.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Sarimin

topeng monyet

“Sarimin pergi ke pasar”. Dumbrang.. dumbrang.. dumbrang..

Apa yang ada dalam bayanganmu? Aku tahu, pasti topeng monyet, Ya kan? Aku jadi teringat ketika kecil dulu. Ada tukang topeng monyet (kalau dalam bahasa aku : kethek ogleng) yang keliling kampung. Kalau ada yang nanggap, maka Sarimin mulai beraksi. Mulai dari pake payung, naek motor, hingga salto depan belakang.

Kemarin, ketika melewati perempatan Gejayan Ring Road Yogya, aku melihat topeng monyet lagi. Si monyet sedang beraksi. Dia membawa motornya sambil memakai topi aladin. Si pawang sedang menabuh gedombrang-dombrang. Sementara salah satu temannya keliling ke pengguna jalan yang sedang berhenti karena lampu merah sambil membawa kaleng, untuk meminta upah menonton si Sarimin. Tidak ada patokan, terserah mau ngasih berapa. Tidak ngasih juga tidak apa-apa.

Sarimin menikmati pekerjaannya. Aku bertanya, kenapa dia betah berpanas-panas ya?. Si Sarimin menjawab : “Nguk nguk, daripada susah nyari makan di gunung, mending begini aja. Makan terjamin, majikan gue baik kok. Ga Cuma dikasih pisang. Kadang nasi goreng, kadang roti bakar”. Dia tidak sadar, kalau si pawang dapat uang jauh lebih banyak daripada yang dinikmati Sarimin. Peduli apa, yang penting Sarimin ngerasa nyaman.

Aku jadi teringat status pak Purnomo, dosenku yang juga Facebooker. Dia menganalogikan Kera pemain topeng monyet dengan orang berpendidikan yang memilih bekerja untuk perusahaan asing. “Kok bekerja di Freeport? Membantu menggali kekayaan rakyat untuk asing. Kenapa tidak bekerja untuk bangsanya sendiri?”. Dengan santai dia menjawab, “Lha gajinya gedhe je, nyaman di sini. Mau apa saja dikasih. Hari gini susah nyari gaji gedhe mas”

Lampu merah berubah menjadi lampu hijau. Motor-motor mulai menancap gasnya. Mirip seperti balap motor. Semua ingin menjadi juara. Mereka melihat ring road seperti Sikuit Sepang. Mereka merasa menjadi Valentino Rossi, mungkin obsesi. Kali ini aku tidak ikut balapan. Aku masih kepikiran topeng monyet.

Ditengah perjalanan, ada suara di kepalaku. Sepertinya hanya aku yang mendengarkannya. Persis seperti suara yang tadi aku dengar di perempatan, hanya ada sedikit perbedaan.

Dumbrang.. dumbrang.. dumbrang.. “Sarimin pergi ke freeport”

Yogya, 31 Okt 2011
Ruang Tamu Asrama
Setelah jadi pembina Apel pagi.

7 comments on “Sarimin

  1. aghie.yoedha
    1 November 2011

    closing statementnya loh…

  2. alfanpresekal
    1 November 2011

    Sebuah ironi, mencoba mempersamakan topeng monyet dengan karyawan freeport . . . .

  3. Mukti Widodo
    2 November 2011

    Wah, menusuk-menusuk di hati, Wan.

    “then, what’s the solution?”

    sebenarnya ndak enak juga kalau harus selalu menyalahkan pemerintah, karena kita sendiri belum ada yang berani membuat perusahaan sebesar freeport sehingga pejabat Indonesia tidak perlu beralasan lagi “Wah, belum ada orang indo yang mampu ngelola emas cem fripot gitu”

    nah, kita kan sama-sama teknik mesin, Wan..
    Atur-atur ntar abis lulus lah ya😀

  4. agues
    28 Januari 2012

    Ohh gosh!bukan di freeport saja mas di Perusahaan tambang di provinsiku juga bgt,,inspiratif sekali,,:)

    • kangridwan
      19 Februari 2012

      🙂

  5. Kabul
    15 Oktober 2012

    saya sangat setuju sekali dengan mas ridwan
    semua sektor pertambangan and perminyakan juga dikuasai perusahaan asing🙂
    kerja itu g asal nyaman and dapet duit banyak
    duit itu timbal balik dari kita bekerja
    kalo menurutku tujuan bekerja itu ya membantu orang lain dan membuat diri kita bermanfaat buat orang lain atau masyarakat
    duit itu timbal balik dari manfaat yang kita berikan
    just my opinion
    keep writing, dude🙂

  6. jalil
    15 Oktober 2012

    jd mikir, apa yg bisa ane lakuin buat negeri??
    paling pol kerja bener & ga korupsi (uang). Uang? Ya, sebab potensi korupsi yg lain masih terbuka lebar.
    Ato, yg selama ini ane lakuin tu spt sarimin ya?

    Jalil (PNS dirjen pajak)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30 Oktober 2011 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: