.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Persatuan Nasional (kabarnya)

Kabarnya, Persatuan Nasional semakin nyata dan kenyataannya memang seperti itu. Kita bangsa bersuku-suku tapi cita-cita satu, kita memiliki berbagai budaya tapi tujuannya satu. Kita punya banyak agama, ragam nilai, dan berbagai variabel kehidupan tapi obsesi kita satu.

Boleh lah anak-anak kita memilih kuliah di Fakultas Kedokteran, Ekonomi, Teknik, Psikologi, Sastra, bahkan Tarbiyah, Pendidikan, atau yang lainnya. Namun harapan hidupnya satu. Boleh percaya boleh tidak.

Satu cita-cita bersama itu adalah menjadi Kaya.  

Macam-macam profesinya, beragam-ragam metode, berbagai kostum dan bedak digunakan, namun obsesinya menyatu secara nasional, yaitu menjadi kaya. Memang ada topeng-topeng manis yang bisa digunakan : ingin mengabdi kepada masyarakat, ingin membahagiakan orang tua, ingin membangun bangsa dan negara.

Mungkin pada awalnya bisa jadi memang cita-citanya seperti itu. Namun begitu menemukan pintu gerbang keuangan, harta yang menyala-nyala, itu maka cita-cita mulia yang tadi disebutkan mulai terlepas satu persatu. Penuhlah kepala dengan cita-cita tunggal : Menjadi kaya.

Anda tidak percaya? Coba tolong jawab dengan jujur pertanyaan saya. Pilih mana, bekerja tidak dibayar atau tidak bekerja tapi dibayar? Tidak perlu dijawab, semua juga pasti tahu jawabannya. Kalau bisa seminggu bekerja tidak 6 hari, cukuplah 4,3,2 atau 1 hari saja. Tapi gajinya tetap tidak berkurang. Iya to?

Kalau semisal bekerja selama 2 bulan tidak digaji pasti komnas HAM akan ikut membantu Anda menuntut gaji Anda. Namun kalau Anda tidak bekerja selama 2 bulan tetap digaji, pasti Anda tidak mau menolaknya. Makan gaji buta itu dan tidak akan melapor ke komnas HAM kalau Anda melanggar hak perusahaan. Masak menolak rejeki. Gitu to?

Nampaknya sekarang bukan lagi ‘Latta dan ‘Uzza, dua patung terbesar di sekeliling ka’bah yang dulu disembah ketika zaman Jahiliyah. Zaman jahiliyah sekarang berhala itu bernama kekuasaan, ketenaran, dan tuhan utama mereka bernama kekayaan.

Orang tua pasti bakal bahagia ketika melihat anaknya bekerja, punya harta. Apalagi kalau bisa menaik hajikan mereka, membelikan mereka mobil baru, rumah baru.

Pertanyaan pertama dari calon mertua kepada calon menantu adalah “Apa pekerjaanmu?”. Intinya ga jauh-jauh dengan harta. Anaknya calon mertua pun pasti juga akan menempatan kekayaan dalam salah satu parameter utama. Semua cewek itu matre, Cuma ada yang pandai menutupinya, ada juga yang matrenya keterlaluan. Maaf kalau ada yang tidak sepakat.

“Mau kau kasih makan apa anakku?” Begitu kata calon mertua.

Ia lupa bahwa yang memberi makan, memberi rejeki itu tuhan. Harta itu Cuma alat. Ia juga tidak sepenuhnya percaya dengan ayat yang mengatakan bahwa Tuhan akan menjamin rejeki orang yang telah menikah, bahkan akan dilipat gandakan. Dasar manusia zaman sekarang. Pasti akan dicarikan dalil untuk mematahkan argumen itu: Dipikir pakai logika dong!! Allah itu memberlakukan sunnatullah berupa hukum kausalitas, sebab akibat. Mana Hartamu??

Semua berlomba-lomba mengejar harta dengan berbagai level. Mulai dari kelas paus, kelas kakap,hingga kelas teri. Mulai dari yang koruptor sampai pencuri jemuran. Mulai dari yang sering muncul di tv sampai yang ga punya tv. Yang kaya tidak mau bersyukur, yang miskin tidak mau bersabar. Bangsa ini bergerak bahu membahu menuju satu tujuan, membentuk sebuah persatuan Nasional: menjadi kaya.

Aku tak mau munafik, aku juga pengin kaya. Aku tidak benci dengan orang kaya. Aku tidak melarangmu jadi orang kaya. Cuma… Jadilah kaya dengan cara yang baik, tidak menindas orang lain, tidak sikut kiri-sikut kanan depan belakang. Jadilah orang kaya yang budiman, meski tak perlu ganti nama menjadi Budiman. Agar tak sekedar kaya harta, tapi kaya hati.

Inget-inget kalo jadi orang kaya akan lebih lama ketika ditimbang amalnya di hari kiamat. Kenapa? Karena pertanyaannya dobel : Darimana kau dapatkan, kemana kau keluarkan.

Eh, maaf ya kalau ujung-ujungnya jadi semacam tausiah.

* Allohumma bariklana fi ma rozaktana waqina ‘adzabannar

(doa sebelum makan, yang artinya lumayan nyambung dengan tulisan ini)

14.3.12

2 comments on “Persatuan Nasional (kabarnya)

  1. Legend Wannabe
    24 November 2013

    yo’i setuju banget mas. gimana kalau gini, kita cari harta yang banyak, jadi kaya, trus setelah kaya harta kita bagi-bagikan ke yang membutuhkan😀

  2. ichigoichiyo
    25 November 2013

    k ridwaaan…aaak… nulis *lagi… yo ini,,,tanda-tandanya😀
    Aku yo pengen kaya, tapi lebih penak jadi orang bahagia dunia akhirat :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Maret 2012 by in hikmah, opini.
%d blogger menyukai ini: