.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Surat dari Pembaca #1

           Surat ini datang dari Pembaca blog saya, “Petualang Kehidupan”. Dia kawan saya di SMA, satu kelas ketika kelas satu. Pernah membantu menyusun pidato pertama saya di hadapan guru dan siswa. Waktu itu pidato sambutan ketua panitia. Terimakasih Nina. Semoga kau jadi Cahaya yang Lurus bagi orang yang Sabar, seperti arti namamu. Nina kuliah di STTN lewat jalur tanpa tes. Diantara 9 pelamar jalur itu (termasuk saya), hanya Nina satu-satunya yang lolos. Nina bukan sekedar pembaca blog saya, tapi kawan yang telah membantu saya hingga saya bisa seperti sekarang ini. Jazakumullahu ahsanul jaza’.

         Surat ini saya post ke blog ini (dengan izin Nina tentunya) karena membuat saya lebih semangat untuk menulis. Seringkali apa yang kita lakukan ternyata tanpa kita sadari memberikan manfaat bagi orang lain, syukur-syukur kalau menjadi jalan bagi datangnya hidayah (petunjuk) dari Allah. Bagi saya, surat ini menginspirasi. Semoga juga menginspirasi pembaca sekalian.

            Pagi itu, aku kembali membuka blogmu, “Petualang Kehidupan”. Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas, campuran antara rasa kagum dan cemburu luar biasa saat membaca karangan-karanganmu itu. Kagum, karena tak menyangka, kau yang dulu selalu minta dibuatkan olehku setiap kali ada tugas menulis, kini sudah mampu mengolah tinta menjadi suatu tulisan yang apik. Cemburu, karena aku sendiri, sudah melupakan impianku untuk menulis, mengungkungnya dalam penjara berlabel “kesibukan kuliah”.

            Ingatanku terlempar pada suatu masa, percakapan kita kala masih SMA. Percakapan yang terlantun saat kau meminjamkan novel “Ayat-Ayat Cinta” karangan Habiburahman El-Shirazy, novel yang begitu terkenal saat itu, best seller lagi.

            “Coba bikin cerita seperti ini, bagus” ujarmu saat itu.

Aku yang saat itu begitu pesimisnya dengan kemampuan menulisku (ah, saat ini pun sepertinya masih begitu) hanya tersenyum simpul.

            “Ah, susah, mana bisa” kataku.

            “Bisa lah, menurutku kamu berbakat” itu jawabmu.

            Sejak saat itu, aku melihatmu sebagai sosok yang gemar membaca, seperti Bapak.  (Bukankah kau juga sering ke rumah dan meminjam beberapa buku bapak? ) Sama juga seperti bapak, kau pun mulai menanamkan semangat membaca padaku. Yah, bukankah untuk menjadi penulis, membaca sangatlah diperlukan untuk memperluas wawasan? Sayang sekali, semangat membacaku kalah jauh darimu, apalagi dibandingkan bapak. Impian untuk menulis itu pun lenyap, bertumpuk dengan rumus-rumus matematika ataupun pelajaran lain, untuk kesiapan UAS dan SPMB. Aku melupakannya.

***

            Masa kuliah pun tiba.  Impian untuk menulis itu masih tetap terlupakan. Sebenarnya, belum sama sekali terlupakan. Aku menulis, sayangnya semua isi tulisanku saat itu hanyalah sebuah emosi, emosi karena masih belum menerima tempat ini, STTN, sebagai tempatku menuntut ilmu. (sungguh betapa parahnya aku saat itu, lama sekali untuk bisa ikhlas menerima pilihanNya).

            Kau datang lagi. Kali ini saat aku semester 3, di mana aku mulai berkecimpung dalam dunia penulisan (walau dalam skala kecil, yakni di majalah kampus).

            “Coba menulis, ntar kirim ke e-mailku.” Kau kembali memotivasiku menulis.

            “Kalau sempet ya..” jawabku saat itu.

Ternyata aku tidak pernah sempat, atau mungkin lebih tepatnya, tidak menyempatkan diri?

            Waktu bergulir, seiring dengan produktivitasmu menulis, dan seiring dengan pembenamanku ke dunia kuliah, melupakan mimpi bernama “menulis”. Dan saat tersadar, ternyata kau sudah melangkah begitu jauh. Aku tertinggal di belakang. Blogmu dipenuhi berbagai tulisan yang benar-benar apik. Yang selalu membuatku mengatakan “ Subhanallah, bener ini karya Ridwan yang itu?”

            “Ajari nulis” suatu ketika aku pernah memintamu demikian.

            “Tulis aja, jangan pikirkan bagus atau jelek, tulis aja” jawabmu.

Tapi, aku tetap belum menulis. Ada tulisan, tapi tak pernah tuntas. Entahlah.

                                                                        ***

            Forum Lingkar Pena. Aku melihat sebuah kesempatan, untuk membangkitkan kembali motivasi menulis. Mungkin kalau banyak kawan, aku akan lebih bisa berkarya. Lagipula, bukankah kau bergabung di sana? Begitu pikirku. Tahap pertama diharuskan membuat esai tentang “Aku, FLP, dan Dakwah Kepenulisan” dan satu karya bebas. Alhamdulillah, aku lolos. Semangatku meningkat. Semoga tahap kedua bisa lolos, dan aku bisa berkarya sepertimu. Amin.

            Sayang sekali, itu tidak terkabul. Tahap wawancaraku gagal. Harus tetap semangat, itu pasti, tapi aku tak bisa menafikan, ternyata lumayan sedih juga ya… Aku menghibur diri, mungkin belum waktunya, fokus kuliah dulu, tempatnya kan juga jauh (pertama kali nyari aja muter-muter entah berapa kali J). Mungkin juga, aku gagal karena pada tahap wawancara ‘karya’, aku tak begitu meyakinkan. Satu hal yang kusesali adalah pertanyaan “adakah target menulis?” (jawabannya jelas tidak ada, karena aku lebih memprioritaskan kuliah, hiks).

            Yah, setidaknya sejak saat itu, aku ‘sedikit’ rajin menulis. Notes di facebook, cerpen (meski masih separo-separo),puisi, curhatan dan saat ini aku sedang ingin menulis esai tentang ‘nuklir’. Semangatku menulis memang masih sering tergilas kesibukan kuliah atau bahkan karena kemalasan. Tak mengapa, bismillah, meski terlambat semoga aku bisa menulis sepertimu. Seperti seorang Ridwan Kharis, yang tulisannya mampu mengumpulkan hikmah-hikmah kehidupan yang terserak. Amiiin

4 September 2011

Saya beri Judul Surat dari Pembaca#1, karena bisa jadi akan ada yang berikutnya. Bagi pembaca yang ingin mengirimkan surat pada saya, entah berisi masukan, kritik, atau saran dan sebagainya sangat saya terima & saya akan sangat senang. Silakan kirim ke email saya: alfaruq_19@yahoo.co.id. Jika memang layak dipost dan diizinkan, akan saya post (terbitkan). 

6 comments on “Surat dari Pembaca #1

  1. fir
    5 September 2011

    yes!
    berarti nanti sy bisa krim yg banyak.
    hee

    • kangridwan
      6 September 2011

      🙂

  2. Ulfa
    6 September 2011

    wuiiiih temanmu keren wan, ak juga jadi ingat temanku waktu SMA dan dia juga suka nulis. dan sekarang wah bagus bgt tulisannya bagiku, mengalir dan enak apalagi kalau buat cerpen.

    • kangridwan
      6 September 2011

      … mari menulis !
      B-)

  3. Siti Lutfiyah Azizah
    12 September 2011

    ihirr ridwan.. #embus-embusinahkegrupfimio, kekeke

    Jadi inget, di SMP dan SMA dulu juga punya temen yg deket banget karena sama2 suka nulis dan saling motivasiin diri buat nulis apa aja..

    Keep writing Rid. salamin yak buat Nina, salam kenal🙂

    • kangridwan
      14 September 2011

      aku baru suka nulis tuh sekitar setaon yg lalu. SMP SMA ga pernah nulis.
      Yoi, Insya Allah aku sampein ke Nina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 5 September 2011 by in Cerita Fiksi, hikmah, opini.
%d blogger menyukai ini: