.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Pakaian Baru

Celana gunung berwarnahijau, sepatu putih yang diinjak belakangnya (hingga seperti sandal), kaca mata berframe tebal, jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya, dan tas jinjing warna biru yang entah berisi apa. Tiap kali aku bertemu Toni selalu saja aku melihat dia memakai barang-barang itu. Tidak pernah terlewat sedikitpun.

“Kamu Cuma punya celana itu doang ya Ton? Perasaan tidak pernah ganti deh. Jangan-jangan tidak pernah dicuci ya?” tanyaku penasaran sedikit kesal.

“Punya sih, tapi aku merasa paling nyaman kalau pakai celana ini, Fit. Tau ngga? Celana ini sudah menemaniku hingga puncak Merbabu, mbolang di Jakarta selama 3 hari, berenang di pantai Bunaken, hingga menjuarai kompetisi bisnis plan di luar Jawa. Ini celana bersejarah Fit, penuh kenangan!” Toni menjawab dengan antusias tapi masih menggunakan nada tenang.

“Trus, kapan terakhir kau cuci?”

Aku penasaran. Pasalnya kemana-mana Toni menggunakan celana itu. Sesekali menggunakan sarung kalau ke masjid. Selain itu pasti memakai celana hijau itu lagi. Bau si tidak, kotor juga tidak begitu kelihatan.

“Emm… Kapan ya? Aku lupa Fit. Kamu mau nyuciin?”

“Enak aja, emang aku siapa? Pembantumu?”

“Bukan begitu. Tidak sembarang orang lho, punya kesempatan mencuci celana istimewa seorang Azzam Fathoni. Justru ini merupakan suatu kehormatan. Hehe. Gimana? Mau ga?”

“Ogah!”

–//–

Untuk kacamata tak apalah ga pernah ganti, memang itu kebutuhan. Begitu juga dengan jam tangan. Pakai jam tangan saja masih telat datang rapat, apalagi tidak pakai jam tangan. Yang membuatku risih, selain celana hijaunya adalah sepatu putihnya.

Selama dua tahun berkenalan dengannya, tidak pernah aku melihatnya menggunakan alas kaki selain sepatu putihnya itu, kecuali meminjam temannya. Selalu saja sepatu dengan model dan merk yang sama. Ke kampus, ke kantin, hingga ke masjid dia menggunakan sepatu. Sering juga Toni menggunakan sepatunya ga bener. Bagian tumitnya diinjak.

“Kalau diinjak begini, namanya sandal. Bukan sepatu. Kalau makainya bener begini, namanya sepatu.”

Ada-ada saja kawanku ini. Aneh. Kalau saja dia bukan ketua KM atau aku tidak menjadi sektretarisnya mungkin aku tidak peduli dengannya. Namun, kini aku jadi tau kepribadiannya mulai dari yang mengagumkan hingga yang menjengkelkan.

Bagiku, pakaian merupakan hal yang penting karena pakaian melambangkan orang yang memakainya. Setidaknya menjadi kesan pertama ketika orang lain memandangnya. Tentunya berbeda persepsi orang, ketika melihat seseorang dengan celana butut berlubang disana sini dengan ketika melihat seorang berpakaian rapi.

Aku sendiri selalu memperhatikan jilbab yang kupakai. Mulai dari keserasian dengan baju dan bawahan. Bros dan beberapa aksesoris lainnya juga aku perhatikan. Tidak pernah aku menggunakan baju yang sama antara hari ini dengan besok. Dan Toni, yang hampir tiap hari bertemu denganku, membuatku sedikit jengkel gara-gara celana hijau dan sepatu putihnya.

 “Besok lebaran jangan lupa, beli pakaian baru ya!. Terutama celana & sepatu“

–//–

Lebaran sudah tiba. Semua merasa bahagia. Hari kemenangan yang dinanti datang juga.

Baju baru sudah dipersiapkan beberapa hari yang lalu. Lebih tepatnya seragram keluarga. Bagi keluargaku, tiap lebaran pasti ada baju keluarga. Ibuku yang pandai memilih kain biasanya membelinya di Pasar Bringharjo, kemudian ibuku sendiri pula yang menjahit untuk suaminya dan anak-anaknya.

Hape bergetar, ada sms masuk:

“Fitri, Met hari raya Idul Fitri ya! Kalau boleh nebak, jangan-jangan kau lahirnya pas lebaran ya? Eh, aku nanti jam 11 mau ke rumahmu. Dengan pakaian baru. Kamu & Ortu ada di rumah kan?” sender: Azzam Fathoni.

“Tau aja kamu. Oke, ditunggu jam 11 nanti” Balasku.

Aku jadi penasaran, pakaian baru seperti apa yang dia pakai. Apa celananya berganti menjadi cokelat? Trus tidak menggunakan sepatu putih itu lagi, yang baunya sampai kuhafal. Aku hany penasaran itu saja sih. Celana dan sepatu barunya.

Sebenarnya belum bisa dikatakan buluk sih , keduanya masih layak pakai. Selain penuh kenangan, alasannya tidak ingin ganti adalah karena menurutnya masih bisa dipakai. Aku sendiri yakin, kalau saja dia mau, dia bisa membeli yang baru.

–//–

10.59

Teet…

“Assalamualaikum..”

Suara yang sangat aku kenal. Pasti Toni. Aku buka pintu ruang tamu. Seonggok manusia berdiri di hadapanku. Kutatap dirinya, kuteliti dari atas ke bawah.

Kacamata hitam berframe tebal masih bertengger di tempatnya. Baju batiknya berwarna hijau muda. Tas jinjing berwarna biru masih menggantung di bahu kanannya. Jam tangan hitam melingkar di tangan kirinya. Dan celananya…

Masih juga celana gunung berwarna hijau yang membosankan itu. Aku lihat lagi ke bawah, oh my God, dia menggunakan sandalnya : Sepatu putih yang diinjak bagian tumitnya. Cape deh.. Senyumku yang sempat berkembang tiba-tiba menguap.

“Katanya mau pakai pakaian baru? Mana yang baru? Semua yang kau pakai sudah biasa aku lihat. Sampai bosan aku melihatnya.”

“Ga disuruh masuk dulu nih? Masak tamu datang tiba-tiba disemprot gitu”

Aku persilahkan dia duduk. Aku juga duduk dihadapannya. Kami terpisahkan meja yang penuh dengan toples berisi snack.

“Bohong, katanya mau pakai pakaian baru. Mana yang baru?” aku menyerbunya dengan nada sengak.

“Bagiku, pakaian yang kupakai ini masih baru. Aku masih bisa merasakan bau toko, hehe.” Masih sempat-sempatnya dia becanda.

“Trus, mana pakaian barunya?”

“Puasa selama satu bulan itu melatih kita, menempa kita. Kau tau kupu-kupu? Sebelum berpuasa dia meruapakan ulat yang menjijikkan tetapi kemudian berubah pakaiannya, berubah penampilannya menjadi begitu indah.”

“Maksudmu?”

“Kau tentu tau apa tujuan puasa? La’allakum tattaqun[1]. Agar kita bertaqwa. Dan kata Allah, sebaik-baiknya pakaian adalah pakaian taqwa[2]. Setelah sebulan penuh berpuasa, aku harap sekarang aku sedang menggunakan pakaian baru itu, pakaian taqwa”

“ah, bisa saja kamu Ton”. Senyumku yang tadi hilang kembali lagi…


[1] Al Baqoroh 183

[2] Al A’raf 27

dedicated to pemerhati celana hijau:
Chepi, Kiky, Mba’ Yanti

Rumah Semawung,
Penghujung Ramadhan 1432 H
14.00

Iklan

5 comments on “Pakaian Baru

  1. kaoscouple88
    30 Agustus 2011

    cerita yg menghibur 🙂

    • kangridwan
      30 Agustus 2011

      😀

  2. El_Shafrida
    30 Agustus 2011

    Semoga kamu tetap sesederhana penampilanmu,
    Sederhana dalam bertindak, berpikir, dan bertutur kata…
    Mohon maaf lahir-batin ya, Nak? ^-^

    • kangridwan
      30 Agustus 2011

      Amin..
      makasih Budhe, doanya.
      Semoga bisa sederhana, dalam artian positif.
      Saya maafkan lahir batin, semoga Budhe juga memafkan daku..

  3. fir
    20 Oktober 2011

    ckckckckc,
    nice fiction story,
    si fitri lucu,,, “her mind”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30 Agustus 2011 by in Cerita Fiksi.
%d blogger menyukai ini: