.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

PAHLAWAN*

#Cuma Cerita Fiksi

Aku sempat bingung ketika ditanya oleh Udin, pahlawan yang paling sering ke masjid siapa? Menurutku semua pahlawan yang beragama islam pasti sering sholat. Kalau sholat, pasti sering ke masjid. Kalau pun jarang, pasti kalau shalat jumat atau shalat tarawih pergi ke masjid.

Mau tau jawabannya si Udin tidak? Ternyata pahlawan yang sering ke masjid adalah Kapitan Pattimura. Bagaimana bisa? Coba deh sesekali melihat takmir masjid membuka  kotak amal yang beredar ketika shalat Jumat. Ternyata isinya kebanyakan adalah uang seribuan. Kau tahu kan? Siapa nama pahlawan yang ada di pecahan uang seribuan? Tepat sekali Kapitan Patimura.

Hehehe, bisa saja si Udin. Kalau begitu, Pak Soekarno & Pak Hatta yang paling sering pergi ke kantor dong. Terus I Gusti Ngurah Rai yang paling sering sering ditemui ATM.  Di angkot aku sering ketemu Tuanku Imam Bonjol dan Pangeran Antasari. Kalau beli Pulsa aku sering mengajak Sultan Mahmud Badaruddin II atau Oto Iskandar Di Nata. 🙂

Kawan, aku jadi bertanya-tanya mengapa yang dicetak di pecahan mata uang itu adalah gambar para pahlawan? Bukan gambar wajahku saja. Aku kan juga cakep? Mungkin jawabannya adalah agar kita selalu ingat dengan jasa-jasa para pahlawan. Jangan sampai kita melupakan mereka yang telah mempertaruhkan harta dan jiwanya untuk melawan penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Caranya adalah dengan melanjutkan perjuangan mereka. Kalau para pahlawan berjuang untuk merebut kemerdekaan maka kita berjuang untuk mengisi kemerdekaan. Sebagai siswa aku harus belajar sungguh-sungguh untuk menghormati para pahlawan.

Kau mau tahu siapa pahlawan yang paling aku sukai? Ternyata ia belum tercetak di mata uang kertas. Dia adalah Pak Jendral Soedirman. Kakekku dulu ketika masih muda pernah menjadi anak buah Jendral Soedirman. Satu-satunya Jendral yang naik kuda adalah Jendral Soedirman.

Pemimpin perang dari Belanda sampai stres gara-gara tidak bisa menangkap Jendral Soedirman yang waktu itu paru-parunya yang berfungsi tinggal sebelah. Jendral Soedirman ikut bergereliya meski dalam kondisi sakit. Beliau memimpin perang dalam keadaan ditandu. Aku berharap kalau besok ada pecahan uang dua ratus ribu atau lima ratus ribu, ada gambar Jendral Soedirman terpampang disitu.


*ditulis untuk salah satu isi dari Modul SMC (Sanggar Menulis Cahaya). Program kerjasama antara FLP dan Perpustakaan Kota Yogyakarta berupa pelatihan kepenulisan untuk usia anak kelas 4-5 SD.

Yogya, Januari 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Maret 2012 by in Cerita Fiksi, opini.
%d blogger menyukai ini: