.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Badai Galau Pasti Berlalu

badai galau

oleh : Mbak Dhian Nurma Wijayanti*

Galau – kata ini menjadi kata terpopuler belakangan ini. Bahkan dalam seminar Social Network for Increasing Business and  Marketing di salah satu hotel di kota Solo yang saya ikuti beberapa waktu yang lampau, owner salah satu panganan ringan khas bumi priangan yang terkenal a. k. a Maicih, Bang Reza Nurhilman mengungkap bukti bahwa menurut survei salah satu aplikasi di social network Twitter, jika kita search trending dengan keyword“lapar” dan “galau” maka akan lebih banyak ditemukan orang yang berbicara tentang “galau” daripada “lapar”. Ini membuktikan negara kita sudah cukup membaik keberadaannya dari segi kelaparan. Karena sekarang yang mungkin perlu jadi perhatian adalah kegalauan yang sedang melanda dahsyat di negri kita. Silakan dicoba jika Anda sekalian tertarik untuk mencari tau, hehe🙂

Ya, di koran, televisi, dan berbagai sosial media, bahkan mimbar khotbah para pemuka agama, ruang kelas di sekolah – sekolah hingga kamar tidur, berbagai ragam status sosial rumah – tangga kini disaput kabut “galau”.

Di bulan November yang telah lalu, sebuah radio swasta di Jakarta bahkan merasa perlu menjadikan bulan itu sebagai bulan GA to the LAU alias GALAU. Semua lagu dan topic bahasan merujuk ke dalam kata dengan rangkaian lima huruf sakti tersebut, dengan tagline “Anda galau, kami risau”, hahaha bisa saja mereka (upss, maaf jika ketawa saya tidak sopan hehe #galau)🙂

Baiklah, saya akan mengungkap kasus lain mengenai betapa badai galau itu sedang dengan lebainya melanda negri kita;

Seorang penyair yang amat peka, dalam puisinya meratapi berita tentang 17 dari 33 Gubernur yang menjadi tersangka, 147 dari 473 Bupati dan Walikota jadi tersangka korupsi, dan ketika 27 dari 50 anggota komisi Anggaran DPR ditahan karena kasus penyelewengan dana. Siapa yang tak galau?

Orang tua melepas was was anak – anaknya ketika pergi sekolah dan kuliah, di tengah kian maraknya kasus narkoba yang kini membelenggu 3,6 juta pecandu di Indonesia, dan setiap harinya jatuh korban tewas lebih dari 40 orang. Yang mengenaskan 32% dari total 3,6 juta pengguna narkoba dan obat terlarang secara nasional adalah pelajar dan mahasiswa. Siapa yang tak galau?

Seorang aktivis mahasiswa tersenyum kecut ketika disalami dan diberi ucapan selamat kawan – kawannya saat wisuda. Yang terbayang di pelupuk matanya adalah dirinya termasuk dalam antrian panjang angkatan kerja yang tahun ini naik menjadi 119,4 juta orang dari angka 116,5 juta orang di tahun lalu (data survey tahun 2010 dan 2011). Artinya kini tanah air kita dikerubuti 8,12 juta pengangguran terbuka yang menganga, dan mereka terpaksa menjadi beban orang tua yang sudah renta. Siapa yang tak galau?

Para pemerhati anak gelisah menyaksikan kampanye seks bebas lewat berbagai film layar lebar dan televise, sementara situs porno di internet tidak sepenuhnya dibasmi. Akibatnya, angka aborsi sebagai muaranya terus meningkat. Kini tercatat 3,2 juta jiwa anak Indonesia yang dibunuh setiap tahunnya lewat dokter dan dukun praktisi aborsi. Siapa yang tak galau?

Ribuan anak muda cemerlang yang bertengger di karir hebat, dan siap menikah, kini menghadapi dilemma. Akankah terus mengejar karir semata, atau memberanikan diri masuk gerbang kehidupan rumah tangga yang diimpikannya? Sementara angka perceraiaan meningkat 400% setiap tahunnya. Siapa yang tak galau?

Para pelaku ekonomi di Amerika dan Eropa kini meresahkan adanya gerakan occupy Wall Street. Di Yunani mereka protes terhadap pemerintahnya, tapi di Amerika mereka protes terhadap Wall Street, yang notabene adalah otoritas keuangan bayangan yang mengatur perekonomian AS  sesungguhnya selain THE FED si bank sentral AS. Ini hanya salah satu potret di tengah terjadinya pertarungan sengit antara ideology kapitalis, yang mengombang – ambingkan ekonomi dunia. Banyak orang yang menjadi kaya mendadak sebaliknya tak sedikit pula yang kere mendadak. Siapa yang tak galau?

Di berbagai pelosok dunia banyak orang yang berpatah hati meratapi nasib yang tak selalu berpihak pada yang benar, yang hebat, yang jujur, yang pintar, berpikiran moderat, dan rendah hati. Setiap saat nasib dijungkir balikkan. Yang dimuliakan hari ini, beberapa saat lagi bisa menjadi yang dihinakan. Begitu juga sebaliknya. Siapa yang tak galau?

Di tengah hiruk pikuk senandung galau yang memukau, tepat dua bulan yang lalu umat Islam seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan merefleksi perjalanan hidup beserta kearifan keluarga nabi Ibrahim AS:

  • Nabi Ibrahim yang menemukan Tauhid atas kegalauan mencari Tuhan dari begitu banyak tuhan – tuhan ‘rapuh’ yang disembah manusia sekeliling dunia.
  • Nabi Ibrahim yang terpaksa hijrah meninggalkan Mesir menuju Palestine dengan membawa semua ternak dan harta niaganya. Dalam keadaan darurat, siapa yang pada saat itu tak galau?
  • Sarah dan Ibrahim yang belum juga memperoleh keturunan ketika Sarah berusia 90 tahun dan suaminya – Nabi Ibrahim yang telah berusia 100 tahun.
  • Sarah perempuan terpandang itu harus merelakan suaminya menikahi Hajar, budak yang mereka bawa dalam pengungsiannya ke Palestine.
  • Cerita ditemukannya mata air zam – zam yang kini masih berlimpah ruah, meski telah ditebar ke seluruh dunia. Berawal dari kekuatan hati seorang Hajar yang sabar, bersama bayi yang tak berdaya ditinggalkan suami di tengah gurun pasir yang tak berpenghuni, dan tak mungkin ada penghidupan.
  • Ketika Nabi Ibrahim merelakan anak satu – satunya disembelih sebagai korban atas perintah Tuhannya.
  • Ketika Ismail kecil dengan tegar mendorong ayahnya merelakan dirinya jadi kurban, karena keyakinan.

Siapa yang bisa membantah bahwa semua liku perjalanan panjang keluarga Nabi Ibrahim adalah meniti bilah – bilah galau dari masa ke masa? Dan siapa pula yang tidak takjub melihat kepeloporan, kepemimpinan, keteguhan hati, keikhlasan, dan kekuatan iman Nabi Ibrahim, yang senantiasa konsisten untuk “berlari dan mendaki”, mengejar capaian dan kemuliaan keyakinan dengan penuh keringat, darah, dan air mata?

Tidakkah terlalu cengeng jika ada mahasiswa yang gundah gulana hanya karena orang tua sengaja memperlambat mengirim uang untuk menguji ketahanan diri anaknya?

Adakah lapar yang diderita manusia kota yang hidup dengan berlimpah fasilitas dan kemudahan itu akan sama dengan lapar dan dahaga yang diderita Hajar yang sedang menyusui anaknya dan hidup sebatang kara di tengah gurun pasir, yang terpaksa berlari – lari mencari air di tengah padang pasir yang sunyi kerontang tak berkehidupan itu?

Tidakkah terlalu “lebay” jika ada pemuda yang patah hati ditinggal menikah gadis pujaannya, setiap hari mengabarkan luka laranya pada dunia lewat status – status di berbagai jejaring sosial, dan melupakan tanggung jawab akademis dan segala yang diamahkan?

Tidakkah ada rasa malu, ketika pemimpin yang dibayar dengan  pajak rakyat dan hidup serba berlimpahan, masih mengeluh kurangnya fasilitas dan minta kenaikan gaji yang tidak sesuai dengan kinerja dan prestasi yang ditorehkannya?

Dan Idul Adha, momen itu ternyata bukan hanya tentang melepas rasa bersalah terhadap tanggung jawab sosial yang harus kita tunaikan dengan menyembelih hewan kurban dari “seuprit” harta kita. Idul Adha ternyata juga bukan cuma untuk menunaikan rukun Islam yang kelima di tanah Makkah yang mungkin juga hanya sekedar kepentingan mereposisi status dan citra elok kita di mata manusia yang lainnya.

Napak tilas dalam ibadah haji, semoga dapat menebar kearifan, dari berbagai kisah ketangguhan, keikhlasan dan penghambaan keluarga Nabi Ibrahim yang luar biasa kepada Allah SWT. Semoga itu semua bisa menghalau kabut galau yang kini tengah banyak menyapu hati kita. Mudah – mudahan kita semua menyadari dan memercayai, bahwa fajar terindah selalu hadir setelah malam yang gelap terlalui. Badai galau pasti berlalu!🙂

*note aseli, klik di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Januari 2012 by in hikmah, opini.
%d blogger menyukai ini: