.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

MARKA


Tahu garis marka? Itu loh, garis yang ada di aspal jalan raya. Kadang putus-putus, ada juga yang nyambung. Kalau garisnya lurus (tidak putus-putus) itu artinya kamu dilarang mendahului. Ah, tentunya kau tahu itu kalau kau punya SIM. Kecuali kalau kau mendapatkan SIM dengan nembak.

Kawan, aku punya pengalaman tentang garis marka ini. Aku pernah ketilang pak polisi yang baik hati, gara-gara marka. Aku mendahului truk gedhe yang jalannya membuat emosi padahal garis marka disitu lurus nyambung. Eh, di depan sudah ada polisi yang sepertinya spesial hari itu nyetopin orang-orang yang melanggar marka. Ya, aku bersalah maka aku berhenti ketika pak polisi menyuruh berhenti. Aku memilih sidang, ketimbang bayar di tempat.

Hmm… Aku tidak akan bercerita tentang pengalamanku ketilang gara-gara marka. Namun aku ingin bercerita yang lain. Semalam, lebih tepatnya dini hari jam 3 pagi, aku ke Jogja dari Purworejo menggunakan motor. It’s my first time. Bagi kamu yang sering motoran Jogja-Purworejo tentunya tahu persis jalannya seperti apa.

Jam 3 pagi, jalanan masih sepi. Orang-orang pun mungkin masih bermanja-manja bersama bantal dan selimutnya. Kecuali mereka yang mendirikan sholat malam, atau mereka yang berangkat ke Pasar. Begitu sepinya, serasa jalan raya itu milikku sendiri. Tiap kali kulirik spidometer, berkisar di 100 km/jam.

Kawan, kau tahu lah, jam 3 masih gelap. Terlebih sekarang merupakan akhir bulan, bukan bulan purnama. Sementara itu, meski jalan raya sudah halus, tapi penerangan di sepanjang jalan belum baik. Disini, aku sangat merasakan manfaat adanya marka jalan.

Di jalan yang tidak ada marka, hampir saja aku pindah jalur gara-gara jalan menikung. Untung saja tidak ada kendaraan dari arah berlawanan. Kanan kiri gelap, marka menjadi panduan. Ketika marka terputus, aku memperlahankan motorku, kukurangi kecepatannya. Intinya: Marka sangat membantuku.

Seringkali kita meremehkan keberadaan suatu hal atau barang. Meski kita sendiri tahu apa manfaat atau kegunaan barang itu. Tapi memang sekedar tahu belum tentu bisa merasakan. Mengetahui manfaat belum tentu merasakan manfaat. Kita tahu kalau mengingat Tuhan bisa menenangkan hati, tetapi mengapa seringkali kita tidak mendapatkannya. Jawabannya, karena kita tidak mau bersungguh-sungguh untuk merasakannya.

Kita tahu, kalau ayam goreng yang tersaji di meja makan itu lezat. Tapi tidak semua bisa merasakan lezatnya ayam goreng itu. Hanya orang yang mau bersungguh-sungguh ingin merasakannya. Satu lagi, kita semua sepakat kalau surga itu penuh dengan keindahan, siapa yang tak ingin masuk surga coba? Tapi sayangnya hanya sedikit orang yang bersungguh-sungguh merasakan surga.

Jadi, kesimpulannya : Patuhi rambu-rambu lalu-lintas, ikuti aturan garis marka. Ups, kok nggak nyambung? Simpulkan sendiri saja lah

Yogya, Perpustakaan JTMI
26 Sept 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 September 2011 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: