.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

#capcus4, Tentang sepak bola

Setelah ada semacam meeting di footcourt, aku sholat Isya dulu di Masjid Mardiyah kampus UGM. Biasanya setelah isya, masih terlihat ramai masjid ini. Ada yang membentuk lingkaran kemudian membuka mushaf Al Quran, ada yang diskusi, ada yang tilawah, dan sebagainya.

Namun malam ini beda. Seusai shalat rawatib, aku sempatkan tilawah barang selembar. Lho, aku sendirian. Yang lain pada kemana ya? Ting ting ting, aku berpikir. O iya, ya. Malam ini ada pertandingan final sepakbola antara Indonesia vs Malaysia. Pantes saja, habis shalat pada kabur. Pasti lagi pada nongkrongin Tivi.

Sepanjang perjalanan ke Pogung, aku lihat jalanan lumayan sepi. Terlihat beberapa orang menggrombol di warung yang pasti ada Tivinya. Nonton bola. Melewati warung Burjo, tukang loundri, counter jual pulsa, bakul bensin eceran, sampai tukang fotokopi, suaranya sama : suara suporteran di Glora Bung Karno. Semua menonton pertandingan mahapenting ini.

“Apa sih asyiknya nonton sepak bola? Paling juga gitu-gitu aja, bola digiring kalo masuk gawang, ada yang seneng ada yang sedih. Capek-capek teriak-teriak, buang-buang waktu saja. Coba kalo buat nulis, bisa dapet berapa lembar tuh. Kalo buat mulung, bisa dapet berapa karung tuh. Kalo buat ini itu, yang produktif bisa lebih menghasilkan. Lagian, Cuma nonton. Kita ga ikut sehat, wong ga ikut berlari-lari. Beda kalo kita yang maen”, kata si Pedro yang ga suka nonton bola.

“Ga bisa begitu. Ini menyangkut nasionalisme. Biar Cuma sepak bola, itu mempertaruhkan harga diri Indonesia tau! Pak Mahfud MD aja sampe nonton di GBK. Kalo saja aku punya duit, pasti bakal aku belain ke Jakarta. Kalo-kalo ga dapet jatah tiket, setidaknya ikut bakar-bakar loket. Kamu ga liat, ni lambang Garuda di dada kiriku. Aku cinta Indonesia Bro!” Paijo yang demen bola mengeluarkan argumennya

Fuhh.. Aku ga ikut-ikut berdebat lah. Ngerjain urusanku. Buka laptop, pencet-pencet keybord sambil gerak-gerakin mouse. Kalo pas ada temen teriak-teriak, ikut nengok. Siapa tau gol. Hihihi. Nonton bola disambi. Tapi di akhir2, akhirnya aku tergoda juga buat nonton dengan khusuk. Bikin deg-degan si, pake ada adu pinalti segala lagi.

Singkat cerita, Indonesia kalah di adu pinalti. Harapan menang setelah terakhir menang bola di SEA Games pas aku masih usia setahun dulu, alias 20 tahun yang lalu, alias tahun 1991, kembali kandas. Dapet juara 2, lumayanlah. Tetep harus disyukurui.

Aku jadi mikir-mikir, sejak kapan ya aku suka sepak bola? Pas SD dulu, kalo olah raga maen bola pasti ga pernah dapet bola, kalo pun dapet itu karena ga sengaja bola ke oper ke aku. Kalopun dapet bola, segera aku oper ke kawan, meski sering salah oper. Intinya, aku ga jago maen bola.

Aku juga ga suka nonton bola : Mbosenin. Tapi tiba-tiba semua berubah ketika negara api menyerang. Maksudnya, aku jadi suka nonton bola karena suatu hal. Aku coba-coba main PS bola. Waktu itu masih rental sejam 1500. Tiada hari tanpa PS dan main bola. Aku kecanduan, gara-gara coba-coba. Selama sekitar sebulan aku rutin menjalani ritual itu: Main PS. Kejadian itu kalo ga salah ketika aku SMP. Mungkin itu yang membuat aku jadi pake kacamata. Jadi, awalnya aku pake kacamata  bukan karena kutu buku, tapi kutu PS, hehe.

Tak kenal maka tak sayang. Kini aku kenal sepak bola, maka aku sayang sama sepak bola. Aku mulai kenal klub-klub eropa yang biasa aku pilih buat main PS. Aku kenal nama-nama pemainnya. Aku nonton pertandingan-pertandingan BIG MATCH. Mengikuti jalannya Liga Champion Eropa, waktu Liverpool menang adu Pinalti sama AC Milan dan akhirnya dinobatkan jadi juara Eropa, aku mengikutinya.

Hingga kalau kau masuk ke kamar di rumahku, papan tempat gantungin pakaian, aku gambar 4 bendera negara. Negara itu adalah Portugal, Perancis, Belanda, Itali. Negara yang masuk semifinal Piala Dunia. Kalau tidak salah, aku sudah memasuki SMA.

Semua itu berawal dari mencoba, mengulang-ulang, akhirnya menjadi kebiasaan. Aku jadi merasa sepak bola mejadi hal yang penting dalam hidupku. Kok aneh ya, emang apa untungnya bagiku, kalo C.Ronaldo pindah ke Real Madrid. Kenapa aku mengikuti berita kabar Zidane setela nyeruduk Materazzi?

Aku tersadar, aku harus berubah. Jangan lagi diperbudak sepak bola. Akhir SMA aku mengurangi kecanduan itu. Aku tidak lagi mengikuti liga Inggris. Kalaupun pengin tahu berita tinggal nonton berita bola. Tidak kuper, tapi cukup nonton gol-gol. Tahu berapa skor & siapa yang ngegolin. Kalau ada yang ngajak PS, bisa kuladeni. Kalau tidak diajak ya ga usah nantang. Dan di Laptopku sekarang tidak ada instalan PES, so aku ga ada godaan buat kembali membuang2 waktu dengan berbola-fantasi.

Apalagi setelah memasuki kuliah. Jadi anak kos, anak asrama. Kalau mau nonton bisa sih. Tapi ada saja kerjaan yang menurutku lebih prioritas. Ada buku yang lebih menggoda utk aku baca. Ada saja baju kotor yang nunggu dicuci. Ada saja tugas kuliah yang perlu kupelajarai, kupahami.

Aku berharap euforia bermain bola tidak berlebihan. Bolehlah nonton bola, maen PS, cari info tentang bola. Untuk membuka wawasan, untuk inspirasi kehidupan, untuk mengakrabkan suasana. Jangan Berlebihan. Jangan sampai kita diperbudak oleh yang namanya Sepak Bola.

Jangan sampai sholat isya’nya kalah sama bola. Nunggu pas turun minum, atau nunggu selesai pertandingan. Jangan sampai tugas kuliah terlantar gara-gara maen PS. Jangan sampai keingin tahuan mencari wawasan bola mengalahkan keingintahuan memperdalam ilmu agama dan ilmu yang kita tekuni. Jangan sampai Sepak Bola menjadi Tuhan baru.

Ah, tulisanku acakadut, tak apa lah. Peduli amat. Amat aja ga peduli

Sekian, terimakasih
SALAM OLAHRAGA !!

22.11.2011
# kalah menang biasa, itulah kehidupan.
yang penting bagaimana kita menjalani proses pertandingan itu.
Pertandingan bernama kehidupan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 November 2011 by in sepotong episode and tagged .
%d blogger menyukai ini: