.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Film Impor vs Film Lokal

Di zaman sekarang, dunia perfilman sudah menjadi hal yang tidak bisa dipisahakan dari suatu bangsa, termasuk Indonesia. Melalui film, masyarakat bisa menikmati hiburan untuk melepas lelah setelah melakukan aktivitas rutin harian. Film bisa digunakan sebagai sarana pendidikan yang cukup efektif. Nilai-nilai yang dibawa oleh film akan dengan mudah ditangkap oleh penonton, baik yang disampaikan secara langsung maupun tidak langsung.

Semakin hari, semakin banyak film yang diproduksi. Peran teknologi semakin meningkatkan kualitas film dengan efek-efeknya yang membuat terlihat semakin nyata. Dunia perfilman menjadi industri yang menjanjikan. Mulai dari penulis cerita, sutradara, artis, Production House, pemilik bioskop, mereka meraih untung dari industri ini. Pihak yang paling banyak merauk untung tentunya pihak Produser atau PH.

Era Globalisasi memaksa kita bermain di ranah Internasional. Film luar negeri membanjiri bioskop maupun layar televisi kita. Sementara film buatan dalam negeri atau film lokal masih terseok-seok untuk bersaing dengan film impor. Dalam hal kualitas maupun kuantitas film lokal bisa dikatakan tertinggal.

Dari segi kualitas, film-film Hollywood telah menggunakan teknologi animasi tingkat tinggi. Efek pada adegan perang terlihat seperti nyata, bahkan makhluk-makhluk di dunia fantasi terlihat seperti ada di dunia nyata. Sementara efek di film kita masih sangat kasar, bisa kita lihat dalam film yang ada efek ular, naga, kebakaran, dan yang lainnya. Film kartun luar negeri pun sudah menggunakan efek 3 dimensi, sementara kita belum bisa menandingi. Sebenarnya banyak animator Indonesia yang berkualitas tapi mereka belum dioptimalkan untuk menggarap film dalam negeri. Sebagian justru memilih untuk menggarapa film luar negeri. Sebagai contoh film Ipin & Upin yang animatornya ternyata orang Indonesia.

Dari segi kuantitas, kita juga masih tertinggal. Data menyebutkan bahwa produksi dan pemutaran film di bioskop, tahun 2007 film lokal berjumlah 54 judul dan film asing 205 judul, tahun 2008 berjumlah 91 judul film lokal dan film asing 144 judul, tahun 2009 terdapat 83 judul film lokal dan 156 judul film asing, dan tahun 2010 terdapat 70 judul film lokal dan 249 judul film asing.

Dengan kata lain, ruang publik kita ternyata masih didominasi oleh produk asing. Kita belum sepenuhnya merdeka di negeri sendiri. Sistem perpajakan yang ada justru menguntungkan film impor. Sebagai perbandingan, film impor dikenai pajak Rp50 juta untuk satu film sedangkan film nasional yang biaya produksinya Rp5 miliar, kena pajak Rp500 juta. Suatu hal yang sangat ironi. Pantaslah jika Deddy Mizwar mengatakan demikian “Seolah kita bangsa tempe, tidak berani dengan bangsa barat. Bioskop itu didekte oleh Amerika Serikat”.

Untuk mewujudkan perfilman Indonesia yang berkualitas sehingga bisa bersaing dengan film luar negeri diperlukan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah diharapkan bisa membuat aturan yang bisa membuat persaingan ini sehat dan tentunya meningkatkan kualitas dan kuantitas film lokal. Kita berharap perfilman Indonesia bisa lebih maju dan bisa mendidik bangsa untuk menjadi lebih baik.

Bioskop Indonesia akan lebih banyak diwarnai oleh film Indonesia seperti yang telah tertulis dalam UU No. 33 tahun 2009 bahwa bioskop memutar film nasional sebesar 60 persen. Tentunya dengan film yang bermutu. Bukan film porno berkedok film horror yang sering kita dengar sekarang.

Jayalah perfilman Indonesia !

—–

dimuat di :

http://kampus.okezone.com/read/2011/02/23/95/427829/film-impor-vs-film-lokal

 

22 Feb 11, setelah dievaluasi bang Ikhsan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 Februari 2011 by in opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: