.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Belajar Sabar

“X: Wan, boleh tanya ?
Me : Monggo, gimana ?
X : Caranya sabar gimana wan?
Me : Wah, sepertinya kau salah bertanya deh. Aku juga masih belajar untuk bersabar. Susah kalo jelasin caranya. Harus langsung dipraktekkan.”
(my status, 19 Okt 2010)

Sangat ringan, mengatakan : “yang sabar ya..!”. Tapi pada prakteknya, untuk bersabar tidak semudah mengatakannya. Sabar kadang mudah, kadang susah. Ketika menghadapi masalah kecil mungkin mudah untuk bersabar. Namun ketika dihadapkan dengan masalah yang (menurutnya) besar, dia akan susah untuk bersabar.

Seringkali saya katakan bahwa sabar bukan lah pasif reaktif, tapi aktif partisipatif. Maksudnya, bukan berarti sabar kemudian berdiam diri dan pasrah tanpa usaha. Namun saya masih juga sedikit susah jika ditanya : Bagaimana caranya bersabar? Sabar ya langsung saja sabar. Maka saya coba bertanya pada kawan2 FB. Saya mendapatkan banyak wawasan, banyak pendapat cerdas. Sangat sayang jika tidak saya tulis, tidak saya bagikan pada kalian.

“Ada 3 cara bersabar”, kata mas Sobat. “Pertama mulai bersabar, kedua bersabar, ketiga teruslah bersabar”. Jawaban yang cerdas. Intinya : Langsung aja bersabar, ga usah bingung mikir caranya bagaimana.

Suatu ketika Umar bin Khattab berkata : “Jika kamu tetap sabar, maka ketentuan Allah tetap berjalan dan kamu mendapat pahala. Dan jika kamu tidak sabar, maka tetaplah berlaku ketetuan Allah, sedangkan kamu berdosa”. Jadi pilih mana? Mending sabar ajah.

Ada lagi cara bersabar ala mas Ray, yaitu dengan melakukan sesuatu hal yang membuat kita tidak memerlukan sabar itu lagi dan lakukanlah dg segera. Misal, bagaimana cara bersabar menanti lulus kuliah? Caranya adalah dengan segera melakukan aktivitas agar segera lulus kuliah sehingga kalau sudah lulus tidak lagi diperlukan sabar (sabar menanti lulus). Dan kita akan selalu dituntut untuk segera beralih dari aktivitas satu ke lainnya. Begitulah cara bersabar.

Sabar memang harus dipraktekkan tidak sekedar dipelajari teorinya. Caranya pun berbeda-beda. Cara bersabar kemarin belum tentu cocok untuk hari ini. Jika sabar sudah menjadi kebiasaan, maka kita tidak akan merasa kesusahan untuk melakukannya. Kalimat “innallaha ma’ashshabiriin” itu tak berlaku untuk orang yang sabar sekali dua kali saja, tapi berlaku untuk orang2 yang menjadikan sifat sabar tersebut sebagai sifat dasar dirinya, dalam kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun.

Sabar merupakan kombinasi dari keikhlasan dan selalu berpikiran positif atau berprasangka baik pada Allah. Dengan keyakinan demikian, seorang yang bersabar tidak akan ada rasa dongkol di hatinya. Dan sering terjadi, kesabaran membuahkan kenikmatan yang tidak kita duga sebelumnya.Sabar itu nikmat kok.

Saya jadi teringat dengan hadits rasullah, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya baik, dan itu tidaklah dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Apabila ia diberi nikmat, ia bersyukur, dan ini baik baginya dan apabila ditimpa musibah, dia bersabar, dan ini baik pula baginya.” (HR. Muslim)

Thank’s to komentator statusku : Mz Sobat, Aziz, Bu Dokter Desy, Mz Rayendra, Pak Purnomo, Adit, Mb Dhian, Budhe Chepi, Safetyo, Nani, Firoh, Mas Novi, Ririn, Adista.

 

Yogya,
Kamis Indah, pasca familly meeting
Setelah malam sebelumnya: begitu indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19 Oktober 2011 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: