.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Weekend di kereta Progo

                Sering malam mingguan? Ngapain aja? Ngapel? Ngaji pekanan? Atau pualng kampung? Atau malah ga ada bedanya antara malam minggu dengan malam yang lainnya?

Biasanya, malam minggu menjadi malam yang beda dengan yang lain. Kenapa? Karena mungkin setelah sepekan penuh bekerja, baru bisa libur a atau menikmati liburan di malam minggu. Berakhir pekan gitu. Bahasa trendnya : Weekend. Sampai ada lagunya: Malem minggu aye pergi ke bioskop, dll.

Sebentar, jangan-jangan kalian belum tau arti malam minggu? Malam minggu itu hari sabtu malam. Bukan Munggu malam. Jadi, malam minggu beda sama minggu malam. Kalau minggu malam itu namanya malam senin.

Oke Prend, saya akan bercerita pada kalian tentang weekend saya yang tiga kali berurutan berhubungan dengan kereta Progo. Kereta yang membawa penumpang dari Lempuyangan-Yogya dan berakhir di Pasar Senin – Jakarta.

perjalanan FIM di Progo

Tanggal 22 April, Jumat sore saya berangkat ke UI-Depok. Lebih tepatnya ke kantor pusat PPSDMS untuk mengikuti pelatihan MHMMD. Saya berangkat sendiri : Mbolang. Tanggal 26 April, Kamis sore brangkat ke wiladatika-Cibubur, mengikuti acara Forum Indonesia Muda. Kali ini bersama rombongan dari Jogja, 11 orang. Terakhir 7 Mei, malam minggu saya berangkat ke Purwokerto diminta mengisi pelatihan Jurnalistik di UnSoed. Lagi-lagi Mbolang, sendirian.

Apa yang ingin saya ceritakan ya?

Hmm…

Kereta Progo termasuk kelas ekonomi. Bukan bisnis, apalagi eksekutif. Pernah naik kereta ekonomi? Itu loh, yang selalu penuh dengan “wong cilik”. Sumpek, panas, banyak pedagan asongan, penjual “Mijon”, sering ada foging (baca:orang merokok sembarangan), dan WC nya seringkali tidak dapat digunakan.

Dari dulu (seperti yang sudah sering saya ceritakan) jika bepergian jauh saya lebih memilih naek kereta ekonomi. Saya bisa berkenalan dengan banyak orang, bisa mempelajari karakter & berbagi pengalaman.

Pak Turiman, seorang pelaut

Ketika ke Cibubur misalnya, saya berkenalan dengan seorang bapak yang bekerja sebagai awak kapal. Kebetulan waktu itu sedang hangat berita tentang disanderanya kapal Indonesia oleh Perompak Somalia. Pak Turiman namanya. Dia bercerita banyak kisah pelayarannya yang sering berakhir selama satu tahun. Bagaimana karakter orang-orang yang disinggahinya. Dari sabang sampai merauke sudah ia jelajahi.

Pernah kapalnya digunakan warga untuk berlindung di malam hari karena waktu itu di Poso sedang ada konflik. Tiap singgah di Negara-negara asing ia membeli oleh-oleh khas untuk dibawa pulang. Pak Turiman pengin berhenti dan membuka usaha mandiri. Sebelas tahun menjadi awak kapal membuatnya jarang berinteraksi dengan keluarganya.

Lain cerita lagi, ketika saya berangkat ke Purwokerto. Saya mendengar suara kokok ayam. Saya perkirakan itu lebih dari satu.

“Wah, kok ada yang bawa ayam ya?”, suara saya aga ketus.

“Oh, itu ayam saya Dek”, ternyata pemiliknya adalah orang di depan saya persis. Saya jadi malu sendiri.

Stasiun Purwokerto

Pak Yanto namanya. Dia membawa 14 ayam jantan, ayam petarung untuk dijual di pasar Jatinegara. Setiap malam minggu beliau membawa daganganya dengan Progo. Satu ayam harga belinya sekitar 200 ribu. Dijual bisa untung dua kali lipat. Kalian bisa hitung, kira-kira untungnya berapa. Sesekali terdengar suara “Kukuruyuk”. Aseli, bukan ringtone. Itu ayamnya pak Yanto.

Tahukah kalian dimana ayam-ayam itu ditaruh? Bukan! Bukan di bawah kolong kursi. Tapi di dalam toilet. Nah lo. Jadi, orang-orang di Gerbong saya ini jika kebelet terpaksa harus ke gerbong tetangga. Saya yang waktu itu duduk di sambungan Gerbong, dekat toilet, lumayan merasakan aroma  khasnya.

Ada yang ingin saya ceritakan lagi pada kalian.

Saya memiliki kebiasaan tidur di kolong kursi. Apa? Tidak percaya? Serius !! Ketika ke Jakarta dan juga kembali ke Jogja saya melakukan kebiasaan itu. Saya selalu membawa koran sebagai alas. Karena perjalanan dilakukan di malam hari dan enaknya tidur, akan tidak nyaman jika tidur di kursi dalam posisi duduk. Sering kali salah posisi, sering pula kesodok-sodok penjual asongan.

Saya permisi sama penumpang sebelah untuk menggelar koran di bawah, kemudian saya tidur di kolong. Saya bisa tidur dengan berbaring atau miring. Bisa leluasa. Biasanya, tidur mulai jam 9 dan bangun jam 3 pagi. Sementara itu, tempat duduk saya bisa saya infakkan sementara untuk penumpang yang tidak kebagian tempat duduk.

Tidak jarang, ketika terbangun kondisi di kiri kanan saya berbeda dengan sebelum tidur. Ada kulit kacang, isi salak, atau botol akua ksong. Bagi kalian mungkin jorok. Tapi bagi saya, saya menikmatinya. Bangun-bangun badan segar. Siap beraktivitas di pagi hari tanpa terlihat kekurangan tidur.

mbolang bersama kawan2 dari UGM, UMY, UNS, Unair,di Jatinegara

2 comments on “Weekend di kereta Progo

  1. Gilang
    10 Mei 2011

    fotoku mana lee…. masa g ada…???

  2. Ping-balik: Progo, Pengasong, dan Pelayanan | .: Petualang Kehidupan :.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Mei 2011 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: