.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Super Nyebelin

[cerita Fiksi]
Mohon tanggapannya, mohon masukannya. Saya masih belajar menulis cerpen, belajar menulis fiksi.
Please…
Mohon Maap kalo cerpennya ga mutu. Namanya juga lagi belajar.
 
 

Sebel, bener- bener sebel. Sangat sebel. Sebel banget. Super sebel. Dia bener-bener nyebelin. Sangat nyebelin. Super nyebelin. Ingin rasanya kusemprot habis-habisan pake semprotan yang bikin hati basah kuyup. Biar dia juga merasakan betapa kuyupnya hatiku karena sikapnya. Karena kecuekannya.

Kata-katanya yang nylekit tadi membuat dia menjadi orang paling males kulihat. Penampilannya menjadi tidak menarik babar blas. Ranguati. Sementara penampilanku, (kata orang sih) sangat menarik. Aku begitu tampan, wangi,  selalu beraroma Casablanka, Flamboyan, meski parfum yang kubeli harga obralan . Gaya bicaraku dan bahasa tubuhku begitu elegan, begitu smart, menjadi magnet berdaya sedot tinggi bagi semua wanita model apapun. Leonardo di Caprio cuma lewat numpang permisi di depanku.

“Liat saja tuh Jo, cewek yang pakai lekton di pojok sana dari tadi memandangimu sambil ndomblong penuh nafsu” kata si John. Kawanku yang nama aslinya Jono, tapi pengin dipanggil John.

Aku membalas pandangan cewek berbaju lekton, alias kelek keton. Atau dalam bahasa inggrisnya you can see my ketek, it’s open up to you all. Free for you. Dia segera memalingkan wajahnya sambil menghisap rokok yang terjepit di antara kedua jari tangan kirinya. Hampir saja dia salah hisap. Yang menyala yang dimasukin ke mulut. Tidak salah lagi, dia pasti salah tingkah.

Memang bukan kamu doang kok yang bilang gitu, John, gumamku. Masih banyak cewek di luar sana yang klepek-klepek melihatku. Banyak banget deh di luar sana. Berkarung-karung deh, kalau mau kukarungin. Kalau saja iklan axe yang di Tipi itu benar, rumahku pasti sudah rusak gara-gara semua bidadari di langit pada jatuh pengin mendekatiku.

Sementara di sini. Orang itu lagi-lagi membuatku sebel. Entah sudah berapa kali. Namun aku tak tahu kenapa aku sejauh ini masih bisa bertahan dengannya. Ego nya itu loh, benar-benar ga nguatin. Sungguh keras kepala. Sengak. Masih mending kalau sengak-sengak basah. Lha ini, sengak nylekit je.

Bagaimana tidak merasa dilecehkan harga diriku? Bayangin deh Bro, sebagai lelaki normal yang bertanggung jawab, yang sudah memberikan semua yang terbaik untuk dia, nggak pernah bilang nggak tiap kali dia minta, aku cuma pengin dibuatin mie goreng telur eh malah dicuekin. Padahal bumbu-bumbunya sudah tersedia komplet. Tadinya sempat kebayang pengin masak bareng di dapur biar tambah romantis tapi semua sirna karena kecuekannya.

Gimana nggak nyebelin? Nyebelin banget kan? Belum lagi ketika aku ulang lagi permintaanku ini sambil bertanya, “Denger nggak sih?”. Ya ampun, tahu nggak mulut pedasnya bilang apa? “Males ah”

Grrrrr. Benar-benar sikap acuh yang melecehkan kemuliaanku dan harga diriku sebagai sang imam.

Hatiku panas membara. Tak ada termometer yang bisa mengukur seberapa panas. Mungkin kalaupun ada termometer itu akan langsung pecah tidak kuat menahan panas. Emosi bener-bener emosi. Aku hanya mengendus menahan murka atas pelecehan ini.

Kuputuskan malam ini untuk diam sampai besok, sampai dia sadar kalau aku sedang esmosi tingkat dewa, sampai dia merengek-rengek mohon ampun padaku dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sampai kehormatanku sebagai imam kembali lagi.

Dalam keheningan malam ini aku berdialog dengan suara-suara egoku dalam pikiran. Sesekali aku teringat ucapan si Warno. Kawanku yang sudah berkali-kali nikah dan cerai. Entah dimana dia sekarang dan dengan istri yang keberapa. Apakah sudah ia ceraikan lagi. Entahlah.

“Wanita itu, asal kau buat dia tergantung kebutuhan hidupnya padamu, semua beres. Kau bisa perlakukan dia bagaimanapun kau mau. Mau kau jadikan dia tempe bisa, jadikan sandal jepit bisa, jadikan kacang goreng bisa. Apapun maumu bisa. Asal itu tadi, syaratnya kau penuhi”

Ah, aku kurang begitu paham dengan kata-kata si Warno yang macho ga pake L itu. Namun tiba-tiba ada suara provokasi. Masih di kepalaku juga.

“Sudah, campakkan saja dia. Ceraikan saja. Kamu ini lelaki mapan tau! Memangnya wanita di dunia ini cuma dia saja. Banyak tuh yang udah antri siap menggantikannya. Gitu aja kok repot”

Aku masih mondar mandir seperti seterika. Duduk. Berdiri. Mondar-mandir lagi, sambil mendengarkan kecamuk dalam pikiranku. Aku melihat dia sedang tidur begitu lelapnya sampai aku mendengar dengkurannya dari sini. Begitu nyaman begitu damai, kontras dengan apa yang sedang aku rasakan.

Bayangan wanita-wanita yang pernah singgah di hatiku bermunculan. Si anu, si ini, si itu, kemudian berganti wajah istriku. Pindah lagi ke senyumnya si anu, si ini, si itu, istriku lagi, dan seterusnya. Semua wajah mereka begitu manis, ramah, perhatian, sayang, dan penuh pengertian. Kecuali wajah perempuan yang sedang mendengkur itu.

-//-

“Bangun, udah siang nih. Belum shalat subuh kan?” Daun telingaku menangkap suara itu, melewatkannya melalui lubang telinga kemudian gendang telinga menangkapnya dan menyalurkannya ke otak ku melalui saraf-saraf pendengaran. Perlahan mataku terbuka, kutangkap sesosok wajah dengan senyum termanisnya.

“Ayo bangun, sholat dulu, Mas!”

Suara itu sangat kukenal, amat sangat kuhafal. Tak ada yang berubah seperti hari-hari biasanya. Intonasinya, kelembutannya, keramahannya. Kutengok jam tangan yang selalu melingkar di lengan kiriku. Astaghfirullah!! Jam 5.15. Kubuka korden, langit sudah terlihat putih.

“Tadi sudah aku bangunin berkali-kali lho Mas. Zaki juga sudah kusuruh bangunin bapaknya tapi ga bangun bangun. Semalam tidur jam berapa to Mas?”

Aku segera meloncat, menuju kamar mandi. Tanpa menjawab pertanyaannya. Mengambil air wudhu dan sholat subuh. Seusai sholat subuh aku beristighfar sebanyak-banyaknya. Senyum pertama yang kulihat ketika bangun tidur tadi masih terbayang. Suara lembutnya masih terngiang-ngiang. Kalau tidak ada dia, siapa lagi yang membangunkanku shalat subuh. Shalat subuhku pasti blabas.

Aku menuju ruang tengah. Zaki, jagoan kecilku masih mengerjakan PR-nya. Masih menggunakan sarung dan peci. Pasti baru saja dia selesai ngaji diajari ibunya.

“Pa, tadi Ipung juga sholat subuh di masjid loh. Kemarin sore sudah janjian kalau mau berangkat sholat subuh bareng. Papa sih, dibangunin susah”. Aku hanya tersenyum

“Mas, nih kopinya di meja komputer.” Suara lembutnya terdengar lagi. Aku menyalakan komputer kerjaku, sambil menikmati kopi manis ini. Mungkin tanpa gula pun sudah terasa manis, karena pembuatnya begitu manis. Ah, jadi ingat gombalanku di hari-hari awal pernikahan kami.

Beberapa saat kemudian terdengar suara khas dapur. Aku bisa menebak ia sedang meracik bumbu, menanak nasi, menggoreng tempe, mencuci piring, mengerjakan ini dan itu. Rutinitas pagi harinya. Sesekali dia ke ruang tengah ketika Zaki kesulitan mengerjakan soal dari gurunya itu. Aku begitu hafal dengan siklus hariannya ini. Sejam lagi dia akan memanggilku. “Sarapannya sudah siap. Di sini atau di meja komputer “

Kunyalakan komputerku. Kusruput lagi kopiku. Kalau saja dia tahu apa yang kurasakan semalam. Kalau saja aku mengikuti perkataan setan di pikiranku semalam. Aku mentalaknya tiga sekaligus. Pagi ini mana mungkin aku bisa sholat subuh, merasakan kopi manis ini, disiapkan sarapannya. Siapa lagi yang mengajari anakku mengaji, menyuruhnya berangkat ke masjid sampai mengajak temannya.

Komputer sudah menyala. Namun pikiranku kembali melayang. Memutar kembali bagaimana perjuanganku mendapatkan isteriku ini. Meski begitu banyak wanita yang mengejarku sampai jatuh bangun. Kenapa aku hanya condong pada dia? Meski banyak yang lebih cantik dari dia, tapi kenapa pilihanku jatuh pada dia? Ah, innerbeauty-nya memang tak tertandingi. Tak sia-sia aku berdoa pada Tuhan agar dikaruniai isteri sholihah yang setia pada suaminya.

“Sarapannya sudah siap. Di sini atau di meja komputer ?“

            Aku masih terdiam.

            “Kok belum mulai menulis? Kita sarapan bareng yuk! Ada menu spesial hari ini”

Ia mendatangiku, menarik tanganku manja. Seperti si Zaki menarik tangan ibunya di pasar ketika ingin dibelikan mainan. Aku mengikutinya. Sesekali dia merapikan rambutku yang masih acak acakan dengan tangan lembutnya.

-//-

“Pa, Ma, Zaki berangkat dulu ya” Satu persatu Zaki mencium tangan papa mamanya. Aku melihat didikan isteriku pada Zaki. Lagi-lagi aku bersyukur, aku tidak salah memilih ibu untuk anak-anakku.

“Assalamualaikum” Zaki berteriak sambil melambaikan tangan. Kemudian ia bersama Ipung, yang telah menunggunya sedari tadi, berjalan kaki dengan penuh semangat.

Aku tahu, isteriku sedang lelah setelah melakukan rutinitas pagi harinya. Namun wajahnya tidak memperlihatkan kelelahan itu. Aku jadi berfikir, jangan-jangan aku lebih sering membuatnya sebel. Aku lebih sering super menyebalakan bagi dia. Aku lebih sering acuh, lebih sering cuek. Ah, betapa egoisnya aku.

Mungkin semalam dia sedang kecapekan. Mungkin dia tidak sadar ketika mengatakan “Males ah”. Capek fisik seringkali berpengaruh pada pikiran seseorang. Aku pun sering mengalaminya. Dan, ah aku baru tersadar kalau aku lebih sering mencuekkan dia.

Zaki dan Ipung sudah tidak terlihat dari sini, dari teras mini rumahku ini. Dia menyandarkan kepalanya di pundakku sambil menggandeng tangan kananku. Kemudian dia menatap wajahku.

“Lagi ada masalah apa to Mas ? Kok tidak kayak biasanya. Dari tadi diam terus? Sakit gigi ya?” Ah, mana mungkin sakit gigi. Tadi makannya lahap banget”

“Ada yang ingin aku bisikin ke kamu, Dek” Aku mulai mengeluarkan suara.

“Apa sih? Pake bisik bisikan segala?” Isteriku mendekatkan telinganya.

I love you, my honey”

Kemudian aku cium pipinya yang tiba-tiba memerah beberapa detik setelahnya.

“Jangan di sini ah, malu tau dilihat orang”

Ah aku kali ini benar-benar Sebel sama isteriku ini. Namun beda dengan sebel semalam. Sebel kali ini ada kepanjangannya. Sebel : Senang betul. Hahay

Yogya, 5 Januari 2012
Refreshing nulis, di tengah persiapan perang (UAS)

Iklan

2 comments on “Super Nyebelin

  1. Legend Wannave
    7 Januari 2012

    eaaaa
    ini cerpen atau visualisasi mimpi ya mas? wkwkwkwkw 😆

    • kangridwan
      8 Januari 2012

      hahay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 4 Januari 2012 by in Cerita Fiksi, hikmah.
%d blogger menyukai ini: