.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Tamu Surprise

Paijo membaca koran. Ia tertarik dengan isi koran itu. Pak Menteri yang ia idolakan kembali memberi surprise, kejutan. Pak Menteri datang ke sebuah kunjungan lebih awal dari jadwal yang direncanakan. Lalu meminta agar acara segera dimulai. Sontak saja, panitia penyelenggara acara sempat kelabakan. Sebelumnya Pak Menteri itu juga memberikan surprise, ke Istana naik Kereta api disambung naik ojek.

Besoknya, dia terkejut. Ada tamu yang tak diduga datang ke rumahnya. Bukan Pak Menteri itu. Namun tamu itu adalah Bapaknya Zubaedah. Paijo menyebutnya calon mertua. Ia kelabakan, belum menyiapkan. Menyiapkan tempat yang bersih, ruang yang harum. Bahkan ia sendiri belum mandi, celananya 4 hari belum dicuci.

Paijo semakin kesal dan menyesal kenapa tidak mempersiapkannya. Padahal jauh-jauh hari Zubaedah sudah ngasih kabar kalau Bapaknya mau berkunjung minggu ini. Ia ke dapur mau membuat teh manis. Sial. Gulanya habis.

“Gimana kalau tidak usah pakai gula saja, nanti Bapaknya Zubaedah gue minta mandang gue. Gue kan manis?” gumamnya. Namun ia sadar kalo dia belum tentu manis di mata calon mertuanya. Kalau buat Zubaedah itu ga masalah. Lha ini, calon mertua mau diajak becanda. Efeknya bisa panjang, dampaknya bisa sistemik.

Akhirnya, dengan terpaksa dia ambil segelas dan secangkir air putih.

“Silakan diminum Pak. Kata pak dokter, air putih itu menyehatkan. Oya pak, ini yang di cangkir kecil bukan air putih biasa. Air putih spesial, air zam-zam”

Untung saja Paijo masih menyisakan air zam-zam oleh-oleh haji orang tuanya Tia. Sedianya mau dia minum bareng Zubaedah. Tapi bagaimana lagi. Zam-zam itu setidaknya menyelamatkan wajahnya di mata orang calon mertuanya.

“Insya Allah minggu depan Bapak mampir kesini lagi, Nak Pai” kata Bapaknya Zubaedah sebelum pamitan.

Minggu depannya…

Paijo menyiapkan sebaik mungkin. Ia tidak mau kejadian minggu kemarin terulang lagi. Gula, teh sudah siap. Ruang tamu sudah bersih dan rapi. Paijo sudah mandi sejak pagi, menyikat gigi, dan celananya sudah ganti. Rambutnya klimis, senyumnya mengembang. Kalau Bapaknya Zubaedah datang, Paijo yakin beliau akan bilang, “Tidak salah nih, kalau nak Pai jadi menantu saya”.

Persiapan selesai. Komplet. Tidak ada yang terlewat.

Ting tong ting tong. Bel berbunyi.

Paijo membuka pintu depan dengan senyum yang mengembang. Ia terkejut dengan tamu yang datang. Bukan Bapaknya Zubaedah yang datang. Orang asing, Pakaiannya aneh, serba putih,  tapi dalam benaknya sepertinya ia mengenalnya.

“Mau ketemu siapa ya, Mas?”

“Mau ketemu sodara Paijo”

“Ya, saya sendiri. Maaf, boleh tau mas siapa ya?”

“ saya…”

Mendengar jawabannya, Paijo kaget bukan kepalang. Kakinya gemetar. Ia merasa salah persiapan untuk menyambut tamu ini. Tamu yang kabar kedatangannya sudah ia dengar jauh-jauh hari. Lebih dulu sebelum kedatangan Bapaknya Zubaedah. Dengan terbata-bata, Paijo kembali bertanya untuk meyakinkan kalau dia tidak salah dengar.

“Maaf, tadi si.. si.. siapa nama Anda?”

“Saya Izrail”

Paijo pingsan.

 

Yogya, 29 Januari 2012
Tamu Surprise : Pak Waziz, inspeksi mendadak asrama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 4 Februari 2012 by in Cerita Fiksi, hikmah.
%d blogger menyukai ini: