.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Milih Jurusan

#teruntuk kawan-kawanku, para mahasiswi.
para calon ibu pendidik generasi harapan
para calon isteri penyangga tiang negara
 

“Yah,  Fitri mau konsultasi sama Ayah nih”, aku mencoba mengawali perbincanganku sore ini.

Sudah menjadi kebiasaan di rumah kami, setelah shalat maghrib masing-masing anggota keluarga tilawah Al Quran di ruang tamu. Setelah itu ada waktu yang pas untuk sharing dengan anggota keluarga lain. Sering pula kami bermusyawarah di forum santai ini.

“Gimana? Mau cerita apa Nak?”

Ayah menutup Mushafnya kemudian meletakkan di tempatnya. Ia masih menggunakan stelan sarung dan baju koko putih yang sering digunakan tiap kali ke Masjid. Peci putih masih bertengger di atas kepalanya, menutupi rambutnya yang sudah terlihat beberapa uban di sana sini.

“Fitri butuh masukan Ayah, mau milih jurusan apa di formulir SPMB ini. Kalau Bu Erni sih nyaranin Fitri buat milih jurusan Akuntansi, lagian kemarin kan Fitri pernah menjuarai olimpiade Akutansi di Provinsi Pak. Fitri juga tertarik untuk memilih jurusan Akuntansi. Menurut Ayah gimana?”

“Kau yakin dengan jurusan yang kau pilih itu, Nak?”

Ayah melepas kacamata bacanya. Memandangku lekat-lekat.

“Makanya, Fitri minta masukan Ayah”

“Ayah ingin tanya sama kamu. Jawaban pertanyaan ini merupakan kunci untuk kamu memilih jurusan. Kamu nanti ketika sudah dewasa, lepas dari orang tua, pertimbangan kamu terbesar hidup di dunia ini mana? Rumah? Pabrik? Parlemen? Kampus? Apa masyarakat? Mana yang paling kamu anggap menjadi pertimbangan terbesar dalam urusan hidupmu?”

“Ya rumah lah Yah. Bagaimanapun juga nanti ujung-ujungnya adalah membangun keluarga yang harmonis, yang bahagia.”

Tumben-tumbenan, Ayah terlihat bicara serius dan panjang lebar. Biasanya beliau lebih banyak mendengarkan curhatanku daripada memberi nasehat. Kalaupun menasehatiku, pedek dan dalam maknanya.

“Nah, kalau kamu sudah menentukan rumah sebagai segala-galanya di antara yang lain maka carilah pendidikan yang bisa membuat kamu bermakna di rumah tanggamu. Kalau kamu kuliah di akuntan kamu harus kerja di Bank atau perusahaan atau di pajak. Pertama, kamu sudah punya atasan dan hidupmu akan dijadwal. Kebanyakan mereka berangakt jam setengah 7 pagi, pulang jam 6 malam. Itu kalau di Jogja. Kalau di Jakarta, banyak yang pergi sebelum anak bangun dan pulang setelah anak tidur. Kira-kira ilmumu itu mendukung posisimu sebagai istri dan ibu dirumah, atau malah memperlemah?”

“Hm.., ya memperlemah lah Yah”

Aku jadi membayangkan, bagaimana nanti aku bisa mengasuh anak dan melayani suami dengan baik kalau jarang di rumah? Masak tugasku diambil alih oleh pembantu. Ah, aku tidak rela.

“Nah kalau kamu sudah paham, carilah jurusan ketika kamu punya ilmu, ilmu itu mendukung peran kamu sebagai isteri dan sebagai ibu. Meskipun kamu nanti bisa berkarir bermanfaat bagi masyarakat. Kalau kedokteran jelas kamu ga bisa, wong kamu IPS”

“Betul juga ya, Yah. Kalo begitu Fitri milih Psikologi, Keguruan, sama Sosiologi deh. ”

Aku mantab memilih pilihanku ini. Ketiga ilmu ini akan sangat bermanfaat bagiku ketika kelak nanti menjadi isteri, ibu, dan juga ketika bermasyarakat.

Adzan isya’ berkumandang. Kami bersiap-siap pergi ke masjid.

Yogya, 20 Desember 2011

wanita tetaplah wanita

maksud tulisanku bukan tentang jurusan yang baik, tapi mau ngingetin temen2 hawa yang kadang lupa dengan hakekat mereka. Sampai lupa bahwa kelak mereka memiliki tanggung jawab besar sebagia ibu & isteri. Lupa mempersiapkannya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 Desember 2011 by in Cerita Fiksi, hikmah.
%d blogger menyukai ini: