.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Budaya “Norma”

Aku tidak ingat sepenuhnya pelajaran tentang Norma dan Nilai. Bahkan aku lupa kelas berapa pelajaran itu disampaikan. Kalau tidak salah sepertinya SMP kelas 2 mapel Kewarganegaraan. Yang masih aku ingat sampai sekarang adalah Norma ada empat : norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan, norma hukum. Itu saja. Karena itu yang menjadi soal ujian.

Berdasarkan pengamatan yang kulakukan, Tradisi bangsa Indonesia didominasi oleh budaya “norma”, bukan budaya “nilai”. Orang melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu bukan karena di dalam dirinya terdapat nilai tentang itu, melainkan karena dilihat orang lain. Bedanya nilai dan norma disitu. Nilai lebih serasa intrinsik, sementara norma lebih serasa ekstrinsik.

Seorang maling ketahuan melakukan aksinya di suatu kampung lalu dipukuli dan dihajar. Salah seorang yang ikut menghajarnya mengatakan demikian:

“Woi, maling ya maling tapi jangan di kampung kami, Kampret !!”

Si maling pun akhirnya jera, hanya saja jeranya bukan”Besok lagi aku tidak akan jadi maling lagi”, melainkan “Besok lagi harus lebih hati-hati kalau maling apalagi di kampung ini. Kalau bisa jangan di kampung ini deh”

Siswa, mahasiswa, atau siapa saja yang sedang mengerjakan soal ujian tidak menyontek karena ada peraturan dilarang menyontek. Kalau melanggar peraturan itu dan ketahuan pengawas atau terekam CC TV nilainya ga ada gunanya. Atau, dia tidak menyontek karena posisinya tepat di depan pengawas. Atau, dia malu kalau nyontek karena di sebelahnya ada pujaan hatinya. Alasannya bukan karena Menyontek itu tidak melanggar nilai Kejujuran yang harus dijunjung tinggi.

Masih ingat iklan Pajak? Iklan itu berbununyi : “Hari ini tidak bayar pajak? Apa kata dunia?”. Perilaku yang dilakukan bukan karena Prinsipnya apa, tapi berdasar pandangan dunia.

Ibu-ibu dan Bapak-Bapak menasehati anaknya, “Kalau mau melakukan sesuatu mbok dipikir dulu, ga enak dong dilihat sama tetangga kiri kanan kalau kelakuanmu seperti itu”. Pernah dinasehati seperti itu?

Parahnya sejak kecil kita seringkali didik dengan cara seperti itu. Entah oleh orang tua kita, guru kita, atau lingkungan kita. Entah kita sadari maupun tidak. Sudah saatnya kita membalikkan dominasi itu. Budaya “Nilai” haruslah lebih lebih mendominasi daripada budaya “norma”. Mulai dari diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, dan lingkungan kita.

Yogya, 16.4.2012

Iklan

One comment on “Budaya “Norma”

  1. Norma Keisya Avicenna
    7 November 2012

    hehe. nama saya “Norma” (numpang komen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16 April 2012 by in opini.
%d blogger menyukai ini: