.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Delapan Juta & Enam Milyar

Kali ini (25 Maret) aku sholat Jumat di Masjid Kampus UGM atau yang sering disebut Maskam UGM. Masjid ini emang agak aneh. Biasanya masjid namanya Al xxxxx, atau nama tokoh. Lha masjid Universitas terbesar ini ga punya nama. Trus namanya apa? Ya itu tadi : MASJID KAMPUS. Ga percaya? Terserah Anda.

Tiga Jumat terakhir aku sholat Jumat di Maskam. Selain khotib nya keren, seusai sholat Jumat di Maskam ada semacam pasar tiban. Ada yang jualan buku, roti, VCD, Peci, Baju, Antena, Madu, Minyak wangi, sandal, dan yang lainnya. Harganya lumayan bersahabat. Biasanya ramai hanya satu jam. Setelah itu mereka berkemas-kemas. Maklum, namanya juga pasar tiban.

sempat nampang di maskam

sempat nampang di depan maskam

Maskam sangat besar. Bahkan katanya merupakan Masjid terbesar se Jateng DIY. Mungkin karena kompleksnya juga dihitung. Ada TK, area Parkir, taman, kolam, selasar, dll. Keindahannya? Jangan ditanya. Lampunya, marmernya, kaligrafinya, tamannya, kolamnya, semua memiliki nilai estetika yang tinggi. Pertama datang ke Maskam saya masih ingat dulu ketika SMA ada acara table manner dan mampir di Maskam.

“Subhanalloh, masjidnya bagus banget” aku hanya bergumam. Sempat kepikiran, “jangan-jangan kelak gue bakal sering kesini (jadi anak UGM)”. Jujur waktu itu saya tidak berpikir untuk ke UGM. Kok bisa ke UGM ? Hmm… kisahnya ada lagi. Mungkin di episode lain.

Di Masjid ini, aku pernah melihat langsung orang-orang terkenal. Ada Yusril Isa Mahendra yang waktu itu menjadi khotib kemudian menuntut mualaf yang masuk islam. Amin Rais, Abu Bakar Ba’asyir, Hidayat Nur Wahid, Yunahar Ilyas pernah mengisi di Maskam. Untuk tokoh islam yang terkenal bisa mudah dijumpai terutama ketika tarawih. Mereka mengisi ceramah.

Ada juga beberapa tokoh yang diriku terlibat langsung di acaranya. Waktu itu pak Nur Mahmudi Ismail (Presiden pertama Partai Keadilan, Mantan Menteri Kehutanan, wali kota Depok) mengisi dialog peradaban dan aku kebetulan menjadi MC. Pernah juga Habiburrahman El Sirazy bersama artis DMC nya : Asmirandah dan Boy Hamzah mengisi Talk Show di Maskam. Sebagai anak baru FLP, aku dimintai tolong menjadi panitia.

Lalu apa hubungannya dengan 8 Juta ? Apalagi 6 Milyar. Ngomongin apa ngomongin duit sih.

Santai kawan, ceritaku belum kelar, makanya sabar.

Jadi begini, siang tadi sebelum khotib naik mimbar seperti biasa ada pengumuman dari takmir. “Jumlah infak sholat Jumat kemarin …., harap hape dimatikan.., tolong kotak infak diedarkan..”. Pengumuman seperti itu di desaku tidak ada, tapi di Jogja, hampir di semua masjid sebelum mulai khotbah ada pengumuman seperti itu. Maklum, saya dari desa.

“Alhamdulillah, untuk infak Jumat minggu kemarin sebesar delapan juta empat ratus ribu sekian sekian “. Wow, aku kaget. Subhanalloh. Infak Jumat Maskam memang besar, bahkan tebesar se Jogja. Biasanya berkisar antara 4 – 6 Juta. Kali ini 8 Juta, luar biasa.

Masjid Istiqomah di kampungku saja kalau infak jumatnya dikumpulkan selama setahun ga bakalan sampai segitu. Mungkin baru 2 tahun untuk sampai 8 Juta. Tiap Jumat saja jika mendapat 150 ribu itu sudah luar biasa. Seperti nama masjid kampungku, mungkin para Jamaahnya istiqomah berinfak segitu. Kalau ga receh, uang seribuan yang udah kumel. Uang 5 ribu itu sudah mewah.

Kembali ke Maskam. Jumat pekan lalu, ada pengumuman :” Akan dibangun menara Masjid setinggi 68 meter, sebanyak 12 pasak bumi sudah ditanam”. Ckckck, luar biasa. Masjid kebanggaan UGM ini bakal tambah megah dengan Menaranya.

“Mas, menaranya mau dibangun di sebelah mana ya?” Tanyaku penasaran kepada mas penjual minyak wangi.

“Di sebelah selatan sama utara mas, ada dua. Tau ga, biayanya. 3 Milyar mas. Itu untuk satu menara. Jadi habisnya 6 Milyar.”

Saya hanya geleng-geleng.  Enam Milyar? Apa tidak berlebihan itu? Ah, abang ini mungkin salah dengar. Saya sendiri belum sempat croscek ke Takmir atau anak JS yang mungkin lebih tahu. Jika memang 6 Milyar, sangat disayangkan sekali. Mending digunakan sebagai dana penyokong dakwah di UGM.

Jadi teringat masa-masa perjuangan bersama teman-teman KMT yang ketika mengadakan acara pasti terkendala dengan Dana. Dananya sedikit, jadi harus diirit. Kalau ngundang pembicara untuk ngirit apresiasinya berupa Plakat, terkadang cukup dengan “Syukron ustad”. Dana yang pas-pasan menjadikan acaranya juga pas-pasan. Andai saja uang itu bisa diberdayakan untuk kawan-kawan SKI se UGM.

Atau mungkin karena infak Jumat Maskam yang terlalu besar jadi bingung untuk menyalurkan kemana trus di gunakan untuk membangun menara mewah itu. Padahal masih banyak orang-orang miskin yang butuh bantuan. Banyak pengangguran butuh modal. Ah, mungkin para pemegang kebijakan memiliki pertimbangan tersendiri.

Semoga saja masjid-masjid yang lain bisa menghimpun dana besar seperti Maskam. Terlebih lagi masjid kampungku. Semoga kelak ngisi 5 ribu di kampungku menjadi nilai minimum, bukan hal mewah lagi. Dan tentunya, uang-uang itu bisa bermanfaat sebaik-baiknya untuk kesejahteraan umat, seperti di zaman Umar bin Khottob yang uang kas tidak boleh diam, tapi harus berputar.

 

Jaka Sembung makan pepaya, kalo ada yang ga nyambung maap ya

Kamar pojok Asrama Pemimpin Masa Depan

25 Maret 2011 15:38

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 Maret 2011 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: