.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Dialog, aku dan kambing

Aku menuntun kambing ke tempat eksekusi. Dalam perjalanan, aku sempat bercakap dengan si kambing.

Aku         : Kau tidak takut mati, Mbing?

Kambing : Bukankah kau sendiri yang menuliskan di notemu: semua yang bernyawa pasti mati. Kenapa musti takut?

Aku          : Kau baca note ku?

Kambing : Iya dong, yang judulnya Cara Mati itu kan? Gini-gini aku juga gaul tau.

Aku           : Jadi, kau tidak takut nih?

Kambing : Aku justru bangga?

Aku           : Kenapa ?

Kambing : Aku akan mati terhormat, menjadi sarana manusia beribadah pada Tuhannya. Dagingku akan dinikmati oleh banyak orang. Banyak orang yang akan ikut bahagia. Hari raya semakin terasa sebagai hari raya. Daripada mati tak ada gunanya, seperti banyak manusia.

Aku            : Maksudmu?

Kambing  : Kan banyak tuh, manusia yang matinya sia-sia. Mati karena ngoplo, nge-drug, mati sedang berzina. Atau, mati tapi ninggalin banyak utang. Atau, mati tanpa bawa bekal yang cukup.

Aku           : Wah, kau sudah seperti ustad ya?

Kambing : Kau tidak lihat jenggotku? Hahay : Mbeek

Aku           : Bisa saja kau. Btw, kenapa kau semalam berteriak-teriak? Mengembek2? Katanya kau tidak takut?

Kambing : Itu caraku bertakbir. Aku tidak mau kalah sama kalian yang bertakbir di musola pakai corong. Jadi aku terpaksa teriak-teriak, meski kemudian capek juga. Trus takbirnya pelan & di hati deh

Aku            : Gitu ya? Aku salut sama kau Mbing.

Kambing : Kamu harusnya berteri makasih padaku, lebih tepatnya bersyukur pada Allah.

Aku            : Kenapa emangnya?

Kambing  : Kalau aja dulu nabi Ismail jadi disembelih dan Allah tidak menggantikan dia dengan kakek moyangku. Pasti ibadah kurban bukan menyembelih kambing atau ternak, tapi menyembelih anak laki-laki. Jadi kau tidak akan disini, Jo. Kamu udah disembelih bapakmu pas masih kecil.

Aku           : Alhamdulillah, tengkyu ya Mbing.

Kambing : You’re welcome

Aku           : Eh, sudah hampir sampai tempat pemotongan. Ada kata2 terakhir?

Kambing : Aku bukan manusia, yang mau mati aja kebanyakan mikir. Aku tidak punya harta yang aku sayangi. Nyawaku saja aku pasrahkan pada Tuhanku. Aku lebih memilih untuk berdzikir saja lah.

Aku serahkan kambing ke panitia kurban desa Ngabean. Si kambing mengembik keras-keras. Tapi aku mendengarnya, dia sedang bertakbir. Sama dengan takbir yang sedang diucapkan oleh anak-anak ngaben lor.

Kambing dijegal. Kaki depan dan belakang dipengang beberapa orang. Aku mengambil kamera untuk mendokumentasikannya. Si Kambing melirik ke arahku sambil tersenyum, seakan2 sedang berpesan: Jangan takut mati.

Aku membalas senyumnya, sambil memencet tombol kameraku. Tak lama kemudian, darah merah yang segar mengalir deras mengisi kubangan di tanah yang sebelumnya sudah terisi darah pengantri sebelum si kambing.

Tengkyu, ustad kambing.

 

 

semua bertakbir, mengagungkan asma-Nya

 

Asrama PPSDMS,
Hari Idul Qurban,
setelah rame2 makan sate kambing

4 comments on “Dialog, aku dan kambing

  1. hidatte
    7 November 2011

    ya ampuuun… sekarang bergaulnya sama kambing toh? pantesaaann…..

    • kangridwan
      7 November 2011

      biar ketularan jenggoten, hahay

  2. Royaraji
    7 November 2011

    setauku kambing jantan & kambing betina jenggotan deh..
    baru tau kl jenggotan jg bisa nular, nice info mas🙂

  3. hidatte
    8 November 2011

    Royaraji :
    setauku kambing jantan & kambing betina jenggotan deh..
    baru tau kl jenggotan jg bisa nular, nice info mas

    like this…hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 November 2011 by in opini, sepotong episode, syair.
%d blogger menyukai ini: