.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Anakku yang kedua

Anakku yang kedua memang beda. Dia putih, gembil, membuat semua orang ingin menggendongnya. Namun sayangnya tidak sembarang orang, dia mau digendong. Beda dengan kakaknya yang lulut sama siapa saja. Dia memang beda dengan kakaknya.

Kakaknya banyak gerak, tak terhitung berapakali dia terjatuh. Sementara dia sangat pendiam dan hati-hati. Ketika turun dari tempat tidur, kakaknya langsung loncat begitu saja tapi dia pelan-pelan meraba-raba dulu menggunakan kakinya. Ketika dipastikan aman dia baru turun. Pelan. Padahal dia laki-laki sementara kakaknya perempuan.

Isteriku sampai-sampai mengkhawatirkannya. Bagaimana tidak? Pada usia 2 tahun dia masih saja sedikit bicaranya. Sementara balita seusianya sudah lancar ini itu. Hingga sempat terpikir, jangan-jangan dia ada kelainan mental (baca:ideot). Aku dan isteriku berdoa, semoga dia baik-baik saja.

Selama ini ia banyak diam ternyata karena banyak mengamati. Terang saja, ketika bisa bicara langsung lancar. Tidak ada cedal-nya. Kecerdasannya mulai tampak. Masih saja dia penurut, bukan tipe anak yang suka memberontak. Alhamdulillah, dia normal.

Waktu itu banyak anak-anak di desa aku tinggal yang mengaji di rumahku. Sebelum kedatanganku, desa ini begitu awam dari agama meski di KTPnya islam. Akhirnya aku dan isteriku bertekat untuk mencurahkan tenaga dalam membina generasi muda desa ini untuk lebih mengenal islam. Berawal dari beberapa anak tetangga yang mengaji, akhirnya aku membuka TPA. Kuberi nama TPA Al Ikhsan, untuk mengenang nama ayahku yang bernama Ikhsan.

Masih teringat juga, suatu ketika aku dan isteriku sedang mengajar TPA, dia nongol dari pintu menggunakan baju belang kesukaannya. Ketika solat tarawih di balai desa, dia bermain pecinya. Dia lipat-lipat lalu dilemparnya ke atas dan ia tangkap lagi. Ia ulang berkali-kali. Tiap seusai salam. Dia mendatangi ibunya dan bertanya, “kurang berapa rakaat lagi Bu?”

***

Bakat Seni

Akhirnya aku menyadari kalau dia memiliki bakat di bidang seni. Kau tau kencrengan? Atau rebana ala desa yang biasa untuk mengiringi kataman atau shalawat al barzanji? Ada Bedugnya. Nah, anakku yang kedua ini bisa menabuh bedug sesuai iringan irama dengan sempurna. Jadi waktu itu penabuh rebananya para remaja, sementara penabuh bedugnya masih 4 tahun. Orang-orang bertanya-tanya siapa si anak kecil itu.

Isteriku yang juga guru suatu ketika mengajari lagu untuk lomba muridnya yang kelas 5. Susah sekali untuk mengajari lagu baru. Isteriku sambil memasak menyanyikannya. Anakku ini hanya mendengarnya  eh bisa meniru dengan benar, padahal siswa kelas 5 saja susah diajari.

Bu Ani waktu itu sedang menyeleksi muridku untuk dipilih maju lomba macapat. Dia yang waktu itu masih kelas 2 SD aku suruh menungguku sambil dengerin Bu Ani ngajar macapat. Lagi, ternyata dia justru lebih baik dari muridku. Akhirnya malah dia yang mewakili lomba macapat. Hasilnya, dia mendapatkan juara harapan 1. Sementara lawannya rata-rata sudah kelas 5.

Mengetahui dia memiliki kemampuan di bidang seni, aku carikan guru Qiro’ah. Sayang sekali kalau ia tidak bisa qiraah. Tadinya tidak mau, tapi akhirnya dia mau juga. Wal hasil ketika SMP setiap tahun selalu menjuarai MTQ di tingkat kecamatan. Sekali di tingkat kabupaten.

Untuk alat musik? Aku bela-belain belikan Keyboard yang standar untuk organ tunggal. Baik sekalian, untuk anakku yang satu ini. Aku carikan guru Les, hingga ia bisa. Dia juga belajar gitar. Wal hasil, selama SMP dia dan bandnya selalu tampil di acara perpisahan.

Di SMA ia tidak lagi lomba MTQ karena ada yang lebih baik. Tidak juga main Band lagi, entah kenapa. Tapi aku dengar setelah masuk kuliah, dia ikut semacam kelompok musik apa gitu. Kalau tidak salah namanya Nasyid. Beberapa kali tampil di acara kampusnya. Terakhir yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, ia tampil bersama kawannya di acara nikahan kakaknya beberapa waktu yang lalu.

***

Ilmu Agama

Aku tidak mau anakku tidak mengenal agama. Justru agama merupakan bekal paling berharga. Maka dia kusuruh mengaji dengan pak Kiyai di masjid seberang. Waktu kataman, dia tidak ingin model pawai naik kuda seperti biasanya.

Aku bersyukur dia mempunyai semangat yang tinggi. Kitab-kitab ngaji tradisional ia tamatkan satu persatu. Waktu itu dia masih SD. Diantaranya Safinatunnajah, Sulam Taufik, Ta’limul muta’alim, dan Duror. Aku tidak bisa menjamin dia paham atau tidak, maklum masih SD, tapi aku yakin itu membekas pada dirinya.

Aku juga menyekolahkan dia di Madrasah Diniyah. Selama kelas 5-6 SD, kalau pagi sekolah di SD, sore berangkat madrasah. Dengan senang hati dia berangkat naik sepeda melewati 4 desa. Sendirian, tidak ada temannya berangkat. Aku makin bangga padanya.

Maka aku tidak khawatir tentang agamanya saat ini, karena aku merasa telah membekalinya dengan bekal yang cukup.

***

Anak merupakan amanah dari Allah yang mana suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban. Tak pernah terlewat sekalipin olehku doa untuk anak-anakku setiap selesai sholat fardhu. Allohummaj’ana wa awladana min ahlil ‘ilmi wa ahlil khoir, wala taj’al min ahlisy-syari wadhoir. Aku pun yakin anak-anakku mendoa kan Bapak ibunya.

Anak keduaku ini, kini telah dewasa. Ia menjadi mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Yogya. Alhamdulillah diamembuatku dan ibunya bangga. Dialah yang pertama kali naik pesawat di antara keluarga kami. Aku dan isteriku terbayang naik pesawat mungkin hanya sekali ketika besok naik haji.

Kakaknya kini telah menikah, telah membentuk keluarga baru. Aku senang. Kuharap dia juga segera menyusul kakaknya. Memberi kami menantu yang sholehah dan tentunya cucu-cucu yang telah kami harapkan. Menjadi orang sukses. Karena tak ada yang membuat orang tua bahagia selain melihat anaknya bahagia.

Semoga aku, isteriku, anak-anakku, cucu-cucuku, dan semua keluargaku kelak dikumpulkannya lagi di surgaNya nanti.

Amin…

Yogya, 26 Januari 2012

3 comments on “Anakku yang kedua

  1. Awal ceritanya kok sama ya, usia 2 tahun blm lancar bicara. Persis…

    • kangridwan
      20 Februari 2012

      🙂

  2. Ping-balik: Seperempat Abad | .: Petualang Kehidupan :.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16 Februari 2012 by in Cerita Fiksi, hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: