.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Tukang Parkir

sumber : gogotaro.blogspot.com

Priiiiiiiiiiiiiiiiit”, terdengar suara peluit panjang. Tiba-tiba lampu merah mobil di depanku menyala terang. Diikuti dengan kendaraan lain, tiba-tiba lampu-lampu merah menyala. Akupun terpaksa mengerem mendadak, sedikit mengorbankan kampas remku. Semua kendaraan berhenti sejenak sehingga semakin membuat jalan kaliurang yang sudah sempit terasa makin sempit.

“Uhuk uhuk”, kendaraan tua yang tidak sopan menyemburkan asap knalpot yang kotor membuatku terbatuk batuk. Beberapa pengendara yang tidak sabar memencet klaksonnya beberapa kali, ada juga yang memencetnya lama. Suara klakson bersahut-sahutan. Semakin membuat suasana gaduh. Biar makin rame, akupun ikut-ikutan memencet klakson. “Tiiin… tiin…”.

Tidak ada polisi, juga tidak ada anak pramuka yang sedang bermain morse. Tidak salah lagi, tukang parkir bersragam orange itulah yang sedang menyeberangkan mobil. Jika Anda melewati jalan kaliurang utara ring road, Anda akan dengan mudah merasakan sendiri hal yang saya gambarkan di atas.

Kali ini saya akan berbicara tentang tukang parkir.

Tukang parkir sering kali membuat saya jengkel. Kenapa? Kebanyakan tukang parkir yang saya temui bekerja seenaknya. Dia hanya duduk-duduk, kemudian jika ada pemilik motor kembali pada motornya, dia bangkit dan mendekatinya sambil menarik bagian belakang motor. Trus minta uang, habis itu ditinggal.

Jika ada pengamen yang menyanyi dengan suara bagus dan Anda ikut menikmati nyanyiannya, Anda tidak dipaksa memberikan uang. Kalaupun memberinya, tidak ada paksaan jumlahnya. Padahal suaranya bagus dan Anda terhibur. Intinya : tidak ada paksaan. Coba kita liat tukang parkir yang tiba-tiba berlari mendekati kita kemudian mengambil jemurannya (kantong gandum) di jok motor kita. Kita tidak bisa senyaman ketika bertemu pengamen, kali ini kita harus memberi uang. Minimal 500 atau 1000.

Pernah suatu ketika saya ke warnet hanya untuk ngirim email. Ngenetnya habis 500, tp parkirnya 1000. Hadew. Besoknya lagi saya naik sepeda biar tidak parkir, eh ternyata tetep ditarik 500. Padahal tukang parkirnya Cuma duduk-duduk doang.

Tukang Parkir seperti inilah yang membuat saya merasa jengkel. Masih agak sedikit mendingan kalau dia memberi kartu parkir, kemudian menyiapkan motor dari barisan parkir ke badan jalan. Setidaknya ada tanggung jawabnya sebagai tukang parkir. Bukannya saya pelit atau terlalu materiil banget. Tapi saya melihat kurang sepadan antara uang yang didapat dengan usaha yang dilakukan. Terlebih lagi saya belum jadi orang berduit.

Kalau saya memiliki mobil mungkin beda lagi ceritanya, tukang parkir akan sangat membantu. Memarkir, menyeberangkan jalan, dll. Tanpa tukang parkir, jalan akan semakin lama macetnya karena tidak ada yang mengatur. Di sini tukang parkir bertugas seperti polantas. Akan lebih baik jika mereka mendapat pelatihan mengatur lalulintas dari Polisi. Dengan tukang parkir seperti ini, saya yang sepakat.

Profesi tukang parkir kini telah menjadi pilihan bagi masyarakat. Sering juga kita lihat berita di media tentang perkelahian yang bermula dari perebutan lahan parkir. Bahkan di Kota Jogja sendiri, pajak parkir termasuk pengisi kas daerah yang besar.

Dalam pandangan saya, pekerjaan tukang parkir (yang Cuma duduk2 doang) termasuk pekerjaan yang tidak produktif dan tidak akan berkembang. Saya lebih menghargai penjual bensin eceran di pinggir jalan yang untung 500 tiap liter. Kemanfaatannya lebih dirasa. Usahanya juga patut dihargai. Semangat wirausahanya juga bisa berkembang.

Berbicara tukang parkir, saya jadi inget pengajiannya AA Gym. Jika filosofi tukang parkir diterapkan dalam hidup kita, hidup akan terasa nyaman. Semua yang ada pada diri kita adalah titipan. Kita harus menjaga & merawat titipan sebaik mungkin sehingga ketika dikembalikan, si empunya akan senang. Apalagi kita juga memanfaatkan barang titipan itu. Seandainya Anda meminjamkan buku pada teman, kemudian ketika dikembalikan kondisinya masih terawat, bahkan menjadi ada sampulnya, pasti kita akan senang.

Tukang parkir (seharusnya) akan merawat motor yang kita titipkan. Jika panas ditutup biar tidak kepanasan, jika basah sebelum dikembalikan dilap dulu. Nah, terakhir tukang parkir akan dengan ikhlas memberikan kendaraan yang ia rawat ketika pemiliknya mengambilnya. Di sini pelajaran utama dari filosofi tukang parkir. Kita harus rela/ikhlas ketika Allah mengambil titipannya kapan saja. Ketika kita dititipi kesehatan, kekayaan, jabatan, kehormatan,  kemudian diambil oleh pemiliknya, kita harus ikhlas melepasnya. Bukankah “semua milik Allah dan akan kembali pada Nya?”

Iklan

4 comments on “Tukang Parkir

  1. Ulfa
    17 Juni 2011

    he em, bener.
    tapi selama ini tukang parkir yang aku temui selalu saja yang baik2, mungkin tergantung amal dan perbuatan kali Wan!! 😀

  2. kangridwan
    17 Juni 2011

    bukan tergantung amal dan perbuatan, tp tergantung jenis kelamin dan kecantikan (mungkin)
    🙂

  3. Yuana
    23 Juni 2011

    Berarti tukang parkirnya sedang mengajarkan keikhlasan juga wan..
    *btw, nice blog.. ^_^

    • kangridwan
      25 Juni 2011

      ya, bisa dibilang begitu.

      Ikhlas kan bukan karena terpaksa, maksudnya adanya dorongan dari diri sendiri. Hmm.. Kadang agak susah si kalo dipaksa biar ikhlas. Tapi tak apalah, namanya juga belajar.

      Makasi, mbak Yuana.
      semoga blog ini bisa bermanfaat bagi pembacanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17 Juni 2011 by in opini.
%d blogger menyukai ini: