.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Islam dan Parental

Ridha Rabb ada pada ridha kedua orang tua dan murka Rabb ada pada kemurkaan kedua orang tua

(HR. Bukhari)

                Dari berbagai sumber yang saya dapat dan bisa diperaca saya mendapatkan sebuah pernyataan demikian. Bahwa kedudukan orang tua dalam konsep masyarakat Barat adalah sebagai pengarah perilaku anak ketika masih kecil, sebagai teman ketika anak telah dewasa, dan akan hilang nilainya jika ia telah tua dan jompo sehingga panti-panti jompo di sana selalu saja banyak penghuninya.

                Berbeda dengan budaya ketimuran, -semoga bisa terus berlanjut- yang mana orang tua sangatlah dihormati bahkan sampai di usia senja mereka. Karena saya melihat orangtua saya memuliakan kakek nenek saya, maka itu pula yang akan saya lakukan besok. Anak saya akan melihatnya dan kelak memuliakan saya. Begitu seterusnya, budaya ini –semoga- akan terus menerus berlanjut hingga anak cucu kita.

                Bagaimana Islam memandang hal ini? How is Islam way about Parenting ?

                Dari hadits pembukaan tulisan ini, kita bisa melihat bagaimana islam mendudukkan kedua orang tua dalam posisi yang sangat mulia. Dalam islam, kemuliaan orang tua itu ada baik ketika anak masih kecil maupun ketika ia dewasa. Baik ketika orang tua masih ada bahkan sampai ketika orang tua telah meninggal dunia. Peran orang tua saat anak masih kecil adalah mengarahkan dan mendidik. Ketika telah dewasa, maka kewajiban anak kepada orang tua adalah untuk tetap memuliakannya dan membalas kebaikan mereka.

                Bahkan di Al Quran disebutkan bagaimana kewajiban anak kepada orang tua ketika mereka telah tua renta dan jompo. “… dan jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemliharaanmu, jangan sekali-kali kamu mengataakan kepada mereka “ah”. Dan janganlah kamu membantah mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu kepada mereka dengan penuh rasa kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Rabb kami, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidik saya ketika saya kecil” (Al Isra’ 23-24)

                Begitu tingginya perhatian Islam kepada orang tua sehingga ketika akan berjihad yang bersifat offensive (bukan defensive), haruslah meminta izin kepada kedua orang tuanya. Pernah ada sahabat yang ingin berhijrah dan kedua orang tuanya menangisi kepergiannya, maka kata Nabi “Pulanglah kepada keduanya dan buatlah mereka tersenyum sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis”

                Memuliakan orang tua juga berlaku ketika sang orang non-Muslim. Hal yang dilarang oleh Allah hanyalah mengikuti perintah mereka jika perintah itu merupakan maksiat kepada Allah. “Dan sekiranya mereka beruda memaksamu agar menyekutukan-Ku dengan seuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya, janganlah kamu taati mereka berdua dan pergaulilah mereka berdua di dunia dengan baik” (Luqman:15)

                Bagi yang merasa belum cukup (dan memang tidak akan pernah bisa) membalas kebaikan kedua orangtuanya, Islam memberi kesempatan yaitu dengan menjadi orang yang baik lalu terus mendoakan keduanya. Diangkat derajat mayat seseorang setelah wafatnya, lalu ia berkata, Wahai Rabb, apa yang terjadi padaku? Lalu dikatakan, “Anakmu telah memohonkan ampunan untukmu”. Bukankah satu dari tiga amal yang tidak terputus setelah anak adam meninggal adalah anak sholih yang mendoakan kedua orang tuanya?

                Lebih dari itu, Islam juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada teman-teman karib kedua orang tua sebagai cara berbuat baik kepada orang tua. Sesungguhnya silaturahmi yang paling terpuji adalah menjalin silaturahmi dengan teman karib ayahnya.

                Islam keren, kan?

                Semoga tulisan saya ini bermanfaat. Oya, ada 2 doa yang tak pernah lewat untuk saya panjatkan setiap kali selesai solat. Mau tau?

Artinya begini:

  • “Wahai Rabb kami, ampunilah saya dan kedua orang tua saya serta kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidik saya ketika saya kecil
  • “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Yogya, 9 Januari 2012, 02.45

Sepertiga malam terakhir yang dingin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 8 Januari 2012 by in hikmah, ngaji yuk and tagged , .
%d blogger menyukai ini: