.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Pasukan Kampret

 “Semua pasukan !! Pastikan semua persiapan sudah siap. Musuh sudah di depan mata. Pertempuran akan pecah esok hari. Ini tidak hanya mempertaruhkan jiwa dan raga kita. Tapi lebih dari itu, kehormatan dan harga diri kita!!” Jendral Tukijo menyemangati sambil bolak balik di atas kudanya, sebilah pedang komando berada dalam genggaman erat tangan kanannya.

“Letnan Saryono !”

“Siap !!”

“Lho, pasukan kavalerimu mana? Bukannya jumlahnya ada 100? Kok yang berbaris Cuma 26? Sisanya pada kemana?” Jendral Tukijo terkejut melihat barisan kavaleri.

“Mereka Pada izin Jendral !. Ada yang orang tuanya sakit, ada yang pedangnya hilang, ada yang kudanya ngambek tidak mau perang, ada yang mau bayar hutang, ada yang sedang dapat proyek, ada yang…”

“Cukup !!! Kebanyakan alasan!” Jendral Tukijo mulai emosi.

“Kamu, Letnan Paidi !”

“Siap !!”

“Pasukan pemanahmu dimana? Kok Cuma kelihatan 30? Bukannya totalnya 130?” Suara Jendral Tukijo mulai meninggi.

“Jadi begini jendral. Yang ikut apel besar memang 30. Yang 20 sedang jaga pos” Kaki Letnan Paidi sedikit gemetaran.

“Sisanya lagi?”

“Hampir sama dengan pasukan kavaleri, Jendral. Ada yang nungguin istrinya mau melahirkan, ada yang panahnya hilang, ada yang Ibunya sakit, ada yang…”

“Stop !! Kebanyakan cingcong”

Jendral Tukijo melihat ada yang aneh. Tidak hanya pasukan kavaleri dan pemanah yang tidak genap. Di barisan pasukan infantri, pendobrak, dan penyapu juga sama. Tidak utuh seperti yang ada di daftar.

Parah. Pertempuran sudah fiks disepakati besok setelah matahari muncul. Namun apa yang terjadi? Pasukan tidak beres. Jendral Tukijo terheran-heran. Bagaimana bisa terjadi? Apa mereka pada takut mati? Apa mereka sudah tidak peduli dengan harga diri? Egois sekali.

Raja Paijo pasti akan marah besar melihat ini semua. Jendral Tukijo yang juga menjabat sebagai gubernur kota Koplak pasti yang kena dampratnya. Ya iya lah. Sebagai pemimpin gitu. Sekarang, Ia menyadari kesalahannya. Jendral Tukijo terlalu sibuk mengurusi bisnisnya. Pantas saja rakyatnya juga ikut-ikutan pemimpinnya.

“Semua pasukan Bubar ! Kembali ke posisi masing-masing. Apel besar selesai!! Semua Komandan Pasukan setelah ini, kumpul di Markas Besar”

***

Di Markas besar, Jendral Tukijo marah-marah. Dia mengajak semua komandan pasukan untuk bermusyawarah. Bukan lagi tentang strategi perang. Karena akan sia-sia. Melihat jumlah pasukan yang sedikit dan tidak bersemangat. Apalagi trendnya, pasukan yang tidak bersemangat bisa mempengaruhi pasukan yang bersemangat untuk ikut-ikutan tidak bersemangat.

“Kita menyerah saja, Jendral !” Letnan Paidi memberanikan memantik.

“Bagaimana kita bisa menang melawan musuh, kalau urusan internal kita saja tidak beres? Kita terlihat gagah, tapi sebenarnya rapuh di dalam”  Letnan Saryono menguatkan argumen Letnan Paidi.

“Perang sudah tak bisa ditunda lagi. Pilihannya hanya dua. Maju atau menyerah. Maju pasti kita kalah. Kalau kalah, sudah pasti banyak korban dari kita yang berjatuhan. Namun kalau menyerah kita tinggal bayar pajak. Toh penduduk kita pada kaya-kaya.” Letnan Kartono juga sama dengan Letnan lainnya : pengecut.

“Kalian ini Letnan atau bukan si!! Harusnya kalianlah yang paling bertanggung jawab terhadap pasukan kalian sampai-sampai mereka pada kabur. Malah cari alasan lagi. Dimana harga diri kalian? Ini menyangkut kehormatan kita Bung!!” Jendral Tukijo terlihat masih bersemangat. Meski sebenarnya hatinya sudah mulai bimbang.

“Jendral, saya masih ingat dengan khotbah kemarin. Bahwa kemenangan perang Uhud yang sudah di depan mata lenyap gara-gara pasukan pemanah yang membelot. Ini, belum perang sudah pada membelot. Masih mending kalau hanya hatinya, lha ini sampai ga ikut perang, je. Bahkan bukan hanya pasukan pemanah, tapi hampir semua pasukan. Kebanyakan orang munafik di sini”. Letnan Sugeng memang pandai bersilat lidah. Orang munafik tidak akan mengaku kalau dia munafik.

Belum sempat Jendral Tukijo menanggapi Letnan Sugeng. Tiba-tiba ada seorang spy atau telik sandi yang masuk memberikan kabar penting.

“Lapor Jendral, ada kabar penting. Jumlah pasukan musuh bertambah dua kali lipat. Barusan mendapat 1000 pasukan tambahan. Jadinya 2000. Selain itu, sepertinya mereka juga tahu kondisi pasukan kita. Ada spy mereka yang juga menyusup di pasukan kita. Menyerang dengan melemahkan semangat pasukan”

Suasana hening. Pikiran Jendral Tukijo bergejolak. Apa yang musti dia lakukan? Diam-diam, dia ikut tertular, ikut terprovokasi. Semakin subur setelah dipupuk oleh pasukannya bahkan para komandan. Ia juga kembali kepikiran dengan hartanya, dengan bisnisnya.

“Saya putuskan, perang batal. Kita menyerah” Dengan berat hati, Jendral Tukijo mengucapkannya.

Serentak terdengar dari suara para komandan : “Alhamdulillah…”

Lalu para komandan itu saling berpelukan.

Jendral Tukijo meninggalkan forum, menaiki kudanya. Pergi, sambil berbisik pada dirinya sendiri.

“Kampret!!”

 

Malem Minggu
Yogya, 18-13-12, 00:32

Iklan

2 comments on “Pasukan Kampret

  1. Legend Wannabe
    18 Maret 2012

    I see what you did there 😛

  2. Pasukan Semprul!

    Jendrale ternyata juga semprul.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 Maret 2012 by in Cerita Fiksi, hikmah.
%d blogger menyukai ini: