ga bisa dibuka). Meski tidak Sesak, tapi kursi sudah penuh oleh penumpang. Seorang pria muda berseragam biru datang dan duduk lesehan juga di sampingku. Ia cleaning servis Prameks. Jika Anda pernah naik prameks pasti tidak asing dengan orang berseragam biru, penjaga kebersihan kereta.

Namanya Anto, 25 tahun. Menjadi CS di Prameks baru 5 bulan. Asli Magetan. Sebelumnya sudah pernah kerja di Jakarta dan surabaya. Sehari bekerja di Prameks dari jam setengah 6 pagi. Shiftnya 2 hari kerja 1 hari libur. Gajinya sesuai UMR Jogja. Total jika ditambah tunjangan, lebih dari 900 ribu, tidak sampai 1 juta. Senengnya : Punya banyak kenalan. Susahnya : Kalo pas hujan (ternyata prameks juga ada yang bocor)

Mas Anto ternyata sudah menikah setahun yang lalu. Istrinya asli Purwokerto.

“Sudah punya anak mas?”

“Alhamdulillah, istri sekarang lagi hamil tua, sudah 9 bulan. Tinggal nunggu lahirnya. “

“Semoga kelahiranya lancar, & anaknya sehat wal afiat mas”

“Amin”

–          Juru Kunci

(22-11) Hilangnya kunci lemariku (karena diamankan oleh Pram) memaksaku memanggil ahli kunci untuk membukanya. Setelah seminggu lebih memakai pakaian yang di luar lemari, akhirnya kutemukan kembali barang-barang pusakaku. Ngundang Juru kunci (lebih tepatnya jemput-antar) buat membuat kunci baru bayar 25 ribu (hasil tawar menawar, sebelumnya 30 ribu)

Namanya Ari, masih cukup Muda. Asli Lampung, tinggal di Jogja dan menjadi Juru kunci sekitar 2 tahun. Sebelumnya Pernah merantau ke Jakarta, Surabaya, dan Kalimantan. Lokasi lapak “juru kunci” nya cukup strategis. Juru kunci pertama yg ditemui dari arah Perempatan Ringroad Jalan Kaliurang. Sehari bisa dapet pelanggan hingga 100an. Buanyak. Tenaganya ada 3 orang.

“Mbagi duitnya gimana tu mas?”

“Sebulan digaji 450 ribu. Rame ga rame, Laris ga laris dapet segitu. Tinggal udah di rumah bosnya. Makan juga sudah ada. ” Jawab mas Ari

“Bosnya ikut nggarap ga?”

“Ga ikut, Cuma dateng kalo pagi sambil nganter anaknya sekolah. Dulu yang ngajarin saya juga langsung si bosnya. Dia udah ahli mas. Dulu tuh sini yang pertama di sepanjang ringroad ke atas. Jadi udah punya nama.” Papar mas Ari.

“Kalo ketrampilan gini, bisa buat bekal mas. Besok kalo balik ke Lampung bisa buka usaha ginian. Siapa tau mas Ari jadi Bosnya.”

Mas Ari tertawa.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Rasulullah Saw pernah bersabda, “demi Dia yang menggenggam hidupku, akan lebih baik bagi seseorang untuk mengambil seutas tali dan memotong kayu (di hutan) lalu membawanya dengan punggungnya dan menjualnya daripada meminta sesuatu kepada seseorang dan orang yang ia minta mungkin memberinya mungkin tidak”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 November 2010 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: