.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Maaf ya Amirandah

“Wan, tugas kamu nanti jadi pengamanan Asmirandah ya!” Mas Angga, ketua FLP Yogya, ngasih gue tugas buat ngamanin Amirandah? Asmirandah si Artis cantik itu? Iya. Masak sih? Bener. Serius? Yee, masih ngeyel. Gue jitak juga lo!

Ya, semalam (6/1/11) kang Abik datang ke Maskam UGM ngisi talkshow tentang film terbarunya Dalam Mihrab Cinta. Beliau ngajak dua artisnya : Asmirandah & Boy (Burhan). Talk show ini diselenggarakan oleh FLP bekerjasama dengan Jamaah Sholahuddin. Awal ceritanya, Kang Abik yang siang harinya Promo film DMC di Ambarukmo Plaza bilang kalo malemnya kosong. Trus, beliau nawarin temen2 FLP gimana kalo ngadain Talkshow. Jadilah acara ini…

Jujur aja ya (ni bukan berarti biasanya ga jujur lho), gue ga terlalu histeris dengan Amiranda yang cantik itu & Boy yang ganteng kayak gue itu. Pesona kang Abik sangat terasa dari sikap dan kata-katanya yang keluar dari mulutnya. Meski cakep banget, kata2 yang keluar dari Amirandah & Boy sangat jauh berbobot ketika kemudian Kang Abik berbicara. Bahkan meskipun gue ga sempet poto ama mereka (habisnya mereka ga ngajak gue poto sih), khususnya Kang Abik, sepulang dari acara itu gue mendapatkan motivasi yg tinggi.

Dari Talkshow yg menurut gue berisi dakwah dan promosi, gue mencatat beberapa hal, khususnya nasehat / tausiah dari kang Abik.

Kang Abik bilang begini sering ada yang bilang kok karnyanya Kang Abik temanya dakwah melulu, jawabannya, beliau membuat karya memang diniatkan untuk dakwah. Ulama-ulama terdahulu banyak yang sebeumnya merupakan seorang sastrawan, seperti imam syafi’i. Sebelum dikenal sebagai ulama’, beliau merupakan seorang sastrawan hebat. Ada juga shabat yg merupakan sastrawan didoakan kebaikan oleh Rosulullah karena kemampuan bersastranya digunakan untuk membela agama Alloh.

Dakwah di era global seperti saat ini haruslah masuk semua lini. Tantangan dakwah saat ini jauh beda sama sebelumnya. Jangankan dengan dulu, dengan 20 tahun yang lalu saja sudah sangat jauh berbeda. Sebagai contoh, sebelum ada Facebook & sesudahnya itu memberikan efek yang jauh berbeda.

Sementara Rosulullah pernah bersabda agar kita mengatakan sesuatu sesuai dengan zamannya (redaksinya kurang jelas, intinya seperti itu). Asholah atau keaslian dakwah tetap dijaga, namun dalah hal wasailnya/ caranya bisa berganti sesuai perkembangan jaman. Film merupakan media propaganda yg paling efektif saat ini. Bisa dilihat film-film produksi hollywood yang memberikan propaganda besar pada pemikiran masyarakat dunia saat ini. Jadi umat islam tidak boleh ketinggalan. Jika tulisan hanya berupa tulisan yg dinikmati oleh satu panca indra yaitu mata, beda dengan film yang mata, telinga, hati ikut tergerakkan.

Umat islam tidak boleh ketinggalan zaman. Ketika kerajaan romawi membangun istana2 megah, umat muslim saat itu sempat minder. Kemudian salah satu kholifah di bani umayyah membuat istana yang besar dan masjid yang megah, bukan untuk berpamer-pamer atau bermegah-megah, tetapi untuk membela izzah (kehormatan) islam. Ini lho, kehebatan arsitek-arsitek muslim.

Salah satu pesan dari film DMC adalah agar anak anak muda sekarang pada mau berbuat Nekat, tapi Nekat dalam berbuat kebaikan.

Ada penanya yang komplain : Antara film dan novel bikinan kang Abik sangat berbeda. Banyak reduksi esensi makna yang ada pada novel ketika di filmkan. Terlebih dengan film AAC yang saat ini pemeran Aisyah,yang pada film itu sangat sholehah/islami pada kehidupan nyatanya sangat jauh bertolak belakang.

Kang abik menjawab demikian. Di awal-awal, beliau hanya menonton dari luar. Tidak terlibat langsung di lapangan ketika pembuatan film. Seperti Di atas Sajadah Cinta  & AAC sebenarnya banyak skrip yang diberi tanda oleh kang Abik untuk diubah. Pemilihan Aisyah-pun sebenarnya Kang Abik penginnya dapet artis dari Luar Negeri, karena Aisyah merupakan wanita blasteran Jerman-Palestina. Namun saat itu ketika kang Abik sedang di Singapore tiba-tiba di Jakarta ada konfrensi pers kalau pemeran-pemerannya sudah dipublikasikan.

Dalam dakwah, ada yang namanya Tadarruj, step by step. Di awal kenabian, Rosulullahpun melaluinya denga step by step. Smpat pula Rosulullah sujud di depan Ka’bah sementara sekelilingnya ada patung berhala. Kini Kang Abik tahu, untuk membuat film, penulis harus turun langsung ke lapangan. Film KCB & DMC kang abik terlibat langsung mulai dari Casting hingga produksi. Pemainnya pun akan diseleksi. Tidak hanya pintar akting, tapi bisa ngaji, dan terbuka untukeberaniank siapa saja.

Kang abik memberikan resep “Modal bikin cerpen / novel “. Pertama adalah Niat yg KUAT. Kedua adalah adanya keberanian untuk menulis dan dipublikasikan serta dikritik. Ketiga, milikilah ilmu tentang menulis.

Cobalah baca biografi, Hamka, Agus Salim, dan Natsir. Mereka adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Bahkan Agus Salmi yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah bisa menguasi banyak bahasa.

Sebagai close statement, kang abik memberikan nasehat : “Syukurilah nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, masa muda merupakan nikmat luar biasa. Manfaatkan sebaik mungkin karena kelak akan ditanya Alloh untuk apa masa muda kita habiskan. Bersungguh-sungguhlah dalam mencari ilmu. Ketika lelah, carilah hiburan dan hiburan itu bermanfaat.”

Menurut gue, kang Abik secara langsung maupun tidak udah ngebikin Asmiranda & artis-artisnya tercelupkan oleh dakwah Islam. Gue yakin, ketika Kang Abik ceramah dia merasa tersindir. Terlebih ketika Kang Abik bilang “Orang yang faham, setelah tau ilmunya akan segera mengamalkannya”. Asmirandah yang belum berjilbab dan katanya sekarang mulai suka ngumpulin jilbab ditanyai sama penonton apakah ada niatan mau pake Jilbab? Dia jawab, dalam proses perbaikan diri. Moga aja Amirandah bener2 beljilbab, tapi niatnya yang bener. Trus diikutin public figur lainnya.

Suer, gue bener-bener terinspirasi dengan kata-kata Kang Abik. Salut ama beliau. Semoga Alloh merahmati Kang Abik. Gue jadi tersemangati untuk menyalurkan energi masa muda gue untuk berbuat yang hebat. Mumpung masih Muda, daripada besok pas Tua Nyesel? Ampun dah.

Kalo tadi malem banyak yang terpesona sama kecantikan Asmiranda. Aku pengin bilang sama Asmi. Maaf ya Asmirandah, untuk malam ini saya lebih terpesona dengan Kang Abik.

Siprawan room

7/1/11

9 comments on “Maaf ya Amirandah

  1. Ulfa
    7 Januari 2011

    like this tenan, subhanallah, jazakallah Wan share ilmunya, aku g bisa datang jauhh malam2.
    jadi ikut semangat niii ^^

    • kangridwan
      7 Januari 2011

      makasih, sekedar berbagi.
      Semoga bermanfaat.

      Bayangin aja, kamu kelak yg duduk di depan jadi pembicara (insya Alloh).
      Pilih di tmpat duduknya Asmiranda ato di tempat duduknya kang Abik?

      • Ulfa
        7 Januari 2011

        siiip wan, bermanfaat bngt kok.
        aku pilih di kursi kang abik ^^

        berdakwah bisa lewat apa saja😀

  2. yova
    7 Januari 2011

    hahaha… mas angga kayaknya salah orang nek menitipkan si asmirandah ke kamu, wan

    • kangridwan
      7 Januari 2011

      weh, jangan salahkan mas angga mbak Yov,
      “serahkan sesuatu pada ahlinya”, mas angga udah tau tu hadis.

      hehe

    • Ulfa
      7 Januari 2011

      setuju mb Yova,,, ceeeep ^^

      • kangridwan
        8 Januari 2011

        -.-a

  3. Angga
    7 Januari 2011

    ehmmmm….. ya..ya…ya… jazakallahu khair… sip buat teman-teman semua!

  4. Lian Edogawa
    8 Januari 2011

    Wi keren bisa ketemu kang abik. Fuih semoga kapan2 gantian sya yg ketemu he he
    mengispirasi buanget:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Januari 2011 by in ngaji yuk, opini, Resensi, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: