.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Kemasi Pakaianmu

“Kemasi Pakaianmu !”, perintah Ayahku.

“Kenapa Yah?”, tanyaku penasaran.

Ayah hanya tersenyum bijaksana. Tanpa banyak tanya, akupun mengikuti perintah Ayahku.

“Kita pindah”

Ayahku seorang pengusaha sukses. Bisnisnya sudah mencapai level internasional. Kebetulan kali ini dia ada meeting dengan mitra bisnisnya di Singapura. Dan untuk pertama kalinya aku diajak dalam perjalanan bisnisnya. Sebagai hadiah lomba cerdas cermat SD tingkat kabupaten yang aku juarai sepekan yang lalu. Kebetulan sekarang sedang libur karena kelas 6 sedang Ujian.

Hotel tempat kami menginap merupakan hotel terbaik di Singapura. Belum pernah kubayangkan sebelumnya. Bahkan yang pernah kulihat di TV lewat. Seharian aku dimanjakan dengan pelayanan terbaik dan kemewahan yang wah. Berenang di kolam renang yang indah, makanannya super nikmat, belanja sepuasnya, tidur di kamar spesial, dan disana-sini ketemu wanita yang cantik. Hidup serasa di surga.

Setelah seharian bersenang-senang, aku merebahkan badanku di tempat tidur yang empuk dengan udara sejuk dan wangi dari AC yang membuat lelahku terobati. Namun tiba-tiba saja ayah kembali dan mengajak pindah. Semoga saja nanti pindah di tempat yang jauh lebih joss dari hotel ini.

Taksi yang kami naiki berhenti di depan hotel yang biasa. Salah, lebih tepatnya penginapan biasa yang nampak kusam. Entah kenapa ayah mengajak pindah kesini. Tempat yang sangat tidak pantas aku tempati. Aku tidak berani menanyakannya. Banyak hal yang berkeliaran di kepalaku. Mungkin saja ayah akan membeli rumah dan tanah ini untuk mengembangkan bisnisnya. Atau mungkin ayah ingin mampir sebentar ke kawan lama.

Mimpi buruk itu menjadi kenyataan. Tempat itu menjadi hunianku saat ini. Kamarnya sempit, kasurnya keras serasa tanpa kasur, aku susah sekali untuk tidur. Untuk buang air saja harus antri karena. kamar mandinya hanya satu, bau lagi. Tidak ada AC, rasanya panas, belum lagi jika ditambah bau kamar mandi yang membuatku ingin mual. Serasa disiksa. 180 derajat dari sebelumnya. Aku ingin pulang saja.

“Kenapa Yah?” Belum selesai aku ingin menanyakan alasan Ayah mengajakku pindah kesini, Ayah telah memberiku senyum bijaksananya. Aku tidak jadi bertanya. Terpaksa malam itu aku menjadi malam terburuk dalam hidupku. Anehnya, ayah biasa saja, seperti ketika tidur di hotel. Menikmatinya dan bisa tidur nyenyak.

Pada hari ketiga masa penderitaanku, ayah bertanya padaku.

”Uki mau tau tidak kenapa kita harus pindah dari hotel yang mewah ke penginapan sederhana ini?” Aku pelan-pelan menganggukkan kepala.

“Ayah tidak punya uang?” Tanyaku penasaran. Namun ayah hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum bijaksana.

“Ayah ingin Uki belajar sesuatu dari perjalanan kita kali ini”

Kata-kata ayahku berikutnya tidak akan pernah kulupa sepanjang hidupku.

“Ayah ingin agar Uki mengerti. Hanya dengan belajar yang tekun, bekerja keras dan tidak lupa berdoa, Uki bisa menjadi pengusaha yang sukses. Pengusaha yang sukses tempatnya di hotel mewah tadi.” Ayah berhenti sejenak sambil mengelus rambutku. “Tanpa belajar yang tekun, bekerja keras dan berdoa, Uki mungkin bisa menjadi pengusaha, bisa jalan-jalan ke luar negeri, tapi tempatnya di sini” .

Ayah keluar kamar mengangkat telpon dari kawannya. Aku meresapi kata-kata ayahku sambil memandangi langit-langit kamar yang ada lubang kecilnya.

Hingga saat ini, puluhan tahun setelah kejadian itu, pelajaran dari Ayahku ini sangat membekas pada di hatiku dan mengubah drastis pola pikirku.

Terima kasih Ayah..

Tak terasa mobil yang kunaiki sudah sampai depan rumah. Setelah seharian rapat direksi yang memutuskan bahwa perusahaanku akan membuka kerjasama dengan salah satu perusahaan besar di Singapura, badan terasa lelah.

Ketika membuka pintu rumah, Sambutan hangat sang istri menghilangkan semua rasa lelah yg kurasa. Zaki, jagoan kecilku berlari mendekatiku. Kupeluk dengat hangat anak laki-lakiku ini.

“Bi, Abi, tadi pengumumannya keluar. Zaki dapet juara 1 lomba membuat cerpennya!”

“Oya?”

“Iya Bi, Farhan dapat juara  2, Nisa dapat juara 3. Katanya Abi mau ngasih Zaki hadiah kalau dapat juara satu?”

“Kemasi pakaianmu, kita akan jalan jalan…”

“Asyik… Kemana Bi ? “

Aku hanya tersenyum bijaksana. Membiarkan anakku menatapku penasaran.

Kita akan belajar Nak, belajar. Ujarku dalam hati.

 

26122010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 Desember 2010 by in Cerita Fiksi.
%d blogger menyukai ini: