.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Iman dan Ujian (Ngaji ust. Syatori)

                Setelah jarang ikut KRPH (Kajian Rutin Pagi Hari) karena tempat tinggal sekarang lumayan jauh ke Mardiyah tidak seperti ketika di Pogung, saya merasa kering pada aspek ruhiyah. KRPH yang rutin setiap hari kamis dan sabtu (serta selasa khusus putri) selama ini mampu memenuhi kebutuhan rohani saya, selain kajian lainnya tentunya.

                Kini saya menemukan waktu yang pas buat ngaji. Bersama ustadz Syatori Abdul Rauf di Masjid Pogung Dalangan (MPD) setiap ba’da Maghrib sampai isya. Sore tadi (24 Mei 2011) saya mengikutinya. Dan kegersangan hati terasa terobati. Saya akan berbagi pada Anda. Akan lebih baik jika Anda datang langsung ke MPD tiap selasa malam.

Iman dan Ujian


 Pertemuan kali ini membahas surat Al Ankabut ayat 1-3. Pertemuan berikutnya Insya Allah juga akan mengkaji surat Al Ankabut.

1. Alif laam miim, 2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? 3. Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Setiap orang yang menyatakan bahwa dirinya beriman, akan diuji. Huruf hamzah pada kata “ahasibannaas” menunjukkan bahwa kalimat tanya itu bersifat ingkar, maksudnya pertanyaan yang tidak perlu jawaban. Bahwa Ujian merupakan kepastian yang akan diberikan pada orang beriman.

Pertanyaannya untuk apa ujian itu diberikan ? Jawabannya ada pada ayat ketiga, untuk tau mana yang benar-benar beriman dan mana yang dusta. Jadi tujuannya adalah sebagai tansih atau seleksi antara yang beriman shodqu dan beriman kadzbin. Karena hanya ada 2 pilihan Imannya benar, atau bohong. Tidak pilihan lain.

Lalu apa batasan antara iman yang jujur dan iman yang bohong? Batasannya adalah pada pikiran dan perasaan. Bagaimana pikiran dan perasaan hanya bias dipengaruhi oleh Allah SWT saja.

Contoh: Ketika kita kehilangan uang, bagaimana perasaan kita? Sedih kah? Ada yang bilang “wajar dong, kalau sedih”. Namun, bagi orang beriman ia tidak akan sedih. Mengapa? Orang yang beriman kepada Allah pasti beriman kepada Rosulullah. Syahadat tauhid dan syahadat rosul itu sepaket. Rosul pernah bersabda

Barang siapa kehilangan harta karena sebab apapun, kemudian ikhlas, menerima dengan lapang, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, lebih banyak. Bagaimana? Akankah sedih ? Orang beriman ketika kehilangan harta akan ikhlas & menerima karena percaya bahwa Allah akan menggantinya.

Banyak orang yang mengaku beriman pada Allah tapi tidak percaya kepada Allah. Mengapa? Karena PASTI,pikiran dan perasaan kita dipengaruhi oleh apa yang kita percayai. Misal : Seseorang percaya bahwa di bawah pohon beringin dekat kuburan ada penunggunya. Maka ketika ia lewat pikiran dan perasaannya pasti terpengaruh. Beda dengan orang yang tidak percaya, ia tidak akan terpengaruh dengan semua itu.

Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang beriman akan merasa senang ketika melakukan kebaikan dan merasa susah ketika melakukan kejelekan.

Iman merupakan Nuur, cahaya. Ketika orang mengaku “aku beriman”, maka ia telah memasang lampu. Tapi Lampu tersebut tidak akan menerangi jika tidak dinyalakan.Sama saja gelap. Maka dari itu, tidak cukup sekedar mengaku aku beriman jika tidak dinyalakan imannya. Cahaya iman yang terang akan menyinari pikiran dan pikiran.

Ada 2 penghalang cahaya iman untuk bisa menyinari perasaan dan pikiran kita, yaitu subhat dan syahwat. Subhat menghalangi pikiran kita sementara syahwat menghalangi perasaan kita.

  1. Subhat

Subhat merupakan persepsi yang keliru sehingga kita menyimpulkan segala sesuatu merupakan peristiwa dunia. Padahal segala yang kita lakukan di dunia ini tidak semata-mata peristiwa dunia, tapi juga peristiwa akhirat.

Contoh: Ketika sakit sedih atau tidak? Rosulllah bersabda ketika menjenguk sahabatnya yang sakit : Sakit itu tidak apa-apa, sakit itu mensucikan. Di hadits lain dikatakan bahwa sakit merupakan sarana penghapus dosa. Jadi, Ketika sakit dilihat sebagai peristiwa akhirat ia akan senang karena artinya Allah sayang ia dengan melebur dosanya,

Dunia dipandang sebagai wadah dan akhirat dipandang sebagai isi. Isi lebih penting daripada wadah, meski tidak berarti kemudian tidak mempedulikan wadah. Mencari dunia merupakan amal akhirat. Orang beriman akan mencari dunia sebanyak-banyaknya, menjadi kaya tapi ia ingin menikmatinya di akhirat. Lebih mementingkan isi daripada wadah

  1. Syahwat

Jika subhat menjadi penghalang pikiran maka syahwat menghalangi perasaan. Ketika Syahwat menguasai perasaan, seseorang tidak akan mampu merasakan kelezatan suasana akhirat.

Contoh: syahwat nonton bola (bukan bermain bola ya, bermain bola bisa diniatkan sebagai peristiwa akhirat: menyehatkan badan). Misal Ada Big Match antara MU vs Madrid jam 19.15. Jam tujuh malam sedang sholat isya di masjid, tp imamnya bacaannya lama, sholatnya juga lama. Orang yang terserang syahwat nonton bola tidak akan mampu merasakan nikmatnya sholat berjamaah. Mengapa? Karena perasaannya telah tertutup oleh syahwat.

Ujian iman ada dua macam. Ada ujian yang menyenangkan dan adapula ujian yang tidak menyenangkan. Seringkali orang bisa menghadapi ujian yang tidak menyenangkan. Namun ujian yang menyenangkan lebih susah dibanding ujian yang tidak menyenangkan

 24.5.11

Iklan

One comment on “Iman dan Ujian (Ngaji ust. Syatori)

  1. fir
    26 Mei 2011

    lalu bagaimana cara mengatasi ujian yang menyenangkan? sedangkan itu adalah hal yang bagi saya sangat super sulit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 Mei 2011 by in hikmah, ngaji yuk.
%d blogger menyukai ini: