.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

BimBel & Ujian

Salah satu halaman harian kompas kemarin (20/6) memuat sebuah iklan cukup besar. Kurang lebih 1/3 halaman. Saya tidak tahu pasti berapa tarif yang dikeluarkan untuk pasang iklan di harian nasional yang terkemuka tersebut. Puluhan juta atau mungkin mencapai ratusan juta. Yang jelas jika dilogika, tarifnya pasti sangat besar.

Iklan tersebut membuat saya tertarik hingga muncullah ide tulisan ini. Iklan tersebut bukanlah Operator seluler, ucapan selamat dari Partai, gambar tokoh nasional yang numpang nampang. Bagi saya itu sudah biasa. Iklan itu adalah sebuah lembaga bimbingan belajar GO.

Iklan lembaga bimbingan belajar tersebut tidak menggunakan tokoh pendidikan, artis, atau pak menteri pendidikan sebagai model iklan. Namun ternyata yang nampang di situ adalah 2 siswa peraih nilai UN tertinggi Nasional. Total nilai UN yang diraih keduanya 59, atau rata-rata nilainya 9,83. Mendekati sempurna. Keduanya mendapatkan hadiah dari berbagai pihak sebagai bentuk apresiasi.

Selain itu, masih dalam iklan itu juga terdapat 8 siswa peraih nilai terbaik UN. Mereka berdelapan berpose menggunakan kaos bertuliskan nama lembaga bimbingan belajar tersebut. Belum selesai disini. Di bagian bawah masih terdapat wajah-wajah beberapa siswa yang mana mereka adalah peraih nilai UN terbaik di masing-masing daerahnya.

Saya yakin tahun ini akan ada banyak siswa kelas 3 SMA yang berbondong-bondong untuk mengikuti bimbel di GO. Banyak juga orang tua yang menyuruh anaknya untuk ikut bimbel tersebut. Mereka sepakat “jika ingin dapat nilai UN yang baik ikut saja bimbel di GO, tuh sudah terbukti”. Bisa jadi kemudian GO membuka cabang diberbagai tempat yang sebelumnya belum ada. Iklan 1/3 halaman yang menghabiskan uang dalam jumlah besar kemarin tidak akan ada ruginya.

Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada GO denga prestasinya dan juga kepada para peraih nilai UN terbaik Nasional ataupun Daerah. Sedikitpun saya tidak bermaksud untuk ikut mengiklankan lembaga bimbel GO. Saya juga tidak berkeinginan untuk menjelek-jelekkannya. Saya ingin mengajak pembaca untuk melihat dari sudut pandang lain.

“Jika ingin sukses Ujian Nasional, ikut saja bimbingan belajar di luar sekolah”. Kurang lebih seperti itu pengopinian publik yang terbentuk ketika melihat iklan tersebut. Siswa maupun orang tua siswa, terlebih yang tidak kesulitan dalam keuangan akan sepakat dengan itu.

 Dari situ muncul kemudian pertanyaan, Mengapa harus mengikuti bimbel? Apakah pelajaran di sekolah tidak cukup untuk mendapatkan nilai terbaik? Ataukah guru-guru dan fasilitas yang tersedia di sekolah masih belum cukup? Lalu apa yang membedakan antara belajar di sekolah dengan di bimbel?

Di sekolah sudah membayar, di bimbel juga membayar lagi. Ada beberapa bimbel yang ternyata memberikan metode berbeda. Bimbel N****n menggunakan metode penalaran, kalau soal ujian bentuknya opsional itu berarti sudah ada jawabannya di situ. Kita tinggal memilih saja, yang benar ada satu. Tinggal gunakan logika,bisa kelihatan jawaban yang benar.

Saya pikir-pikir ada benarnya juga. Soal ujian memang bentuknya seperti itu. Namun, menurut saya ada yang jauh lebih penting dari benarnya menjawab soal, yaitu : PEMAHAMAN. Saya tidak tahu metode apa saja yang digunakan di bimbel-bimbel yang ada. Saya tidak begitu peduli dengan itu semua.

Pendapat saya, jika ujian nasional disakralkan saya khawatir tujuan sekolah bukan lagi untuk meraih ilmu tapi meraih nilai, meraih ijazah. Ujung-ujungnya anak didik akan berusaha mati-matian belajar ini itu, menghafal rumus A B C, dan tetek mbengeknya dengan niatan yang salah. Akan ada perbedaan yang mendasar ketika niat kita lurus untuk menuntut ilmu sebagai bentuk beribadah dengan bersekolah yang niatnya mencari ijazah kemudian mencari kerja.

Kalau parameter sukses siswa SMA hanya sekedar dinilai dengan Ujian Nasional, mending semua ikut bimbel aja ga perlu sekolah. Atau, guru-guru sekolah diganti dengan mereka yang mengajar Bimbel. Atau sekolah gunakanlah itu metode yang digunakan lembaga bimbel itu.

Aneh memang, sebegitu “ngoyo”nya mensukeskan ujian maka timbul dalil untuk menghalalkan kecurangan. Dalilnya begini: Guru harus membantu murid, orang tua membantu anak, pemerintah membantu rakyat. Bersama, mari kita “sukeskan” ujian Nasional.

Kalau begitu, ngapain susah-susah mengadakan ujain. Kalau ingin lulus, tinggal bagi saja ijazah rame-rame, Ga pake ujian. Semua LULUS & dapat nilai sempurna. Daripada bikin aturan sendiri dilanggar sendir dan bikin dosa? Gitu aja kok repot.

.: maaf, tulisan ini banyak yang tidak nyambungnya. Saya menyadari itu:.

 

kamar 2.4

25062011:9.06

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 Juni 2011 by in opini.
%d blogger menyukai ini: