.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Air Mata Kerinduan

Perjalanan Prameks Jogja-Kutoarjo kutempuh. Mampir rumah, makan, ketemu Bapak ibu, lalu shalat ashar. Jam 16 berangkat. Meski sempat nyasar (lupa jalan), akhirnya sampai juga. Pesantren Al Huda, Kebumen. Dia yang ingin kutemui sedang mengaji di madarasah, masih selesai setengah jam lagi. Aku keliling kota dulu sambil menunggu waktu.

Setengah 6 sore aku melihat wajahnya. Kuberi senyum terindahku. Dia pun membalas dengan senyum khasnya.

“Maaas !!” Dia memanggilku. Terlihat wajahnya begitu gembira. Kucium kedua pipinya.

Setelah minta izin pengurus, kuajak dia keluar. Jalan-jalan di alun-alun lalu makan.

“Kok panas, Ki ?” Badannya terasa panas ketika kupegang.

“Uki lagi sakit mas, tadi pagi ga berangkat sekolah”. Aku teringat wali kamarnya yang tadi sempat bilang kalau Uki disuruh istirahat dulu tapi ia bersikeras ingin madrasah.

“Udah berobat?”

“Udah mas, kemarin”

Aku memesan dua porsi, untuk aku dan Uki. Tak lupa minumnya, juga 2 porsi. Di lapak kaki lima itu, kami duduk lesehan.

Kami masih terdiam ketika aku melihat ada perubahan di wajah Uki. Di matanya. Air matanya menggenang. Sangat jelas. Semakin banyak dan semakin banyak. Satu, dua, tiga tetes mulai tertumpah. Aku yang menyadarinya lalu memindahkannya untuk duduk di pangkuanku. Aku peluk dia.

“Eh, kenapa nangis?” aku dekatkan telingaku di dekat mulutnya.

Uki terpaksa menjawab dengan suara yang kurang jelas. Suara orang menangis agak tidak jelas kan? Tapi aku bisa menangkapnya. Bagiku sangat jelas

“Uki kangen banget sama Mas, pengin banget ketemu Mas” Kupeluk ia makin erat. Tangannya merangkulku juga semakin erat.

Aku mengendalikan diriku, agar terlihat biasa. Lalu aku buka obrolan santai. Uki masih di pangkuanku, tangannya masih merangkulku erat, sampai pesanan kami tiba.

Ia makan dengan lahap, meski sempat kepedasan. Kupandangi dirinya. Giliran aku yang mbrambang. Kalaupun dia melihat, mungkin karena mengira aku juga kepedasan. Aku tahu, air mata yang keluar itu. Dari kelopak matanya dan dari kelopak mataku, bukanlah air mata kesedihan. Melainkan air mata kerinduan, air mata kasih sayang.

******

Kunjungilah (saudaramu) secara jarangjarang niscaya rasa kasih sayang akan bertambah.” [Hadits]

Kutoarjo, 24 Jan 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 Januari 2012 by in hikmah, sepotong episode and tagged .
%d blogger menyukai ini: