.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

SAKSI

“Berdasarkan kesaksian para saksi, hakim memutuskan Saudara Fulan dijatuhi hukuman 2 tahun penjara ditambah denda 2 juta rupiah” Tok tok tok, Ketok palu terdengar pertanda putusan telah final.

Sahabat, saya yakin Anda tidak terlalus sulit membayangkan gambaran prolog di atas. Dalam sebuah persidangan, seorang terdakwa diputuskan mendapatkan suatu hukuman dengan pertimbangan adanya kesaksian dari saksi.

Anda pernah mengalaminya? Atau mungkin menjadi saksi suatu persidangan? Keberadaan saksi sangatlah penting. Saksi bisa memberatkan dan bisa pula meringankan suatu hukuman. Begitu pentingnya saksi ada lembaga yang dibentuk untuk melindungi saksi.

Dalam kasus-kasus besar di Indonesia, sering kita lihat persidangan (yang kadang disiarkan secara langsung) di Televisi yang menghadirkan saksi kunci, saksi ahli, dan lainnya. Kasus korupsi, terorisme hingga kasusnya artis. Terkadang tidak jarang kita temui saksi palsu. Bagaimana mungkin seorang saksi  dan saksi lainnya memiliki kesaksian berbeda. Itu berarti salah satu ada yang berbohong.

Lagi-lagi saya ingin mengatakan tentang pentingnya saksi. Dalam suatu perjanjian / akad harus ada saksinya. Sertifikat tanah, utang piutang, jual beli, hingga pernikahan menuntut adanya saksi. Ketika menuduh seorang berzina misalnya, dalam hukum islam harus mendatangkan minimal 4 orang saksi. Dalam jual beli, ada 2 orang saksi.

Kita tidak bisa menuduh seseorang berzina, yang hukumannya sangat berat : Rajam, jika saksinya tidak mencapai 4 orang. Pernikahan tidak akan sah tanpa adanya saksi, saksi merupakan salah satu syarat sahnya pernikahan. Semakin banyak saksi maka suatu tuduhan (entah baik atau buruk) akan semakin kuat.

Persidangan

Kelak akan datang hari dimana manusia dibangkitkan dari alam kubur setelah kiamat terjadi. Dalam masa transisi dari alam kubur ke alam akhirat ini ada suatu persidangan. Ada laporan pertanggungjawaban tentang apa saja yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

Amal-amal di dunia akan ditimbang. Jika amal kebaikannya lebih berat dari amal keburukannya maka ia akan masuk surga. Sebaliknya, jika jika amal buruknya lebih berat maka nerakalah tempatnya. Hakim yang mengadili kita adalah seadil-adilnya hakim. Tidak bisa disogok, tidak bisa disuap. Dan taukah siapa yang akan menjadi saksi?

“Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Surat 24 ayat 24)

Di hari itu, mulut kita terkunci. Kita tidak bisa melakukan pembelaan. Saksilah yang akan mengiyakan atau menolak tuntutan. Ketika malaikat mengatakan : “Paiman bin Paimin pada hari x tanggal y jam z, menunda-nunda sholatnya karena asik bermain internet ”, maka saksi-saksi itu akan mengiyakan. Bukan orang lain yang menjadi saksi, tapi tangan, kaki, lidah.

Ngeri bukan ?

Maka dari itu, mari kita buat saksi sebanyak-banyaknya yang meringankan kita di hari persidangan kelak. Ketika tangan hendak melakukan maksiat, ingat tangan ini kelak akan bersaksi. Ketika kaki akan melangkah ke tempat maksiat, ingat kaki ini kelak akan menjadi saksi. Ketika lidah akan mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat, ingat lidah juga akan menjadi saksi. Saksi yang tidak akan berbohong.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 Mei 2011 by in hikmah, ngaji yuk, opini.
%d blogger menyukai ini: