.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Gitu aja kok Freeport

Seandainya ada tamu berkunjung dan menginap di rumah kita, kemudian tamu itu tidak tahu diri dengan menguasai stok makanan di dapur, berlagak seperti tuan rumah, bahkan memperlakukan tuan rumah seperti pembantu, salahkah jika kemudian kita mengusir si tamu?

Agaknya analogi tersebut sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia dengan tamunya yaitu berbagai perusahaan asing di Indonesia, salah satunya adalah PT Freeport. Bagaimana bisa, negara Indonesia sebagai pemilik tanah Papua hanya mendapatkan jatah keuntungan 3,75 persen. Bahkan pada kenyataannya hanya satu persen. Sisanya? Dibawa oleh asing.

Cobalah sesekali bayangkan jika kita menjadi warga asli Papua. Rasakan bagaimana mereka diperlakukan tidak adil oleh negaranya sendiri. Mereka berjuang sendiri mengusir penjajah asing di tanah kelahirannya. Mau minta tolong pada siapa lagi ketika  pemerintah justru bermesraan dengan pihak Freeport dalam bingkai negosiasi.

Nasionalisasi Freeport merupakan satu-satunya solusi untuk perubahan. Sudah saatnya Freeport diambil alih bangsa sendiri. Kita bisa belajar dari Kuba dan Venezuela yang melakukan nasionalisasi terhadap tambang milik mereka. Kita juga harus belajar pada sejarah bahwa kita kita juga pernah melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan asing di era Bung Karno pada 1958 silam.

Nasionalisasi Freeport akan menjadi langkah awal bangsa Indonesia menuju kemandirian dalam menjalankan kedaulatan pemerintah dan ekonomi. Nasionalisasi Freeport dan semua perusahaan asing lainnya akan membuktikan bahwa pemerintah bersungguh sungguh dalam memperjuangkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.

Memang bukan hal yang mudah untuk melakukan Nasionalisasi. Bahkan ancaman sangsi denda yang besar membayanginya langkah. Namun segala keputusan selalu ada konsekuensinya. Wajar jika penjajah tidak mau diusir. Bagaimana mau pergi jika kita tidak mau mengusir? Mau menunggu emasnya habis?

Seandainya menasionalisasi Freeport dianggap melanggar perjanjian, bukankah membiarkannya seperti yang kita lihat sekarang melanggar amanat konstitusi? Cobalah tengok pasal 33 ayat 3 UUD 1945. Disebutkan bahwa kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi ini dikuasai oleh negara, bukan pihak asing. Ditambah lagi, kekayaan di dalam bumi itu dipergunakan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat bukan kemakmuran negara lain atau justru menderitakan rakyat.

Ada yang dengan nada pesimistis mengatakan bahwa sumber daya manusia kita belum mampu untuk mengolah tambang. Ah, itu hanya omong kosong. Berapa banyak insinyur Indonesia yang bekerja di luar negeri menjadi tenaga profesional? Lalu bagaimana kita bisa maju jika kita tidak mau belajar. Bagaimana kita bisa mandiri jika kita tidak mau mencoba.

Jadi, untuk menyelesaikan permasalahan Freeport sebenarnya mudah saja. Lakukan Nasionalisasi. Gitu aja kok Freeport, eh repot.

Yogya, 10 nov 2011

dimuat di okezone.com
http://kampus.okezone.com/read/2011/11/09/367/527205/gitu-aja-kok-freeport

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 November 2011 by in opini.
%d blogger menyukai ini: