.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

1000 Candi ?


Ayam berkokok, adzan subuh berkumandang saling bersahutan, Kang Bondowoso belum juga menyelesaikan proyek 1000 candi untuk Jeng Jonggrang. Padahal deadlinenya ketika matahari nongol harus udah kelar itu kerjaan.

Bondo mencari-cari jin yang membantunya. Emosinya tersulut, kenapa jin bertitel insinyur sipil itu pada kabur. Padahal di kontraknya sudah jelas : akan membantu pembangunan 1000 candi sampai selesai. Ia kembali melihat MoU antara mereka, barangkali ada kesalahan redaksi. Ah, masa bodoh semua udah terlanjur. Proyek gagal. Tidak ada gunanya marah-marah. Mending ambil air wudhu berangkat ke masjid.

Di tengah perjalanan, ia ketemu dengan insinyur Jin beserta anak buahnya.

“Kenapa tadi pas dengar adzan pada kabur? Padahal adzannya jam 3 pagi, belum masuk subuh tuh. Hmm.. jangan-jangan jeng Jonggrang melakukan konspirasi” Bondo curiga.

“Gini kang, kalo di sini ada adzan jam 3 itu bukan mengada-ada. Disini emang begitu, namanya adzan pertama. Zaman Rosulullah dulu juga ada” Jin Koplak menjelaskan

“Trus, kenapa kalian pada pergi ? Bukannya di MoU kalian menyepakati akan membantuku sepenuh hati, sepenuh jiwa dan raga ? ” Bondo agaknya masih menyesali kegagalannya.

“Adzan itu mengingatkan bahwa sudah masuk sepertiga malam terakhir, ya kami sholat tahajud lah. Bukannya di MoU, ada kesepakatan boleh menjalankan yang berhubungan ibadah? “ Giliran Jin Preketek yang menjelaskan

“O, gitu ya? Trus kalian mau kemana sekarang?”

“ Ya sholat subuh lah. Ke masjid gitu. Kang, kami mohon maaf ya. Kami udah berusaha semaksimal mungkin. Sampeyan jangan bersedih terus. Wanita di dunia ini tidak Cuma Jeng Jonggrang. Kalau memang jodoh, ga bakal kemana. Pasti ketemu. Ga peduli candinya udah kelar atau belum. Ikhlasin kang. Yang penting udah berusaha maksimal ”, Jin Koplak mencoba menenangkan.

Masjid terlihat ramai. Meski subuh, jamaahnya tidak kalah dengan jamaah sholat Jumat. Bahkan lebih ramai shalat subuh. Bagaiman tidak? Kalau sholat jumat yang datang hanya jamaah cowok, lha ini cowok cewek. Belum lagi, mereka belum pada berangkat kerja, trus ketambahan para pedagang di pasar Klotokan juga pada ikut sholat disitu.

Baru 5 menit adzan selesai, Bondo terpaksa menempati shaf ke 5. Shaf depannya sudah penuh. Sambil menungu waktu iqomah ada yang shalat rawatib, ada yang tilawah, ada yang berdzikir. Sementara di lantai 2, jamaah cewek juga tidak kalah ramai. Mereka juga melakukan hal yang sama. Seorang jamaah cewek yang menggunakan mukena biru muda polos, memanjatkan doa khusus. Di antara adzan dan iqomah katanya merupakan waktu yang mustajab buat berdoa. Sesekali ia menangis dalam doanya.

Shalat subuh telah usai. Jamaah mulai meninggalkan masjid, menuju aktivitasnya masing-masing. Ada yang ke pasar, ada yang bersiap-siap ke kantor, ada yang melanjutkan memasak, yang jelas tidak ada yang tidur lagi. Sebagian masih ada di masjid untuk mengkaji agama, menyetor hafalan, dan dzikir pagi hari.

Bondo duduk di taman masjid. Ia menundukkan kepalanya. Entah apa yang dipikirkannya. Berkecamuk mungkin. Ia hanya mencoba ikhlas menghadapi apa yang akan dilaminya beberapa saat lagi.

Yang ditunggu datang juga. Jeng Jonggrang masih menggunakan mukena biru muda polosnya.

“Bagaimana, candinya?” Jeng Jonggrang bertanya sambil tersenyum manis.

Bondo memberanikan diri menatap orang yang bertanya tadi, kemudian menggeleng pelan.

“Belum ada 1000, maaf. Padahal aku sudah begadang semalaman. Minum kopi dua gelas, gula 4 sendok, mi goreng ga pake telor dua porsi. Tapi ternyata aku belum berhasil. Sekali lagi, maaf” Bondo menyampaikan dengan suara lirinya.

“Trus, jadinya ada berapa?”

“Hitung aja sendiri”

“Capek ah. Udah aku anggep 1000, itu di belakang sini aku anggap ada candi yang tidak terlihat. Aku menghargai usahamu, kang”

“Jadi ??” Senyum Bondo mulai terkembang

“Ya, aku menerimamu. Besok datang saja ke rumahku, temui Bapakku”

“Alhamdulillah”, Bondo berdiri kemudian menghadap ke Barat. Ia melakukan sujud syukur.

Bondo pulang kegirangan, sementara Jonggrang membuka kertas berukuran A3 yang tadi diserahkan oleh Bondo tadi, ia melihat gambar di kertas itu sambil ternyum. Gambar candi yang banyak sekali.

Iklan

2 comments on “1000 Candi ?

  1. rouhillahi
    18 Desember 2011

    lucu tapi tetep bermakna

    • kangridwan
      19 Desember 2011

      makasihh Helena

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30 November 2011 by in Cerita Fiksi, hikmah.
%d blogger menyukai ini: