.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Uki anak Pesantren

Satu-satunya obat kerinduan yang paling mujarab adalah bertemu dengan yang kau rindu. Mungkin ada cara lain. Melihat fotonya, membaca suratnya, telpon, sms, dll tapi tetap beda efeknya jika dibanding dengan ketemu langsung. Aku Rindu adikku, Uki. (ceritaku tentang uki, klik sini)

Aku ingin bercerita tentang Uki kepadamu. Kemarin (24/10) aku mengunjunginya di Pesantren Al Huda, Kebumen. Sepanjang perjalanan naik motor bersama kakakku aku membayangkan wajahnya. Aku membayangkan perubahan pada dirinya setelah jadi santri.

Pesantren Al-Huda Kebumen

Hidup berpisah dari orang tua di usianya yang masih 12 tahun membuatnya tersadar bahwa selama ini ia mendapat kasih sayang dari keluarganya. Dia sangat bisa merasakannya. Biasanya sepulang sekolah lepas pakaian asal taruh begitu saja. Di pesantren ia mencucinya sendiri, menjemur, hingga menyetrikanya. Jika tidak open (perhatian) pada pakaiannya, dengan mudah bisa tertukar dengan temannya atau hilang.

Aku juga melihat Uki kerepotan menghafal. Selama liburan itu, ia sering menyendiri di kamar dengan sebuah kitab di tangannya. Namanya kitab Jurumiyah. Yang ia hafal tidak hanya bait-baitnya tetapi juga artinya yang tertulis miring –dalam tulisan arab- di bawahnya juga ia hafalkan. Dalam hal akademik yang berhubungan dengan ilmu umum, Uki bisa mengimbanginya bahkan menguasainya. Namun dalam hal agama –khususnya menghafal- ia masih kuwalahan, dibanding beberapa temannya yang memang sudah nyantri sejak kecil.

Uki bukan berarti baru pertama mengenal cultur pesantren tradisional. Selama SD kelas 3-5 ia ikut madrasah di Majir. Pagi sekolah umum, sore ngaji madrasah. Setidaknya dia kenal dengan bahasa arab, alquran hadits, akidah akhak, tarikh islam, meski sedikit. Tentang ngaji Madrasah ini, Uki mengikuti jejakku, karena dulu aku juga begitu. Bedanya aku berangkat ke Majir –melewati 4 desa dengan bersepeda- sendirian, kalau uki sudah ada temannya. Aku berangkat dengan senang hati, kalau Uki berangkat sesekali dengan berat hati sampai-sampai Bapak mengantar jemputnya.

-#-

Motor sampai di pesantren Al Huda tepat ketika sholat ashar berjamaah para santri. Aku ikut sholat bersama ratusan santri. Aku ingat pesan Bapak yang sudah sering menjenguk Uki, kalau mau mencari Uki gampang. Dia selalu di baris pertama.

Seusai shalat ashar, para santri keluar berduyun-duyun dari mushola. Aku masih di dalam dan melihat Uki yang sedang mengambil kitab di tepi mushola itu. Aku berdiri dan memandangnya, tanpa memanggilnya. Pandanganku tertuju pada Al Quran mini berwarna merah yang Uki pegang. Aku jadi teringat sebulan yang lalu ketika Uki begitu senang menerima Al Quran itu dariku. Al Quran mini seperti selalu ada di saku Jaketku. Aku terharu melihatnya, air mataku mulai menepi tapi aku bersihkan agar ia tak tahu kalau aku hampir menangis.

Uki baru tersadar akan keberadaanku ketika di pintu keluar. Dia kaget dan begitu bahagia melihat kedatanganku. Dipeluknya diriku. Ia menatap wajahku dengan senyumnya. Namun aku bisa melihat sekilas, ada sedikit air mata yang menggenang di matanya. Air mata bahagia. Air mata kerinduan.

Aku mengajaknya keluar untuk jalan-jalan. Aku meminta izin ke pengurus agar Uki tidak ikut agenda ba’da ashar. Kami berjalan menuju masjid kauman yang mana kakakku telah menunggu di sana. Sepanjang perjalanan, Uki bercerita banyak sambil menggenggam erat tanganku.

Uki bercerita kalau kemampuan menghafalnya telah meningkat. Jika selama 2 bulan liburan di rumah Uki hanya bisa menghafal 4 halaman –kitab jurumiyah- dengan susah payah. Kini ia telah menghafal 14 halaman. Artinya, selama sebulan bisa menghafal 10 halaman. Ia bercerita dengan bersemangat. Aku tersenyum bahagia & ikut menyemangatinya.

Aku melihatnya lemas seperti tidak bergairah. Aku bertanya, kenapa dia terlihat lemas. Dan jawabannya membuatku kaget.

“Uki lagi puasa mas”

“Oh, lagi puasa. Pantes lemes. Pasti belum mandi sore ya?”

“Belum mas. Biasanya si kalau solat ashar pasti sudah mandi, tapi tadi belum mandi gara-gara ketiduran habis sholat dzuhur”

“ Ntar mandi dulu di masjid Kauman ya, biar seger & ga lemes”

“Ya mas”

Aku kagum sama Uki. Aku tidak puasa Senin ini karena tidak sahur dan sedang tidak ingin berpuasa.

Uki

“Sahur pake apa, Ki?

“Ga sahur mas”

“Lho kok ga sahur?”

“Kan mas sama mbak juga biasanya begitu, puasa ga sahur”

“Ya mbok sahurlah, walau air putih sama roti gitu”

“Nggih”

Ah, aku semakin malu dengan diriku sendiri.

Kami sampai di Masjid Kauman. Mbak sudah menunggu di sana. Kami bertiga ngobrol ini itu. Mendengarkan cerita Uki. Bapak Ibu juga telpon dari rumah, ikut ngobrol dengan Uki. Hingga maghrib hampir tiba kami ke pinggiran alun-alun Kebumen mencari tempat untuk makan bareng. Menemani Uki berbuka puasa.

“Di Ayam panggang yang itu aja gimana, Ki?”

“Uki ngikut mas saja. Terserahlah. Yang pasti Uki seneng makan di sini, lebih enak dibanding Nasi kerupuk kalau di pondok”, Jawabnya sambil nyengir.

-###-

Semawung, 25 Okt 2011
Pagi yg indah, -Baiti Jannati-

2 comments on “Uki anak Pesantren

  1. Ping-balik: Message from Uki « .: Petualang Kehidupan :.

  2. Fajar Rikarsa
    10 Oktober 2012

    Wah, sangat terharu dengan kesabaran uki. Senangnya kalau punya teman yang soleh kayak dia. .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 Oktober 2011 by in hikmah, sepotong episode and tagged .
%d blogger menyukai ini: