.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Sutan

Sepotong kapur tulis melayang dengan kecepatan 5 m/s, membelah udara ruang kelas 5 SD Maju Tak Gentar. Kapur itu masih melayang bebas menuju sasaran seperti yang diinginkan pelemparnya.

Thak!!

Kapur itu mendarat tepat di kepala belakang bu Indri. Guru yang dikenal paling galak se SD Maju Tak Gentar. Si pelaku benar-benar nekad. Seperti menganggu singa yang kelaparan.

Bu Indri yang sedang menulis PR Matematika di papan tulis balik kanan menghadap murid-muridnya. Kapur di tangannya dilempar entah ke mana. Wajahnya menjadi horor, lebih horor dari kuntilanak. Kuntilanakpun akan lari jika melihat wajah bu Indri yang sedang marah. Kulit mukanya memerah, di jidatnya timbul lipatan-lipatan aneh, alisnya hampir menyatu, kacamata tebalnya semakin membuat sempurna ekspresi marahnya.

Gubrak !!!

Meja guru bergetar hingga vas bunga di atasnya ambruk.  Sudah pasti, bu Indri lah yang menggebrak meja kayu itu. Suasana kelas semakin hening. Tak seorangpun bersuara. Lalat pun seakan-akan ikut mengheningkan cipta, berhenti sejanak dari terbangnya yang menimbulkan suara.

“Siapa yang melempar kapur tadi?” Suara valseto yang melengking terdengar dari mulut bu Indri.

Tiga puluh siswa di ruang kelas 5 itu tak bersuara. Bambang yang tadinya mau kentut terpaksa memasukkannya kembali. Tari menahan batuknya. Hanya ada suara nyamuk terbang mendekati bu Indri. Seprtinya nyamuk itu pendatang baru, belum tau siapa bu Indri. Atau tadi dia tidak sempat diberitahu si lalat untuk berhenti terbang sementara.

Plak !!!

Satu korban tewas. Nyamuk malang itu mati di telapak tangan bu Indri. Anak-anak semakin tegang. Bambang yang tak tahan ngentut akhirnya berusaha kentut dengan mengecilkan suaranya. Suara berdesis dari pantatnya tak terdengar karena kalah dengan suara batuk Tari yang tak tahan lagi menahan batuk.

“Jadi tidak ada yang mau mengaku? Kalau tidak ada juga diantara kalian yang mengaku, ibu akan laporkan ke kepala sekolah agar kalian semua satu kelas mendapatkan hukuman !!”

Kelas masih hening. Semua siswa merasa takut. Benar-benar kejam ini ibu. Yang melakukan Cuma satu orang kenapa yang dihukum satu kelas? Kenapa si pelaku tidak mau mengaku. Tiba-tiba…

Seorang anak berdiri dan mengarahkan telunjuknya ke teman yang duduk di depannya. Masih tanpa suara. Semua mata tertuju pada Sutan, si tertuduh, tidak terkecuali : Bu Indri.

Mata bu Indri hampir keluar dari tempatnya, mengarah ke posisi Sutan. Sutan yang tidak merasa bersalah sempat bingung. Ada apa ini?

“Sutan, kamu yang melempar Ibu ya?”

“Bukan Bu, saya…”

“Pokoknya saya tidak mau tahu. Sekarang ikut ibu ke kantor Guru!!”

“Tapi Bu, saya…”

“Ayo ikut Ibu !!”

Sutan pasrah. Semoga nasibnya tidak seperti nyamuk malang

—**—

Sutan disidang oleh bu Indri dan kepala sekolah: Pak Anton. Kumis tebal pak Anton bergerak naik turun. Bu Indri masih berwajah horor seperti ketika di kelas.

“Kenapa kamu melempar bu Indri ?” Kumis tebal pak Anton kembali bergerak naik turun

“Saya tidak melakukannya Pak”

“Kamu mau mengaku tidak ?! Kalau tidak mengaku, Ibu pukul jari kamu!” Nafas Bu Indra kembang kempis.

“Saya tidak takut kok Bu. Karena saya yakin Bu Indri dan Pak Anton tidak akan bisa melakukannya”

Aneh benar ini anak, bukannya takut tapi menjawab santai. Seperti nama SD ini. Sutan maju tak gentar menghadapi fitnah yang menimpanya.

“Bagaimana mungkin kau berani mengatakan kalau Bapak sama Bu Indra tidak akan bisa memukul jari-jarimu?” Pak Anton penasaran dengan jawaban Sutan. Kali ini suaranya mulai merendah. Wajah horor Bu Indri mulai menghilang berganti wajah penasaran.

Sutan menarik nafas dalam-dalam. Bu Indri dan Pak Anton menanti jawaban Sutan.

“Pertama, saya difitnah. Saya tidak melakukan perbuatan itu. Kedua, saya tadi pagi sholat subuh berjamaah di Masjid bersama kakak saya. Kata Nabi, kalau sholat subuh maka akan dijaga dan dilindungi Allah sepanjang hari.”

Hati Pak Anton dan Bu Indri bergetar. Mereka menyadari kesalahan mereka. Sutan diperbolehkan kembali ke kelas. Jarinya tidak jadi dipukul.

*Denger-denger, Bu Indri & Pak Anton sejak saat itu jadi rajin sholat subuh.

NB:
*Sutan : nama Putra ke2 Pak lurah Paitan yang sering menemani jalan2 di lokasi KKN. Meski masih kelas 2 SD, dia berani, kreatif, cerdas, & lincah


inspired by: KAI ust Syatori
Asrama PPSDMS,
Antara Paitan – Makasar
15 Jul 2011 , 00:27

4 comments on “Sutan

  1. tiarawidodo
    23 Juli 2011

    dadi kelingan aku mbiyen pernah nyelet guruku njuk ra ngaku dan sing dituduh koncoku…hahahaha

    • kangridwan
      24 Juli 2011

      dan taukah jari siapa yang nunjuk si Sutan ?
      ternyata jari Tiara

      🙂

      • pawitan
        1 Agustus 2011

        oya ?

      • kangridwan
        1 Agustus 2011

        ok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Juli 2011 by in Cerita Fiksi, ngaji yuk.
%d blogger menyukai ini: