.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Mami, Warkop Kiaracondong

Menunggu jemputan kawan, aku menyempatkan diri ngopi dulu di Stasiun Kiaracondong sebelah utara. Bu Iman namanya. Panggil saja Mami. Dialah yang jualan di kios kecil itu. Ngobrol dengan beliau menambah banyak wawasan.

Mami baru 1,5 tahun buka kios di Stasiun. Harga kontrak kios kecil itu setahun 7,5 juta. Kok mahal? Karena kepemilikannya adalah pribadi, bukan milik KAI. “Kalau bayar ke KAI, harganya 2,5 juta”. Seperti itulah. Kios-kios itu dibeli oleh orang-orang berduit.

Mami menyambutku dengan hangat. Aku sempat nitip tas ketika mau ke toilet. “Ati-ati A’ kalo di sini”. Aku pun bertanya apakah sering ada tindakan kriminal di stasiun ini.

“Sering mah, tapi di sebelah selatan situ. Karena belakangnya pasar, jadi pencopetnya lari ke pasar, susah dicarinya. Kalau di sini mah (bagian utara) aman. Kalau lari keluar kan ada tukang ojek dan calo tuh. Mereka juga ikut bantu jaga keamanan disini”, papar Mami sambil nyiapin Mi Goreng pesananku.

Aku melanjutkan bercerita dengan Ibu beranak 6 ini. Ada cerita yang cukup menarik.

Suatu ketika ada Seseorang ngutang kopi di warung Mami. Orang Wonosobo. Beberapa bulan kemudian ia datang lagi. Bersama Isteri dan anaknya yang masih berusia 8 bulan. Ia ingin mengadu nasib di Bandung. Lagi, orang ini hutang Mami 150 ribu, untuk kos/kontrak tinggal di Bandung. Karena pas ada uang, Mami meminjaminya.

“Entah kenapa, saya percaya saja meminjami dia uang. Toh saya juga lagi ada uang, jadi ya saya pinjami saja”

Selang beberapa bulan kemudian orang ini mengirim sms ke Mami. Minta tolong lagi. Dia sedang mengalami masalah ekonomi. Istri dan anak-anaknya kelaparan sampai dia mencuri singkong tetangga demi kelangsungan hidup anak isterinya.

“Saya datangi tuh rumahnya sambil membawa makanan untuk anak isterinya. Seminggu”

“Jadi itu benar-benar terjadi, kalo dia kelaparan?” aku tadinya tidak percaya. Bahkan menebak kalo orang itu menipu Mami.

Orang itu pamit kembali ke Wonosobo. Ia kalah bertarung dengan Bandung. Bandung tidak bersahabat dengannya. Di stasiun Kiaracondong, dia berterimakasih pada Mami.

Aku tidak menyangka sebelumnya. Penjual di kios tempatku menunggu temanku ini memiliki hati yang tulus. Masih ada ya, orang seperti ini di zaman sekarang. Apalagi di kota besar bernama Bandung. Setauku, kebanyakan orang kota baik yang miskin maupun yang kaya sudah sulit dipercaya. Meskipun yang di desa juga belum tentu bisa sepenuhnya bisa dipercaya. Intinya, susah mencari orang baik, orang jujur, di zaman sekarang.

Cerita belum selesai.

Sekitar setahun kemudian, Mami mendapat telepon dari seseorang. Ia mengajak Mami dan suaminya ke Yogya. Mau tau siapa yang menelponnya? Orang yang ditolong oleh Mami setahun sebelumnya.

“Tapi saya ga punya ongkos”

“Sudah, nanti saya ongkosin semuanya”

Mami dan suaminya diajak keliling Jogja. Mengunjungi prambanan, malioboro, dan berbagai tempat wisata di Jogja. Menggunakan mobil orang yang ditolongnya dulu. Kini ia telah menjadi orang sukses. Menjadi tangan kanan bosnya karena bisa dipercaya.

“War, saya ga bisa bales semua kebaikanmu nih”, kata Mami. Saya baru tau kalo orang itu panggilannya War.

“Mami, semua yang saya lakukan ini tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kebaikan Mami ke saya dulu. Dulu saya sekeluarga hampir mati. Mamilah satu-satunya yang peduli. Bahkan orang tua saya tidak mempedulikan saya waktu itu”

Aku merinding mendengar cerita itu.

“Mami mah ga nyangka sebelumnya dan ga ngarep ketika dulu ngebantu dia. Itu mungkin hasil kebaikan yang dulu saya tanam.”

“Itu baru balesan di dunia Mi, belum di akhirat besok” Aku menambahkan.

SMS masuk, temanku sudah sampai Kiaracondong. Dia menunggu di depan. Aku pamitan pada mami, cium tangannya setelah membayar kopi dan intel (indomie telor). Tak lupa aku minta nomer Hapenya.

“Besok, kalau pas pulang mampir sini lagi ya!”

“Insya Allah, Mi”

Di warkop itu, aku tidak hanya mendapatkan apa yang aku beli. Lebih dari itu, aku mendapatkan pelajaran kehidupan. Tentang keikhlasan dalam menolong orang. Dan aku juga mendapat keluarga baru di Stasiun Kiaracondong. Tak sia-sia aku memiliki hobi (yang juga kutulis di CV) : silaturahim.

Bandung, 30 Januari 2012
Kamar kecil, 3×4 utk berempat
H#1 @Kota Kembang.

2 comments on “Mami, Warkop Kiaracondong

  1. Ulfa
    3 Februari 2012

    subhanallah, masih ada ya yang kaya gitu. kirain cuma dicerita2 sinetron aja.
    yaaa, jadi ingat “berkerjalah kamu maka Allah dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat perkerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”
    yaaa, yang didapat Mami itu baru bonusnya bukan balasan yang sebenarnya nanti di akhirat.

    • kangridwan
      3 Februari 2012

      Mami Ulfa gimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 31 Januari 2012 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: