.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Menawar Blangkon

jadi pembina apel, pake blangkon

Aku sudah lama di Jogja. Di TV, kalau mau membuat latar Jogja maka ada topi/penutup kepala khas bernama Blangkon. Maka, beberapa hari yang lalu ketika aku jalan-jalan ke malioboro aku sempatkan membeli blangkon, siapa tahu tambah keliatan ganteng.

“Blangkonnya yang ini berapa mas?” Aku mencoba menggunakannya sambil ngaca di depan cermin.

“Empat puluh ribu saja mas”

Hmm.. Batinku berkata, mahal banget bung. Aku kira harganya antara sepuluh sampai dua puluh ribu.

“Lima belas ribu gimana?” Aku tak peduli seandainya dia bakal marah-marah ke aku. Untung di Jogja. Orang-orangnya tidak akan mudah marah. Meski barang dagangannya dicoba-coba terus ditawar-tawar tapi kemudian tidak jadi beli.

“Belum dapat mas. Dua puluh lima ribu wis

Aku tidak menaikkan tawaranku. Kalau tidak ya sudah. Tapi aku yakin, dia bakal melepasnya dengan harga lima belas ribu.

Pernah ada kawan yang bilang begini: Wan, kamu tega banget ya masak nawar ga sampai separuhnya. Keterlaluan. Lalu aku jawab dengan santai: Lha salah siapa dia menjualnya dengan menaikkan lebih dari separuhnya, dia juga keterlaluan dong.

Namanya saja jual beli. Sah sah saja ada tawar menawar. Bahkan menurut ilmu ekonomi yang pernah saya cicipi ketika SMP dulu, dalam jual beli si penjual menurunkan harga dan si pembeli menaikkan tawaran. Maka akan ketemu harga kesepakatan.

Jual beli akan sah jika ada kesepakatan. Ada akad/pernyataan yang menunjukkan kesukarelaan kedua belah pihak. Sebenarnya mau memasang harga semahal apa, jika keduanya rela tidak masalah. Begitu pula sebaliknya.

Namun, bagaimanapun aku tetap kagum dengan manusia paling aku kagumi : Muhammad SAW. Ketika menjajakan dagangannya, cara beliau begini: “Barang ini aku beli dengan harga sekian. Kelebihannya ini, kelemahanannya ini. Anda mau membeli dengan memberi keuntungan saya berapa? Silahkan.”(kurang lebih redaksinya seperti itu)

Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan dikumpulkan bersama para nabi, para shiddiqin dan para syuhada” (HR. at-Tirmidzi dan ad-Darimi)

Sangat susah zaman sekarang mencari pedagang jujur. Kemarin ketika membuka parcel buah, ternyata keranjangnya diganjal dengan busa sehingga terlihat buahnya lebih banyak. Oalah. Pantaslah jika pedagang yang mengurangi timbangan (baca:curang) diancam dengan siksa yang mengerikan. Sementara pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan dikumpulkan bersama para nabi, para shiddiqin dan para syuhada.

 “Ya udah, kapan-kapan saja” Aku mulai meninggalkannya

“Tambah berapa gitu mas! Yaudah deh, mas mau ngambil berapa?”

Aha, tuh kan boleh juga. Untung saja aku tahu harga dan punya trik untuk menawar barang.

Yogya, 31 Okt 2011
– Kantor Asrama,
– Pasca Buka dengan yang manis.
– Sambil make Blankon
– Nunggu giliran tahsin

4 comments on “Menawar Blangkon

  1. D.sukoco
    31 Oktober 2011

    angkat blangkon dah aku wan,..hh

  2. eL_Shafrida
    31 Oktober 2011

    Tetep bagiku, koe tegel tenan, Nak =..=a

    • kangridwan
      31 Oktober 2011

      🙂

      mas-nya juga tegel.
      Kulak 10 ribu jual 40 ribu. Emangnya aku Bulee.
      Hahay..

      #kalo pas shoping aku ngajak U mungkin beda ceritanya ya?

  3. Zesy Yer Sona
    1 November 2011

    Ternyata abangku pinter nawar juga, nek lagi trip bareng ente berarti akne gag perlu nimbrung2 nawar,pan mas lebih pinter nawar…*saya ga tegaan…wong pedagang ja…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 31 Oktober 2011 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: