.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Paijo Belajar Berkuda

“Kau harus mampu menunggang kuda dengan lihai jika ingin menikahiku. Itu syaratnya”, suara Jubaedah masih terngiang-ngiang di telinga Paijo. Dia harus belajar menunggang kuda sampai lihai.

Paijo memutuskan untuk berkelana dari kampung ke kampung untuk mencari guru berkuda baginya. Demi cintanya pada Jubaedah. Setelah melewati sekian banyak kampung. Mendaki gunung dan melewati lembah. Akhirnya, ketika berteduh di bawah pohon mangga ia melihat seorang kakek yang memiliki banyak kuda. Ia pun mendatanginya.

“Wahai kakek, saya ingin belajar berkuda dari Anda !”, kata Paijo dengan begitu semangat.

“Yakin?”

“Yakin, Kek!”, logat Paijo seperti seorang polisi yang lapor kepada atasannya.

“Kalau begitu, kau panggil aku Guru”

“Siap, Guru!”

“Kau harus melakukan semua perintahku, tanpa banyak tanya. Apapun itu”

“Siap Guru ! Sekarang apa yang harus saya lakukan ?”

“Kau lihat disana? Itu adalah kandang kuda. Sekarang, kau bersihkan kandang kuda itu sampai bersih tidak ada kotoran, tidak ada bau !”

Paijo dengan sigap berlari ke kandang kuda. Wow, ternyata kandangnya sangat luas. Namun, ia pantang mengeluh. Ia justru bahagia mendapatkan tugas barunya itu.  Dengan senang hati ia bersihkan kandang kuda itu satu persatu.

Setelah 3 hari, tugasnya hampir selesai. Sebenarnya Paijo sempat mengeluh juga. Apa-apaan ini, mau belajar berkuda malahan disuruh membersihkan kandang. Tapi ia cukup mengatakannya dalam hati. Ia tidak ingin mengecewakan gurunya.

“Kandang sudah bersih Guru! Kapan saya mulai belajar menunggang kuda?” Wajah Paijo berseri-seri di hadapan Gurunya.

Guru tersenyum.

“Sebentar, kau harus melanjutkan tugas berikutnya terlebih dahulu, sebelum menunggang kuda”

“Apa itu, Guru?”

“Kau pilih kuda terbaik menurutmu, kemudian kau mandikan kuda itu”

“Siap Guru !”

Paijo memilih kuda putih yang gagah. Ia tuntun kuda itu ke sungai kemudian ia bersihkan sampai kinclong sambil membayangkan ia menaikinya menuju rumah Jubaedah. Pangeran berkuda putih datang.

Paijo iseng mencoba menunggangi kuda itu. Ia tepuk-tepuk kudanya, tapi tidak mau jalan. Ia jewer telinga kudanya, tetap saja tidak mau melangkahkan kaki. Ia periksa samping kiri kanan, tidak ada stop kontaknya. Bagaimana cara mengendari kuda ya ? Ah, mungkin aku harus lebih bersabar, diajar oleh Guru.

“Kuda sudah saya mandikan sampai bersih, Guru. Kapan saya diajari menunggang kuda?”

“Itu baru satu kuda. Sepertinya kuda yang lain juga ingin bersih juga. Sekarang kau mandikan semua kuda di kandang itu!”

“Ha ? Saya memandikan 200 kuda, Guru?” Paijo kaget.

“Kau tidak mau?”

“O.. o.. oke Guru, Siap !!”

Paijo mulai agak kesal dengan gurunya. Tapi ia berusaha tabah menjalaninya. Kemudian muncul ide di kepala Paijo. Kenapa tidak belajar langsung dengan melihat gurunya berkuda ?

Paijo bersembunyi di semak-semak sambil memperhatikan bagaimana cara Guru mengendarai kuda. Selidik punya selidik, ternyata begitu mudah. Kalau ingin membuat kuda mau berjalan, tinggal mengatakan kata kunci “Slamet!” maka kudanya akan berjalan.

Sore harinya, Paijo masih di semak-semak menunggu Gurunya pulang ngajar Ngaji. Ia ingin tahu bagaimana cara menghentikan kudanya. Ah, ternyata sangat sederhana. Tinggal mengatakan “Hop”, maka kuda akan berhenti saat itu juga.

Keesokan harinya, sang Guru bepergian mengisi Training di luar kota. Paijo ingin memanfaatkan kesempatan untuk mempraktekkan ilmunya. Ia mengambil kuda putihnya dari kandang kemudian menungganginya.

“Slamet..”

Kuda putih mulai berjalan perlahan tapi gagah. Paijo girang dibuatnya.

“Slamet !!” Paijo sedikit berteriak, kuda pun mulai berlari.

“Slameet !!” Kuda berlari semakin kencang.

Paijo bangga bisa mengendarai kuda. Ia memasuki jalan desa. Orang-orang dibuatnya kagum. Ia melewati pasar, semakin banyak orang yang bertepuk tangan.

“Slamet !!” Kuda semakin kencang dan Paijo seperti ahli kuda termahir sedunia.

Kuda terus berlari hingga menembus hutan, debu-debu beterbangan menandakan jejak lari kuda putih. Pohon-pohon seakan-akan bergerak begitu cepat seperti ingin menghantam Paijo. Namun, ternyata Paijo begitu mahir memainkan kudanya. Persis seperti di film Indiana Jones.

“Slamet !!” Kuda seperti kecepatan yang unlimited. Semakin kencang dan semakin kencang.

Tiba-tiba ..

Paijo terkejut.

Di hadapannya ada jurang lebar nan dalam. Hanya berjarak 10 meter.

“Stoop!!!” Kuda tidak berhenti

“Mandeeeg!!” Paijo menepuk nepuk leher kuda.

“Kiri mas!!” malah seperti naek angkot saja.

“Berhenti !!!!” Paijo yang begitu panik sampai lupa apa yang seharusnya diucapkan.

3 meter dari tepi jurang

“Hoooooooop !”

Ciiiiiiiiit. Kuda berhenti sampai ngepot. Debu-debu mengepul begitu banyak di tepi jurang itu. Dilihatnya jurang tepat di hadapan Paijo. Kaki depan Kuda putih hanya berjarak 2 milimeter dari batu ujung jurang itu. Tidak terbayang apa yang terjadi jika dia lupa dengan kata “Hop” untuk membuat kuda puth berhenti dari larinya.

Paijo mengelus dada. Ia sangat bersyukur.

“Alhamdulillah… Slamet”

%#$@%&^%$

🙂

Ada banyak hikmah dari cerita ini, silahkan kau ambil sendiri.

Yogya, 17 Des 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17 Desember 2011 by in Cerita Fiksi, hikmah.
%d blogger menyukai ini: