.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Nongkrong Bareng Setan

Beberapa setan sedang nongkrong di tempat favorit mereka. Sekitar sepuluh, kurang lebih. Ada yang genjrengan sambil ngudud ala anak muda  yang biasa nongkrong di gardu ronda. Ada yang memakai baju kemeja berdasi dan klimis ala anggota dewan terhormat. Ada yang bersurban ala ustad, Ada yang berpakaian seksi ala miss universe, bahkan ada juga yang bertelanjang dada ala pak tani.

Aku terheran, mengapa mereka malah pada nongkrong  di bawah tiang listrik? Tempat macam apa ini? Aku cari-cari siapa tahu ada papan plang informasi. Akhirnya ketemu juga. Ada tulisan berwarna putih berlatar hijau, mirip dengan penunjuk arah di jalan raya. Tulisan itu berbunyi : “Tempat nongkrong setan paling asyik, ya di sini!”

Aku memang jarang ikutan yang namanya nongkrong. Kalaupun di angkringan, aku cuma makan kalau sudah selesai ya pergi. Kalau mau genjrengan ya di kamar atau pas ada undangan konser, bukan di gardu ronda bareng orang yang main kartu atau main catur. Ya, sesekali dua kali tak apa lah. Namun aku akui dan sepertinya kamu juga sepakat, satu-satunya tempat nongkrong yang paling asyik dan tak tertandingi kenikmatannya adalah : Toilet. Nongkrong di situ pasti melegakan.

Kembali lagi ke setan-setan yang sedang nongkrong itu. Aku menghampiri mereka, menyapa mereka. Jangan kau sebut diriku sesat, apalagi kau vonis aku ini musyrik. Mereka juga makhluk Tuhan. Bahkan kanjeng nabi juga pernah ngobrol dari setan yang akhirnya jadi ketahuan apa itu kelemahan setan.

“Eh, mas dab. Kok malah pada thongkrongan di sini ? Lagi libur tugas nih?” Aku mencoba membuka pembicaraan.

“Eh, monggo-monggo, Kang Paijo. Sini ikut nongkrong. Kebetulan ini belum ada yang  mainin kendang. Gitaran tanpa kendang kurang komplit. Bisa ngendangin koplo kan?”

“Aku ga bisa main kendang, Dab. Sory. Eh, kalian kenapa kok kelihatannya tidak bersemangat begitu? Tumben?”

“Makanya, ini kami lagi refreshing. Siapa tahu dengan bersilaturahim sesama setan, bisa bertukar pengalaman, berbagi cerita, dan tertawa bersama. Hahaha” Setan berdasi tertawa sampai kelihatan gigi gerahamnya.

“Kami udah ga bersemangat lagi nggodain manusia, Jo. Males. Sudah tidak ada tantangan. Manusia bukan tandingan kami lagi. Terlalu mudah untuk kami kendalikan. Sangat tidak punya gaya kepegasan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Bahkan kami mau goda, mereka malah udah selesai melakukan maksiat. Setan seksi mulai curhat

“Sungguh, sudah tidak menarik lagi bertugas sebagai setan. Mending thongkrongan disini. Ga perlu kami kampanye atau menunjukkan jalan kesesatan, manusia berbondong-bongong memilih jalan kami. Berjubel jumlahnya. Mereka sendiri yang mengkampanyekan” Setan genjreng meletakkan gitarnya.

Aku kaget. Lebih tepatnya, agak sedikit kaget. Ada benarnya juga apa yang mereka curhatkan. Aku jadi teringat dengan riwayat nenek moyangku dengan nenek moyang mereka yang diabadikan dalam kitab suci. Cerita tentang Adam dan Iblis. “Dan ketika dikatakan kepada malaikat : Bersujudlah kepada Adam, maka bersujudlah mereka kecuali iblis karena sombong dan lalai …”

Aku pamit. Beranjak dari tempat nongkrong setan paling asyik itu. Baru beberapa langkah, setan berdasi mendekatiku dan membisikkan sesuatu seakan-akan ia tahu kalau aku memikirkan riwayat nenek moyang.

“stt… @#$%#%^%$”

Sial ! Aku tonjok si setan berdasi. Lalu berlari sekencang kencangnya. Sementara setan berdasi masih memegang pipinya yang kutonjok, dia tertawa lebih keras diikuti tawa kawan-kawannya shoibul tiang listrik. Nampakknya tempat itu benar-benar tempat nongkrong paling asyik bagi mereka.

Kau mau tahu apa yang dia bisikkan?

“Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumen kenapa kami tidak mau sujud kepada Adam. Kau tahu, argumen kami sudah mulai terbukti. Tidak relevan iblis bersujud kepada Adam karena anak turunan adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah iblis”

 

Yogya, 16 Maret 2012

Iklan

2 comments on “Nongkrong Bareng Setan

  1. Louisa Veronica Hartono
    21 Maret 2012

    Gosh….. benar sekali Wan.

  2. dicky syahril
    21 November 2012

    lalu apa tindakan yg dah kita lakukan apakah kita sudah menjalankan syariat islam?kalau memang udah org sekitar akan menilainya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16 Maret 2012 by in hikmah, opini.
%d blogger menyukai ini: