.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Pemaknaan yang terlewat (KCB)

ridwan kcb

Bagi sahabat yang sering menonton sinetron, tentunya tidak asing dengan kisah-kisahnya yang seringkali diulang dan mudah ditebak. Terlebih pada kisa asmaranya. Saya menulis ini, terinspirasi dari apa yang saya lihat di dunia nyata, pada orang-orang yang dekat dengan saya. Saudara saya, tetangga saya, ataupun kawan saya.

Saya tersadar, ternyata kisah yang kadang lebay itu tidak hanya di sinetron. Ada kisah begini, seorang yang telah menjalani pernikahan beberapa tahun dan sudah memiliki anak tetapi masih memiliki ‘rasa’ dengan orang lain. Kisah asmaranya dulu berakhir karena yang ternyata si dia telah duluan diambil orang, atau karena orang tuanya tidak menyetujui. Pernikahan yang ia jalani sekarang belum bisa dijalani sepenuh hati. Ada hati yang tertinggal di tempat lain.

Meski ia tahu, bahwa rasa itu seharusnya tidak boleh ada. Ia tahu bahwa sudah ada jalannya masing-masing dan mereka memang bukan jodoh. Begitulah urusan hati, susah untuk dilogika. Hati memang susah dijaga.

Beberapa waktu yang lalu, dalam perjalanan pulang silaturahmi Lebaran, saya berdiskusi dengan kakak saya, Mbak Dewi, tentang hal ini.

“Salah satu pemaknaan film KCB kan seperti itu”

“Maksudnya?” Saya agak terheran.

“Setiap ada pernikahan, ada dua insan yang bersatu dalam ikatan suci itu, pasti ada yang sakit hati. Itu pasti. Seberapapun itu kadar sakit hatinya. Karena seorang wanita biasanya diinginkan oleh lebih dari satu orang dan yang terpilih hanya satu. Begitu pula sebaliknya, seorang pria (apalagi orangnya baik, sholeh, kaya, ganteng, dll) biasanya juga diharapkan menjadi suami oleh beberapa wanita. Apalagi, jumlah wanita kan lebih banyak daripada pria” Papar kakak saya.

“Trus hubungannya sama KCB apa, Mbak?”

“Jadi, ketika ada yang menikah maka bertasbihlah. Maksudnya sebutlah nama Allah. Alhamdulillah, bagi mempelai. Barakallahulakuma, bagi orang yang hadir dalam pernikahan (utk mendoakan). Astaghfirullah, bagi yang “dikecewakan”. Semua bertasbih dengan caranya masing masing ketika ada cinta suci berupa pernikahan”

Film yang saya tonton beberapa kali bersama Adit, sampai beberapa dialog hafal, ini ternyata ada yang saya lewatkan. Pemaknaan saya adalah setiap orang sudah ada jodohnya. Saya melewatkan pemaknaan kakak saya, bahwa setiap ada pernikahan maka akan ada yang bahagia, ada yang kecewa. Maka bertasbihlah cinta, ketika cinta bertasbih.

Semoga kita bisa selalu bertasbih, dalam keadaan bahagia maupun kecewa.

4 September 2011
Ba’da subuh, dalam keadaan bertasbih
dan.. semoga tidak kecewa

4 comments on “Pemaknaan yang terlewat (KCB)

  1. fir
    4 September 2011

    hmmm..
    iyah mungkin bener begitu.

    • kangridwan
      6 September 2011

      mungkin kau punya pendapat lain

  2. El_Shafrida
    5 September 2011

    hmm, sepertinya pemaknaan itu tampak jelas bagi para wanita yg kadang terlewatkan oleh para laki-laki.hehehe

    • kangridwan
      6 September 2011

      lelaki juga lah.
      Meski sepertinya wanita akan lebih merasakannya.
      Mungkin..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 3 September 2011 by in hikmah, opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: