.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Ayahku, Ibuku, Mbakku, Adikku dan si Paijo

Ayahku guru, ibuku guru, mbakku juga guru. Bahkan adikku yang sekarang masih SMP di Pesantren Al Huda Kebumen kalau ditanya apa cita-citanya, ia akan menjawab : Jadi Guru, atau Jadi Dosen.

“Kamu ?”  Paijo bertanya sambil utik-utik upil.

Ayahku bisa memberi perubahan pada masyarakat. Pernah jadi ketua RW meski pendatang, karena usaha beliau kampungku jadi ada Mushola dan jadi ada pengajian –Tahlilan-. Ibuku menginisiasi adanya pengajian ibu-ibu tiap hari Senin. Ibu-ibu kampung sebelah juga ikut pada datang. Mbakku, meski baru beberapa bulan ngajar di SMK Wareng, dipercaya jadi wali kelas, bahkan pembina OSIS. Adikku, hampir semua gurunya mengenal dia. Dia jadi ketua kelas.

“Kamu ?” Paijo bertanya lagi. Sambil garuk-garuk kepala.

Ayahku baru beberapa tahun terakhir ini ke sekolah naik motor. Itu pun motor Grand 97. Sebelumnya? Dia selalu naik sepeda dan menyeberangkannya di atas jembatan kecil dari bambu ketika melewati sungai. Ayahku selalu “ngomel-ngomel” ketika lampu masih menyala sementara hari sudah siang, atau tidak ada yang memakai. Atau ketika keran masih menyala sampai air “liber”. Mau tahu apa makanan favorit ayahku? Rese (ikan asin) buatan ibuku. Betapa sederhananya beliau.

“Kamu ?” Sial. Terdengar suara yang bersumber dari arah belakang Paijo, agak ke bawah. Paijo kentut.

Ibuku begitu rajin. Seringkali lembur dari tengah malam sampai pagi hari. Semangat belajarnya begitu tinggi. Bahkan kini Word & Excel nya mungkin lebih jago dari aku. Padahal 4 tahun yang lalu beliau masih bertanya padaku, “Ibu sudah tua gini masih bisa belajar komputer ga ya?”. Jiwa sosialnya jangan ditanya. Ah, bisa panjang jika aku menceritakannya di sini. Beliau begitu empati, pada siapapun.

“Kamu?” Paijo kali ini bersin. “Hatchiu”. Alhamdulillah, -yarhamukallah-, yahdikumulah.

Mbakku suka bersilaturahmi. Menyambung yang terputus, menguatkan lagi yang telah kendor. Sering kali aku diajak mampir ke rumah seseorang. “Dia itu masih sodara kita, Dek”. Oh, aku baru tahu. “Makanya sering-sering silaturahmi”. Ah, Mbakku ini. Mirip dengan kebiasaan Ayahku.

“Kamu ?” Paijo ndomblong

Adikku kritis dan berani. Seringkali aku dibuatnya mikir akan lama untuk menjawab pertanyaan kritisnya. Gurunya pun mengaku kadang jadi pusing dibuatnya. Malahan denger dengar Adikku dijadikan semacam dewan konsultasi & pertimbangan oleh gurunya. Dia juga rajin. Open terhadap barang-barangnya. Pandai merawat & menjaganya. Hampir semua buku-bukunya dia sampul dengan rapi. Ah, Adikku ini. Mirip dengan Ibuku

“Kamu gimana? Perasaan pertanyaanku belum dijawab dari tadi !!” Paijo sudah tak sabar mendengar jawabanku.

Aku terdiam sejenak. Memberi jeda. Paijo menunggu kata-kata yang keluar dari mulutku.

“Ah, aku bisanya Cuma utik-utik upil, garuk-garuk kepala, ngentut, bersin, sama satu lagi : Ndomblong”

“Ah, kau ini bisa saja. Jawab yang bener dong. Emang kau bisa bikin mereka bangga dengan semua yang kau sebutkan tadi itu?”

“Entahlah”

Aku pergi meninggalkan Paijo yang kemudian melongo melihat kepergianku. Aku baru bisa “utik-utik upil”, baru bisa “garuk-garuk kepala”, baru bisa “ngentut”, baru bisa “bersin”, dan baru bisa “ndomblong”. Maaf aku Ayah, Ibu, Mbak, Dek. Selama ini baru bisa begini.

Ayah, Ibu, Mbak, Adek : Aku cinta kalian semua.

Keluarga Suhadak

Yogya, 7 Januari 2012, 00:50

Kamar Pojok Asrama

Di tengah riuh genderang perang “UAS”

5 comments on “Ayahku, Ibuku, Mbakku, Adikku dan si Paijo

  1. Legend Wannave
    7 Januari 2012

    arghhh,
    posting yang menohok diriku mas bro, hehhehe:mrgreen:

    • kangridwan
      8 Januari 2012

      aku menohok diriku sendiri, Boy.
      Maap kalo ikut tertohok, nikmati aja tohokannya.🙂

  2. iffah
    9 Januari 2012

    cinta keluarga, terima kasih inspirasinya.

    • kangridwan
      10 Januari 2012

      terimakasih kembali, mbak Ifa

  3. Ping-balik: Message from Uki « .: Petualang Kehidupan :.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 6 Januari 2012 by in hikmah, sepotong episode, syair.
%d blogger menyukai ini: