.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Pelayan Masyarakat

 “Tidak seperti pegawai yang kerjanya mulai jam sekian sampai sekian, lurah kerjanya 24 jam nonstop. Jam berapapun saya harus siap melayani warga yang mendatangi rumah saya untuk urusan ini itu. Ibaratnya mulai dari peniti hilang sampai perawan hilang semua mendatangi saya. Ya, namanya juga pelayan masyarakat”

(Kepala Desa Paitan, Kemiri, Purworejo)

 

            Dalam pemerintah di Indonesia ada yang namanya Presiden, yaitu pemimpin negara. Kemudian ada Gubernur yang memimpin Provinsi, ada Bupati yang memimpin kabupaten dan ada pula Camat yang memimpin kecamatan. Selanjutnya ada Lurah/Kepala desa  yang memimpin kelurahan/Desa.

             Mereka tidaklah berdiri sendiri, melainkan satu-sama lain ada keterkaitan. Ketika Presiden memiliki kebijakan maka akan diturunkan ke rakyat melalui Gubernur, Bupati, Camat, hingga Lurah. Artinya, mereka semua adalah sama-sama pemimpin rakyat. Hanya saja yang membedakan adalah cakupan wilayah yang dipimpin.

            Sangat tepat jika ada istilah pemimpin adalah pelayan dan memang seharusnya begitu. Saya yakin Anda setuju. Coba kita lihat, sudahkah pemimpin yang tadi kita sebutkan sudah melayani rakyatnya dengan baik? Atau jangan-jangan rakyat hanya melihat pemimpinya dari layar kaca. Atau hanya mendengar namanya saja tidak tau orangnya. Bahkan saya tidak yakin semua orang tahu siapa saja nama pemimpin mereka.

            Ketika kita melihat ke daerah pedesaan, kita akan menemukan fakta bahwa pemimpin mereka tidak hanya memimpin tetapi juga melayani. Sebagai ujung tombak yang berhadapan langsung dengan masyarakat tentunya Kepala Desa-lah menjadi tempat mengadu masyarakat. Ketika kebijakan pemerintah kurang berkenan di hati masyarakat, Kepala Desa pula yang pertama diprotes.

            Kepala Desa tahu siapa saja nama-nama warganya, jumlah keluarganya, hingga karakter yang dimiliki tiap warganya. Camat dan Bupati mana mungkin tahu apalagi Gubernur dan Presiden. Warga dan Kepala Desa tidak hanya memiliki hubungan struktural. Lebih dari itu, di antara mereka sudah timbul hubungan emosional. Maka jangan heran ketika terjadi bencana merapi di Jogja warga yang tidak mau dan susah dievakuasi oleh petugas langsung nurut begitu Kepala Desa mereka yang memintanya.

Ketika musim “punya gawe” (misal: nikahan, sunatan, lamaran, pengajian, dll) seorang kepala desa sehari bisa kondangan (menghadiri undangan) hingga 5 kali. Tidak seperti Presiden, Gubernur atau Bupati, seorang kepala desa tidak memiliki asisten yang mengatur jadwal kunjungan. Tidak ada sopir pribadi, mobilnya saja tidak ada.

            Saya ingin mengatakan bahwa Kepala Desa memiliki peran yang besar bagi terlaksananya program-program pemerintah, bagi tercipatanya masyarakat yang sejahtera. Seharusnya, kesejahteraan Kepala Desa juga mendapat perhatian yang lebih sehingga bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Apalagi, Kepala Desa merupakan bagian dari pemerintah itu sendiri.

            Keikhlasan kepala desa dalam melayani masyarakat bisa jadi lebih tinggi dibanding yang lain. Tidak ada “proyek besar” yang menggoda untuk dikorupsi. Kepala Desa melayani sepenuh hati. Semoga pemimpin-pemimpin kita di atas sana bisa belajar dari para Kepala Desa yang tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga pelayan masyarakat.

bada subuh

Paitan, 9 Jul 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Juli 2011 by in opini.
%d blogger menyukai ini: