.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Bahrim Maas (Khotbah Jumat yang menggugah)

masjid kampus ugm

Saya sering (sangat sering) tertidur ketika khotbah jumat berkumandang. Entah kenapa, mungkin karena hawa surga di dalam masjid tiba-tiba jadi ngantuk. Atau bisa jadi setan yang membelai2 saya agar tidur, tidak mendengarkan khotba jumat.

Jumat kemarin (19/8) saya berkesempatan sholat Jumat di MasKam UGM. Khotibnya seorang berambut putih, hingga jenggot & rambut di pipinya (yang sangat rapi itu) juga berwarna putih. Di awal khotbah, nadanya sudah tinggi. Saya yakin tidak akan tertidur. Dan ternyata…., saya tertidur.

Mungkin sekitar 5 menit saya tertidur, suara bernada tinggi itu masih melengking memaksa saya membuka mata dan mendengarkan dengan seksama. Ternyata isinya sangat mengena.

“Allah menurukan ramadhan agar kita belajar menahan diri. Kita tau kalau berbohong itu dosa tapi tiap hari kita tetap berbohong. Kita tau kalau ghibah itu seperti memakan bangkai saudaranya, tapi selalu saja kita melakukannya. Kita tau kalau sholat tepat waktu & dan di masjid itu memiliki keutamaan tapi seringkali kita malas melakukannya. Kita tau bahwa ini dilarang Allah tapi tetap saja kita melakukannya. Kita tau bahwa itu perintah Allah tapi tetap saja kita malas melakukannya. Kita tau, kita sadar, tapi mengapa bisa terjadi? Karena kita tidak bisa menahan diri” Khotib masih menggunkan nada tinggi, seperti ibu tiri yang sedang marah di sinetron yang sering kita tonton.

Sampai di sini, hati saya terasa ditampar. Hormon tertentu mulai bereaksi sehingga kantong air mata mulai mengeluarkan produknya. Hilanglah rasa kantuk yang ada.

“Jika Anda mahasiswa dan tetap saja mencontek atau Jika Anda pegawai menggunakan sertifikat seminar padahal tidak datang seminar untuk menaikkan pangkat. Bisa jadi sertifikat Anda tidak halal. Ujung-ujungnya pekerjaan Anda juta tidak halal. Uang yang Anda dapatka tidak halal, menjadi makanan yang masuk ke dalam tubuh Anda, tubuh keluarga Anda. Pantaslah jika doa-doa Anda tidak dikabulkan karena yang melekat pada diri Anda adalah ketidak berkahan”

Pecahlah tangis saya. Produksi air mata berlebih menjadi mata air yang memancar dari ujung mata. Terbayang seketika dosa-dosa yang selama ini saya perbuat. Betapa kotornya hati ini, jiwa ini, pikiran ini. Khotbah terus berlangsung, telinga masih mendengar. Tapi mata dan hidung sesak dengan cairan.

“Dosa-dosa yang kita lakukan akan menutupi hati & mengotorinya sehingga kemudian kita tidak peka ketika melakukan dosa-dosa berikutnya. Ketika kita sedang melakukan maksiat, bisa jadi saat itu dosa kita masih banyak. Maka sering-seringlah beristighfar. Memohon ampun pada Allah, agar hati Anda bersih. Seperti kita ketahui Rosulullah bersabda bahwa dalam diri manusia terdapat segumpal daging yang jika itu baik maka baiklah manusia tersebut begitu pula sebalknya, itulah hati. Maka bersihkanlah hati Anda. Allah juga berfirman: maka beruntunglah yang menyucikan hati dan celakalah yang mengotorinya. Sehingga kita kelak bisa bertemu dengan Allah, bertemu dg Rosulullah dengan jiwa dan hati yang suci” Kali ini, sang Khotib mengatakannya dengan pelan, sangat pelan. Namun menusuk dan mencabik-cabik relung hati. Mengaduk-aduk emosi jamaah.

Aku semakin sesenggukan. Mungkin mataku sedikit lebam, seperti kegalauan seorang yang patah hati atau dalam kebimbangan ketika dimabuk asmara. Tapi aku beda. Jamaah masjid kampus itu beda. Kami menangis, merendahkan diri, menyadari betapa kotornya kami selama ini. HIngga puncaknya ketika khotbah ke2. Beliau membaca doa dalam bahasa Indonesia yang sangat menyentuh. Hingga saya susah bernafas dengan hidung, karena mampet. Air mata yang mengalir semakin deras. Saya tak tau bagaimana jamaah yang lain. Yang jelas saya merasakan, bahwa saya tidak sendirian.

Hingga ketika sholat, saya masih mendengar suara sesenggukan dari para jamaah. Ada yang sesekali batuk menahan tangis. Terlebih lagi, imam masjid membacakan ayat-ayat yang sangat sesuai. Tentang adzab dan nikmat sebagai balasan perbuatan manusia. Hingga sholat Jumat selesai, masih banyak Jamaah yang asyik dengan munajatnya, memohon ampun pada tuhannya.Khotib itu berdiri dan akan meninggalkan masjid. Ada seorang bapak-bapak mendatanginya. Memeluknya, sambil menagis sejadi-jadinya. Sepertinya saya tahu yang ia katakan. Ia berterima kasih pada sang khotib yang telah memberi pencerahan. Saya sudah berdiri, ingin bersalaman dan memeluk pria penuh wibawa itu. Ingin juga berterimakasih. Tetapi saya urungkan. Saya bertanya pada salah satu jamaah, siapa nama sang khotib itu. Namanya, ustadz Bahrim Maas

Terimakasih ya ustadz…

#Andai saja semua khotib melakukan penyampaian seperti beliau,, saya tidak akan pernah tertidur lagi

Paitan, ruang tamu pak lurah
Ba’da subuh, 20 ramadhan 1432 H

Iklan

5 comments on “Bahrim Maas (Khotbah Jumat yang menggugah)

  1. Rahmat Nugraha
    20 Agustus 2011

    Keren mas tulisannya 😀

    • kangridwan
      20 Agustus 2011

      Alhamdulillah, sekedar corat coret, biar ga lupa.
      semoaga bisa berbagi wawasan, berbagi kebermanfaatan, berbagi pahala, berbagi kebaikan.

      Indahnya Berbagi…

      ditunggu tulisanmu akh, bagi2 link ya!

  2. aan
    13 Januari 2013

    Saya waktu itu juga pas ada di masjid kampus UGM. Hari ini, setelah satu tahun lebih saya tiba-tiba kangen dengan materi khutbah itu. Lantas berusaha mencari, kali aja ada orang yang mendokumentasikannya. Alhamdulillaah ketemu juga setelah beberapa kali mengganti kata kunci di google. Terima kasih ya Kang Ridwan,..terima kasih telah menulis, terima kasih telah berbagi.

    • kangridwan
      14 Januari 2013

      Makasih, aan. Salam kenal 🙂

  3. Ping-balik: Doa Indah | .: Petualang Kehidupan :.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Agustus 2011 by in hikmah, ngaji yuk, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: