.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Nikah#1

Entah kenapa kali ini saya ingin menulis suatu hal yang cukup ngetrend, menjadi tema favorit di setiap pengajian yang diikuti remaja : Nikah.

Saya bukan ustadz Salim A Fillah, ustadz Didik Purwodarsono, atau ustadz Cahyadi Takaryawan yang piawai menyampaikan tentang tema ini. Saya ingin berbagi dengan yang saya pikirkan. Tentunya ustadz-ustadz itu ikut mempengaruhi pemikiran saya dalam kajian yang saya ikuti.

 

nikah #1

Menikah merupakan satu-satunya jalan halal yang harus ditempuh untuk menyampaikan naluri manusia sebagai makhluk hidup: bereproduksi. Mengapa saya katakan harus? Bisa saja seseorang melakukannya tanpa menikah, tapi itu berarti tidak halal.

Sudah menjadi fitrah manusia, terlebih ketika tiba waktunya, akan timbul rasa tertarik kepada lawan jenis. Siapapun itu. Tarsan saja yang hidupnya di hutan dan tidak pernah kenal manusia kemudian ketemu manusia, juga memiliki rasa ketertarikan itu.

Begitu pentingnya menikah, Islam mensyaratkan menikah jika ingin sempurna agamanya. Menikah menyempurnakan separuh agamanya. Menikah akan menjadikan keturunan jelas nasabnya, jelas siapa ibu bapaknya.

Sebenarnya yang membedakan antara menikah dan berzina adalah ikrar. Ketika ada ijab qabul (serah terima), ada wali (yang menikahkan), dan ada dua orang saksi, ditambah adanya mas kawin (yang cincin besi saja bisa dipakai) maka sudah sah. Kalau tidak demikian ada seperti itu, maksudnya berzina, lalu apa bedanya dengan hewan? Menikah menjaga kehormatan manusia.

Ada ustadz yang menikah muda, dia mengatakan demikian, “Saya menikah ketika semester 6, masih kuliah. Dan setelah menikah, saya menyesal. Menyesal: Kenapa tidak dari dulu nikahnya”. Jamaah yang kebanyakan bujang dan bujang wati tertawa renyah. Tertawa yang agak sulit ditebak. Entah karena lucu, tersindir, atau : Pengin.

Begitu luasnya jika kita bicarakan tentang pernikahan, maka saya buat judul nikah ini berseri. Kali ini Nikah#1. Bisa jadi besok saya menulis Nikah#2 dan seterusnya.

Saudara, saya mencermati bahwa ternyata menikah bukanlah sekedar urusan pribadi 2 insan yang dimabuk asmara. Menikah juga bukan sekedar memenuhi kebutuhan manusia sebagai makhluk hidup untuk berkembang biak.

Lebih dari itu, menikah memiliki kaitan yang erat dengan urusan sosial. Masyarakat terbentuk dari beberapa keluarga. Otomatis ketika menikah dan membentuk keluarga itu berarti menjadi bagian dari masyarakat. Jika sebelumnya kita diperhitungkan sebagai keluarga orang tua kita, maka setelah menikah kita dipandang sebagai sebuah keluarga baru.

Bahkan proses menuju pernikahan pun akan dinilai oleh masyarakat. Ketika ada seseorang yang sering apel atau diapeli, sering jalan bareng, atau yang sering disebut dengan istilah pacaran maka masyarakat akan menilainya. Ketika seseorang yang sudah waktunya menikah dan sudah mampu untuk menikah entah itu bujang atau gadis tapi belum juga menikah, masyarakat akan membicarakannya.

Kita memang tidak akan pernah lepas dari masyarakat ketika kita hidup berdampingan dengan mereka dan kita memang harus berdampingan dengan masyarakat karena kita makhluk sosial. Inti yang ingin saya katakan di sini adalah janganlah kita memandang pernikahan adalah semata-mata urusan pribadi. Menikah merupakan pintu gerbang untuk membentuk keluarga baru yang merupakan komponen utama dari masyarakat.

Seorang pemikir islam dari Mesir mengatakan bahwa ketika kita ingin memperbaiki peradaban dunia ,yang saat ini menghawatirkan, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Pertama adalah melakukan perbaikan pribadi. Kedua membentuk sebuah keluarga dengan menikah kemudian membina keluarga itu. Ketiga, dari keluarga-keluarga yang telah dibina dengan baik maka otomatis akan timbul masyarakat yang berkualitas. Keempat, sebuah negara yang berkarakter akan terbentuk dari kumpulan masyarakat beradab tadi. Kelima, Negara ini akan menjadi inspirasi bagi negara lain karena peradabannya yang tinggi. Negara ini juga akan membantu negara lain untuk ikut terlibat dalam membentuk peradaban manusia di muka bumi ini. Peradaban yang maju, membuat bumi makmur dan penuh dengan kedamaian.

Menikah adalah tahapan kedua, yaitu membentuk keluarga untuk peradaban dunia yang dinanti seluruh manusia. Maka, jangan egois dengan berfikir bahwa pernikahan adalah urusan private. Pikirkanlah bahwa setelah menikah, kita akan memperbaiki masyarakat dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

 

280611

Kantor Asrama Jingga

Iklan

5 comments on “Nikah#1

  1. insurgent
    28 Juni 2011

    mantap kali.. saya siap !! 🙂

    • kangridwan
      10 Juli 2011

      siap ngapain Sur?

      Ah yang bener ??

  2. Ulfa
    10 Juli 2011

    kenapa kalau ada judul yang baunya ini, pasti saya tertarik 😛

    * heee wan, selamat KKN dan PIMNAS iya kan?
    kemarin sabtu kita ngumpul makan2 lho di Rumcay

    • kangridwan
      10 Juli 2011

      Oya ? Yaaa mungkin karena buat dirimu sudah waktunya menjalaninya.
      Aku juga tertarik dengan bau ginian, makanya nullis ginian.
      Jangan2 saya juga sudah waktunya
      B-)

      *amin… semoga selamat beneran
      hiks, ga bisa ikut ngumpul….
      Tak apa lah, biar raga ga di sana, tapi ada cinta yang ikut berkumpul di rumcay

  3. Ulfa
    11 Juli 2011

    wkwkwkwk,,, podho berarti tapi sekarang konsen ke yang lain dulu lah.

    lhooo, iya kan wan?
    rame dan seru menurutku, eh kita clubnya satu kelompok dan beda sendiri. anggota klup kita cuma angkatan kita thok g ada yang senior.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 Juni 2011 by in opini.
%d blogger menyukai ini: