.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Sapi

Seorang guru bijaksana ingin mengajarkan ilmu tentang rahasia kehidupan kepada muridnya. Diajaknya si murid menuju sebuah perkampungan miskin dengan berjalan kaki. Si murid diminta gurunya mencari keluarga termiskin di perkampungan itu untuk kemudian dijadikan tempat mereka bermalam.

Tidak lama kemudian, ditemukanlah keluarga termiskin tersebut. Dengan sikap yang sangat ramah, kedua musafir tersebut diterima dengan baik. Keluarga tersebut terdiri dari 9 orang. Bapak, ibu, kakek, nenek dan 5 orang anak. Rumahnya bisa dibilang sempit jika dihuni 9 orang. Lantainya tanah, dindingnya bukan dari batu-bata melainkan hanya anyaman bambu.

Di tengah kemiskinan akut yang diderita, ada sebuah fakta unik dari keluarga ini. Di halaman belakang rumah keluarga miskin ini terdapat kandang sapi. Ternyata keluarga miskin ini bisa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan seekor sapi. Sapi yang dimilikinya juga sedikit mengangkat status sosial di tengah predikat warga termiskin.

“Perah susu sapinya !”

“Sapinya sudah kenyang kan?”

“Jangan lupa masukkan ke kandang dan dikunci kandangnya!”

Malam tiba. Guru, murid dan keluarga miskin tersebut tidur beralaskan tikar di lantai. Jangankan kasur, meja kursi saja mereka tidak punya. Ruang tempat mereka tidur adalah ruang tamu sekaligus ruang keluarga sekaligus ruang makan dan sekaligus lainnya. Guru telah berpesan kepada tuan rumah jika besok pagi mereka berdua tidak ada itu berarti telah melanjutkan perjalanan.

Di tengah malam ketika semua terlelap, Guru membangunkan murid dan menyuruhnya berkemas. Si murid mengikuti perintah gurunya. Ia masih penasaran dengan pelajaran yang akan diberikan gurunya. Apa yang akan dilakukan gurunya pada keluarga miskin tersebut.

Keduanya mengendap-endap keluar. Membuka pintu dan menutupnya kembali dengan hati-hati jangan sampai membangunkan tuan rumah. Kemudian guru mengajak murid ke belakang rumah tersebut menuju kandang sapi.

“Tunggu di sini!”, si murid hanya mengikuti perintah gurunya.

Guru tersebut masuk kandang sapi. Ia mengeluarkan belati yang sangat tajam. Sapi tersebut digorok lehernya hingga mati seketika. Sebegitu cepatnya, sapi tersebut tidak sempat mengeluarkan suaranya. Guru kembali ke muridnya dengan pakaian yang bersimbah darah.

Murid kaget bukan kepalang. Perasaannya terguncang. Bagaimana mungkin keluarga miskin yang telah menjamu mereka dengan baik justru sumber kehidupannya dimatikan. Ia protes kepada gurunya. Namun guru menyuruhnya diam dan mengajaknya segera pulang.

—-)(—-

Setahun kemudian, guru mengajak muridnya kembali ke perkampungan miskin tersebut. Mereka menuju rumah tempat dulu mereka singgah. Rumah itu tidak ada. Di tanah tempat seharusnya rumah itu ada, telah beridiri rumah cukup megah bergaya minimalis.

Murid kembali teringat dengan kejadian setahun yang lalu. Jangan-jangan keluarga miskin itu setelah sapinya mati, terpaksa menjual tanahnya dengan harga murah. Seseorang pemuda membukakan pintu. Tubuhnya bersih, pakaiannya juga terlihat rapi. Dugaan si murid semakin kuat.

Setelah ngobrol beberapa saat, terungkaplah bahwa ternyata pemuda tersebut adalah anak pertama dari keluarga miskin yang dulu mereka temui. Bahkan ia masih ingat betul dengan kedua tamunya tersebut. Ia dan keluarganya tidak menaruh curiga sedikitpun bahwa pembunuh sapinya adalah tamu di hadapanya.

“Bagaimana ceritanya keluarga kalian bisa berubah drastis seperti ini?”, murid semakin penasaran.

“Sepulang kalian berdua dari rumah kami, kami dapati sapi kami dibunuh orang. Kami mengalami frustasi yang sangat mendalam. Namun keadaan memaksa kami untuk melakukan sesuatu atau kami akan mati kelaparan. Akhirnya halaman belakang kami tanami sayuran untuk kami makan dan dijual ke pasar.

Dengan perjuangan yang sangat berat, sayuran kami laku keras. Kemudian kami menyewa tanah orang untuk ditanami sayuran. Begitu seterusnya, usaha keluarga kami berkembang dengan pesat hingga kami bisa membangun rumah baru. Sampai sekarang, usaha ini masih dikembangkan terus menerus. Sepertinya, kami perlu berterimakasih pada orang iseng yang membunuh sapi kami”

Setelah berbincang cukup lama, guru dan murid memohon pamit. Di tengah perjalanan, sang guru membuka pelajarannya.

“Sekarang, apakah kamu sudah mengerti? Sapi yang dulu mereka anggap sebagai harta paling berharga dan satu-satunya sumber penghidupan ternyata borgol yang membelenggu mereka pada kehidupan miskin. Mereka pikir sapi tersebut bisa menghindarkan dari kemiskinan yang tanpa sadar sebenarnya keadaan mereka sudah miskin”

Sang murid mendengarkan gurunya sambil pikirannya melayang membayangkan apa yang telah terjadi pada keluarga miskin itu.

“Kita semua mempunyai sapi dalam kehidupan. Sapi itu berupa keadaan nyaman yang melenakan kita untuk berubah menjadi lebih baik. Keadaan nyaman itu seringkali membuat kita statis dan tidak berkembang. Pertanyaannya adalah “sapi” apa yang ada di belakang rumah kita dan bagaimana kita menyikapinya? “

Yogya, 7 Desember
Asrama Jingga, hati Jingga

Iklan

5 comments on “Sapi

  1. Novi Trilisiana
    7 Desember 2011

    super…

  2. fir
    14 Desember 2011

    Keadaan nyaman itu seringkali membuat kita dinamis dan tidak
    berkembang

    sy kurang mengerti dan merasa agak rancu dengan gabungan kata “dinamis dan tidak berkembang”

    bukannya tidak berkembang itu lebih identik dengan statis?

    ah, gag tau juga sih..
    😉

    • kangridwan
      16 Desember 2011

      tengkyu koreksinya Fir, udah saya ralat kok

  3. Galih Utami
    16 Desember 2011

    ijin share yakk.. syukron

    • kangridwan
      16 Desember 2011

      monggo galih,
      dengan senang hati,
      matur nuwun..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Desember 2011 by in Cerita Fiksi, hikmah.
%d blogger menyukai ini: