.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

ISLAM dan SENI

Ketika mendengar kata seni, apa yang terbesik dalam pikiran Anda ? Sebuah puisi? Lukisan? Nyanyian? Pementasan?

Apapun itu, saya yakin jawabannya tidak jauh dari kata keindahan. Dalam ensiklopedi Indonesia dikatakan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengen prantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar, indera penglihat, atau dilahirkan dengan perantaraan gerak.

Sudah menjadi fitrah, bahwa manusia menyukai keindahan. Seseorang akan senang ketika melihat hamparan sawah yang menghijau dengan panorama khas pedesaan. Mengapa demikian, karena itu merupakan bentuk keindahan. Demikian juga halnya dengan nyanyian, puisi, yang juga melambangkan keindahan. Manusia akan menyukainya.

Salah satu mukjizat AlQuran adalah bahasanya yang sangat indah, sehingga Abdul Walid, sastrawan terbaik Arab yang diutus pemimpin Quraisy untuk menantang keindahan Al Quran, langsung mengakui keindahan Al Quran tak tertandingi. Dalam membaca Al Quran pun kita dituntut ntuk menggabungkan keindahan suara dengan ketepatan bacaan tajwidnya. Rasllah bersabda ; “Hiasilah Al-Quran dengan suaramu”.

“Innallaha Jamil Wa Yuhibbul Jamal “, Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, kata Rosulullah. Manusia menyukai keindahan karena efek dari keindahan Allah SWT. Al Jamiil (Yang Maha Indah) pun merupakan slah satu dari nama-nama Allah SWT

Islam menyeru umatnya untuk bisa merasakan, menikmati serta mentadaburi keindahan. Maka dari itu tidak ada larangan bagi umat islam untuk mengekspresikan keindahan yang ada dalam benak mereka. Dalam hal ini tentunya Islam sebagai suatu agama yang syamil memberikan panduan agar kreativitas yang dihasilakan umatnya bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan umat manusia. Tidak dibiarkan sembarangan tanpa arah yang akhirnya menimbulkan mudharat.

Dalam Islam, puisi dan sastra serta seni dalam artian yang lebih luas, harus memiliki tujuan yang jelas. Seni haruslah mampu mempertemukan secara sempurna antara keindahan dan alhaq (kebenaran). Keindahan adalah hakikat dari pencipataan dan al haq adalah puncak dari segala keindahan. Keindahan adalah salah satu sebab tumbuh dan kokohnya keimanan.

Sebaliknya, islam melarang umatnya untuk menikmati dan mengekspresikan tindakan-tindakan yang telah secara tegas dilarang agama. Seni bukanlah sekedar pamer aurat, mendendangkan liring-lirik jorok, pameran lukisan telanjang, juga bukan menyuarakan sajak-sajak porno. Mengekspresikan keindahan tidak perlu sambil menenggak bir ketika membaca puisi, melakukan adegan-adegan yang tidak seharusnya dilakukan dengan muhrimnya.

“Dan diantara manusia(ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu sebagai olok-olokan. Mereka itu memperoleh azab yang menghinakan.” (Luqman:6)

Muhandis Nasyid

Jikalau kata-kata dalam nyanyian merupakan perkataan-perkataan yang tidak berguna bahkan menyesatkan manusia dari jalan Allah, maka hukumnya adalah HARAM. Nyanyian-nyanyian yang membuat manusia terlena, mengkhayalkan hal-hal yang tidak patut maka kesenian tersebut haram hukumnya.

Terkait dengan hukum nyanyian, ada pendapat yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. Keduanya memiliki hujjahnya masing-masing. Dalam hal ini, penulis mengambil pendapat DR. Yusuf Qardhawi dalam bukunya “Fatwa-fatwa Kontemporer”, hal-hal yang harus diperhatikan dalam hal nyanyian antara lain :
1.    Tidak semua nyanyian hukumnya mubah, karena isinya harus sesuai dengan etika islami dan ajaran-ajarannya.
2.   Penampilan dan gaya menyanyikannya juga perlu diperhatikan
3.   Nyanyian tersebut tidak disertai dengan sesuatu yang haram, seperti minum khamar, menampakkan aurat, atau pergaulan bebas laki-laki dan perempuan tanpa batas.
4.    Nyanyian –sebagaimana semua hal yang hukumnya mubah (boleh)- harus dibatasi dengan sikap tidak berlebih-lebihan.

Wallahu ‘lam bishowab

Perpus JTMI

19.05.11 :  11.13

Iklan

2 comments on “ISLAM dan SENI

  1. ella
    15 Maret 2013

    setuju….

  2. Vir
    27 Maret 2013

    🙂

    (lagi2,, gambarnya:huh!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Juni 2011 by in opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: