.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Bung Kecil, Negarawan Sejati

Judul Buku          : Sutan Sjahrir, Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya
Penulis                  : Rosihan Anwar
Penerbit                : Kompas, Mei 2011
Halaman              : 191 + xxxvi

Pertama saya ingin mengucapkan terimakasih banyak pada sodara sekamar , Chandra Agie Yudha, yang telah memberikan hadiah spesial untuk ulang tahun saya ke21, berupa buku yang akan saya bicarakan pada pembaca sekalian : Sutan Sjahrir, Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya. Mengapa saya sebut Bung Kecil? Bung Kecil merupakan julukan bagi Sutan Sjahrir yang tinggi badannya 1,6m tapi karena sering berdiplomasi dengan orang Eropa yang tingginya mencapai 1,9m dia terlihat kecil.

Buku terbita Kompas ini merupakan karya wartawan senior, wartawan terbaik yang dimiliki bangsa Ini : Alm Rosihan Anwar. Beliau merupakan saksi sekaligus pelaku sejarah yang merekam secara langsung berbagai perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dengan berbagai gejolak yang mengiringinya.

Oke, saya ga akan banyak berbasa basi.

Ketika mendengar nama Sutan Sjahrir yang terbayang dlm benak saya (membaca buku sejarah) adalah dia yang mendengar berita kekalahan Jepang dan kemudian menculik Soekarno Hatta ke Rengasdengklok mendesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan RI.

Setelah membaca buku ini saya menjadi tahu banyak tentang Sutan Sjahrir. Beliau merupakan pejuang sejati. Keikhlasannya dalam memperjuangkan bangsanya tidak diragukan lagi. Ketika awal kemerdekaan, dalam usia yang sangat muda, mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia, aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan, Bersama Bung Hatta diasingkan di Digul selama hampir delapan tahun.

Di awal kemerdekaan, perannya sangat besar. Sutan Sjahrir menjadi Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia dan menorehkan tinta emas dalam mengemban tugasnya. Seperti kita ketahui di awal-awal kemerdekaan, Indonesia berjuang mati-matian dalam mempertahankan kemerdekaan. Belanda yang merasa memiliki Indonesia berusaha merebut kembali pasca kekalahan Jepang. Berbagai diplomasi dan perjuangan fisik dilakukan. Sutan Sjahrir memiliki peran besar dalam perjuangan diplomasi.

Sutan Sjahrir yang belajar di Belanda mempelajari Marxisme merumuskan pemikiran politik dan ideologi yang dikenal dengan Sosialisme Kerakyatan. Pemikiran sosialisme yang telah ia sesuaikan dengan kondisi Indoensia saat itu. Selama memimpin pemerintah selama 1945-1947, ketika bangsa Indonesia sedang meletakkan dasar pedoman bagi sebuah negara, Sutan Sjahrir tidak memiliki peluang untuk menawarkan pemikirannya. Ia fokus pada perjuangan menghadapi Belanda.

Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia pada Desember 1949, Kearogansian Soekarno dalam memimpin Bangsa ini membuat beberapa tokoh pejuang (yang di awal kemerdekaan berjuang bersama) berinisiatif untuk menyelamatkan negara dengan membentuk PRRI yang kelak disebut sebagai pemberontak. PRRI merekrut tokoh Masyumi-PSI seperti M Natsir, Sjafrudin Prawiranegara, Boerhanoedin Harahap termasuk juga Sutan Sjahrir untuk mengganti Pemerintah Pusat namun gagal.

Sutan Sjahrir yang kemudian ditangkap oleh Pemerintah dan menjadi tahanan politik bersama beberapa tokoh Masyumi dan PSI, menjalani hari-hari akhirnya di penjara Madiun bersama tapol-tapol lainnya. Penjara yang terdapat kolam renang dan lapangan tenis itu tetap saja namanya penjara. Hingga akhirnya Sutan Sjahrir sakit dan dibawa berobat ke luar negeri. Sutan Sjahrir wafat di Zurich-Swiss pada 9 April 1966 setelah koma selama 7 hari dalam usia 57 tahun.

Moh Hatta dalam pidato perpisahannya, ketika pemakaman Sutan Sjahrir,  menegaskan bahwa Perdana Menteri Republik Indonesia yang pertama itu “meninggal karena korban tirani”.

Panglima Besar Jendral Soedirman yang meninggal pada usia 34 tahun, sebelum meninggal mengucapkan kata-kata penghargaannya kepada sutan Sjahrir. Di antara pemimpin yang telah dikenalnya, Sjahrir satu-satunya yang dinilainya sebagai pemimpin yang jujur, bercita-cita luhur dan rela berkorban untuk bangsa dan tanah air.

Bagi saya, Sutan Sjahrir menjadi tokoh inspirasi, merupakan Negarawan sejati, keikhlasannya dalam berjuang tidak diragukan. Menjadi sekretaris Perhimpoenan Indonesia di usai 21 tahun, Dibuang Belanda ke Boven Digul pada usia 25 tahun, diangkat selau Perdana Menteri pada usia 36 tahun, disingkirkan dari jabatan negara pada usia 40 tahun. Sampailah pada premis lakon Sjahrir yang berbunyi: Cita-cita luhur membawa kepada maut, tapi juga harapan.

Buku ini lengkap dengan berbagai dokumentasi, foto Sutan Sjahrir mulai dari kecil hingga berbagai aktivitasnya selama ia hidup.Terlebih lagi, penulisnya merupakan wartawan senior yang juga saksi sekaligus pelaku sejarah, yang bertemu langsung dengan sosok Sutan Sjahrir. Saya rekomendasikan Anda untuk membaca buku ini.

Sebuah kutipan menarik kata-kata Sjahrir:
Untuk jiwa klasik dunia akan serba luas dan bukan sempit dan picik, hidup itu mulia dan tak pernah hina, seni selalu indah dan tidak jahat, dan manusia adalah makhluk penuh bakat yang harus diolah dan dikembangkan. Ebudayaan akan mdibuat abadi oleh jiwa-jiwa klasik ini, politik menjadi perkara yang luhur, dan ilmu pengetahuan akan terbuka cakrawalanya seluas kaki langit karena pikiran dan jiwa sanggup menerobos batas-batasnya sendiri (Sutan Sjahrir 1990:117)

14.9.11
Asrama Peradaban

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 September 2011 by in hikmah, Resensi.
%d blogger menyukai ini: