.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

#obrolan : Orang keren itu

“Coba deh, follow blog ini keren loh”, kau memberiku alamat blog orang yang memang kukagumi.
“Oh, itu mah sudah lama aku tahu, aku juga sering membukanya”
“Keren ya?”
“Yoi”

****

Kau katakan salah satu yang membuatmu kagum padanya adalah karena dia berasal dari background keluarga yang kekurangan. Kau bilang kalau kau telat menyadari kalau kau belum memaksimalkan apa yang dimiliki, dengan keluarga mampu, orang tua yang masih lengkap.

Aku hanya mendengar dan terus mendengar kau bercerita, tentang kekagumanmu dan penyesalanmu. Kagum pada orang itu, yang juga kukagumi. Penyesalan karena kau tidak bisa seperti dia padahal posisimu lebih baik ketimbang dia. Aku masih mendengarkan. Meski batinku mulai bicara.

Sebenarnya aku juga ingin mengatakan persis seperti apa yang kau bilang. Semuanya tak terkecuali, tentang kekagumanmu dan penyesalanmu. Keberhasilan seringkali muncul dari keterbatasan. Aku sepakat. Namun untuk mencapai keberhasilan tidak selalu membuat keterbatasan bukan? Kesempatan berprestasi tidak selalu muncul dari zona tidak nyaman bukan?

Mungkin kau tidak sepakat padaku. Boleh saja. Aku tidak melarangmu. Toh aku juga belum bisa memberi bukti otentik tentang argumenku. Kenyataannya ayahku juga bisa menjadi seperti sekarang karena dulu berawal dari kondisi yang penuh dengan keterbatasan. Namun dia tidak membuat kondisiku terbatas seperti ia dulu.

Nak, jika ayah dulu dengan keterbatasan bisa menjadi orang, kau dengan kondisi seperti sekarang musti lebih berhasil daripada ayah. Sepertinya pesan itulah yang ingin Ayah sampaikan kepadaku. Kenyataannya? Memang susah ketika sudah dimanja oleh kenyamanan untuk memulai prihatin.

“Keren-nya seseorang sudah ada yang mengatur” Aku mencoba mencari alibi, untuk menenangkan diriku.

“Aku terlambat menyadarinya” Kau ulangi kata-kata itu. Dalam hati, aku mengiyakannya, bahwa itu juga terjadi pada diriku. Sampai perjalanan detik ini, ketika kutengok ke belakang ternyata aku belum ada apa-apanya.

“Nyadar boleh telat, tapi untuk memulai kebaikan tidak ada telat”. Aku mencoba menyemangatimu, tapi sebenarnya itu lebih untuk menyemangati diriku. Aku sebenarnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu. Apalagi dengan penulis blog itu, orang penuh prestasi itu.

“Makasih, Jo. Sudah mau mendengar ceritaku”. Kau tutup perbincangan kita.

Aku yang mustinya berterimakasih padamu. Kau menamparku kembali ke alam kesadaran. Kau menjewerku agar aku bangun kembali. Aku musti bergerak lagi. Salah, tapi berlari. Mengejar ketertinggalan. Tidak cukup dengan kecepatan, tapi percepatan. Siapa tahu suatu saat kau akan memanggilku “orang keren”. Meski bukan itu yang sebenarnya kumau.

Yogya, 16 Januari 2012 , 22:26
Kantor Asrama,
-> aku tak cuek padamu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16 Januari 2012 by in Cerita Fiksi, hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: